Dialog Imajiner Covid-19

  • Whatsapp

Semalam teman saya yang sesama layouter bertutur, ketika di tengah pembahasan Covid-19, “Kejadian ini semengerikan yang ada film, ya. Dan akan selalu ada superhero di balik setiap kisah.” Ya, selera humor itu perlu diapresiasi. Barangkali dirasa ada yang benar, obrolan kita hanya bumbu makan malam.

Dialog imajiner itu secara tidak serius mengarah terhadap bagaimana film bekerja – yang ingin dihubungkan dengan pandemi ini. Di perfilman Barat, mengapa genre yang selalu naik box office adalah action dan fantasy, tentu karena konflik yang dibangun tidak akan jauh dari sosial kemanusiaan yang dibuat begitu komplek, rumit dan mustahil. Konflik semacam itu selalu menarik perhatian pecinta film.

Semakin mustahil film diproduksi, semakin memberikan nilai jual yang tinggi, seperti karya Harry Potternya J.K. Rowling, dan film Avatarnya James Cameron, yang bercerita tentang manusia yang ingin merebut sumber daya energi dari planet lain bernama Pandora itu. Ya, akibat kemustahilan itulah, film tersebut meraih keuntungan terbesar sepanjang masa, di atas angka dua miliyar dolar.

Contoh film lain dengan konflik ‘perang kemanusiaan’ adalah Avenger – dari setiap episode dan seriesnya, bahkan dari film-film yang berada di bawah keluarga besar Marvel, memuat cerita yang sungguh keren. Munculnya superhero yang seimajinatif mungkin berasal dari apapun: laba-laba, serangga, mahluk luar angkasa dan hasil kerja lab untuk ‘mengalahkan musuh-musuh’ dengan rupa dan kemampuan yang tak kalah imajinatif juga.

Karena film juga mempunyai ideologi. Dan tidak ada ideologi sekuat kemanusiaan. Tidak ada yang melebihi itu. Tidak ada yang boleh diprioritaskan di atas kemanusiaan. Tidak ada yang diprioritaskan hari ini, kecuali keselamatan manusia supaya terbebas dari pandemi Covid-19, meskipun aspek lain yang menjadi taruhannya.

Dialog imajiner kami seputar film, jika dihubungkan dengan pandemi Covid-19, tentu tidak ada artinya sama sekali. Alur cerita di film, jauh lebih mengerikan. Seperti Thanos, musuh di film Avenger: Infinity War (2018), dengan keenam batunya, ia bisa melenyapkan separuh bahkan seluruh jiwa dengan satu petikan jari. Tidak perlu isolasi atau karantina karena tidak ada gelaja demam. Ketika Thanos tidak sengaja menjentikkan jarinya, entah karena iseng atau apa, kita menjadi abu seketika. “Berarti jika ada yang menjadi abu mendadak, Thanos tidak sengaja menjentikan jarinya dari belahan dunia sana.”

Film hanyalah film. Seberapa bagus, jelek, menegangkan, menyedihkan bahkan menakutkan, ia hanya berakhir sebagai industri, hiburan dan kreativitas dunia perfilman. Tidak ada yang nyata, termasuk dramatisasi film Holywood bahkan film Indonesia pun sendiri. Karena memang tujuan setiap film untuk memberikan kesan atau pelajaran saja, seperti cerita umum pada dasarnya.

Tetapi di dunia nyata, kepahitan bisa benar-benar terjadi di depan mata.

Covid-19 tidak bisa dikaitkan dengan film. Pandemi ini tidak sebanding apabila disandangkan dengan hiburan seperti industri perfilman. Pandemi semacam ini harus disandangkan dengan sejenisnya, virus-virus sebelumnya. Seperti Sars, Mers, Ebola dan lainnya yang sama-sama memakan jiwa dalam jumlah besar. Dan seharusnya kita belajar menangani pandemi ini dari pandemi sebelum-sebelumnya.

Covid-19 pun merupakan kisah yang diharap segera berakhir. Superhero kita adalah dokter. Mereka adalah apa yang disebut sebagai ganra terdepan melawan virus hingga titik penghabisan. Semua berhutang kepada dokter-dokter bahkan yang gugur sekalipun. Ada enam dokter yang dirilis meninggal melawan Covid-19 oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tanggal 23 Maret kemarin. Sedangkan pertanggal hari ini, mereka telah berhasil menyembuhkan 75 pasien sedangkan 122 tak tertolong.

Semoga Tuhan selalu mencatat amal baik para dokter dan seluruh korban yang gugur.

Sekarang begini, dialog imajiner kami semalam, untuk sementara kami anggap serius. Ini bisa kita sebut film. Film ini bisa kita kasih nama “The End of Covid-19” Covid-19 sebagai Thanos, dan para dokter kita adalah Avengernya.

Dimana, pada akhirnya para dokter kita akan membunuh Covid-19-Covid 19 ini, dengan penuh kemenangan dan sorak sorai. Dan kita akan hidup kembali normal di bumi ini. Karena virus itu sudah sirna.

Jika secara bercanda pandemi ini dianalisis menggunakan dunia perfilman, kira-kira, “Siapakah dalang di balik Covid-19?”

Pamekasan, 31 Maret 2020

Penulis adalah Moh Faiq.
Layouter Harian Pagi Kabar Madura.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *