Dianggarkan Rp250 Juta, Legislator Jatim: Anggaran PerdaKota Dzikir dan Sholawat Berlebihan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) MATHUR HUSYAIRI: Anggota Komisi E DPRD Jatim

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Peraturan Daerah Kabupaten Bangkalan Nomor 2 Tahun 2019 tentang Pemberian Nama Kota Dzikir dan Sholawat, menjadi sorotan anggota DPRD Jawa Timur (Jatim). Sebab, dalam pengajuan perda tersebut, menghabiskan dana sebesar Rp250 juta.

Anggota Komisi E DPRD Jatim Matur Husyairi menilai, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan belum serius menyikapi berbagai macam persoalan. Salah satunya pada pemberian nama Kota Dzikir dan Sholawat itu diperdakan.

Bacaan Lainnya

“Ini kan agak aneh, apakah nanti setiap warga di Bangkalan harus berdzikir dulu, atau bersalawat dulu,” singgungnya.

Menurut Mathur, pengajuan Perda Kota Dzikir dan Sholawat itu terlalu berlebihan. Sebab,jika diperdakan, maka didalamnya harusnya mengatur kebijakan tentang apa saja poin yang harus dilaksanakan.

“Kalau hanya perihal nama saja dan identitas, harusnya dikonsistensikan saja, saya rasa sudah cukup, tidak usah ada perda seperti itu,” terangnya.

Apalagi, dalam pengajuan dan isi perda tersebut juga tidak jelas, disana hanya mendeskripsikan nama dan penjelasan deskripsi Kota Dzikir dan Sholawat. Bahkan,pengajuan itu sampai menelan dana hingga Rp250 juta. Sedangkan izinya diperkirakan hanya sekitar enamlembar.

“Perihal seperti ini saja dananya serius, tapi kalau dana untuk yang lainnya yang lebih membutuhkan, mereka kadang sulit memberikannya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Hukum Sekretariat Kabupaten (Setkab) Bangkalan Mashudunnuri membenarkan bahwa Perda Kota Dzikir dan Sholawat memang ada, tetapi pengajuan itu sejak 2019 lalu.

“Iya ada, itu 2019 lalu, saya masih belum menjadi kabag hukum,” ulasnya.

Mashudunnuri juga mengaku tidak mengetahui betul organisasi pemerintah daerah (OPD) mana yang mengajukan. Apalagi mengenai dana yang digunakan untuk penerbitan perda tersebut.

“Saya lupa OPD mana yang mengajukan, dan juga dana yang dihabiskan, perdanya memang hanya 6 lembar,” pungkasnya. (km59/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *