Dianggap Curang, Pilkades Paseseh Minta PSU

  • Whatsapp
(FOTO:KM/ISITMEWA) TERTIB: Panitia saat menggelar pemilihan kepala Desa Paseseh, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN, TANJUNG BUMI- Diduga ada DPT yang digunakan oleh warga di luar Desa Paseseh, salah satu calon kepala desa (cakades) enggan tandatangani hasil rekapitulasi pemilihan. Proses pemungutan suara Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Paseseh, Kecamatan Tanjung Bumi, Minggu, 2 Mei 2021 kemarin masih terjadi permasalahan terkait hasil rekapitulasi surat suara.

Salah satu Cakades Paseseh Moh. Mansur, tidak mau menandatangani hasil rekapitulasi. Sebab, berdasarkan temuan di lokasi tempat pemungutan suara (TPS) ada pemilih yang tidak masuk daftar pemilih tetap (DPT) namun bisa menyalurkan hak suara.

Bacaan Lainnya

“Kami sudah mengamankan pemilih yang tidak masuk DPT, kami sudah kantongi barang bukti juga,” katanya.

Kata Mansyur hasil dari verifikasi surat undangan dengan surat suara yang dicoblos tidak sinkron. Menurut dia, tindakan seperti itu telah mencederai proses pesta demokrasi di tingkat desa. Sehingga, dirinya sebagai Cakades Paseseh merasa dirugikan.

“Jadi saya dengan tim saya akan melaporkan ke tim fasilitasi pemilihan kepala desa (TFPKD) kabupaten mengenai hasil rekapitulasi yang tidak sinkron ini,” jelasnya.

Pria yang kerap disapa Mansyur itu akan meminta kepada TFPKD tingkat kabupaten, untuk memerintahkan ke panitia Pilkades Paseseh, agar melakukan pemungutan suara ulang (PSU), agar proses demokrasi di tingkat desa berjalan adil.

“Kami akan layangkan surat ke TFPKD, karena hampir 85 persen masyarakat Paseseh minta PSU,” tegasnya.

Sedangkan setelah dikonfirmasi, Ketua P2KD Desa Paseseh H. Moh. Sa’ed membantah ada penggelembungan surat suara. Menurut dia, sebelum dilakukan pemungutan, kelebihan surat suara dibakar di Kantor Kecamatan Tanjung Bumi.

“Semua kelebihan surat suara sudah dibakar di kecamatan, jadi tidak mungkin ada kecurangan semacam itu,” tuturnya.

Sedangkan berkaitan dengan pemilih yang berasal dari luar daerah. Menurutnya, calon pemilih tersebut sebenarnya masuk dalam DPT, itu disaksikan oleh dua belah pihak dari masing-masing calon. Namun, saat dikroscek pada waktu pemungutan suara, ternyata yang bersangkutan memiliki alamat Kabupaten Jember.

“Untung saat hendak mencoblos, pemilih itu sudah diamankan, tim pencacah mengira orang Bangkalan, jadi bersama saksi dua calon dimasukkan DPT,” pungkasnya. (hel/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *