oleh

Dibalik Cita-cita Ideal dan Praktik Sosial Agama di Indonesia

Agama menjadi representasi dari cinta kasih antar umat manusia. Itulah das sollen atau wajah ideal agama manusia. Contohnya seperti Islam Rahmatan Lil’alamin, Kristen dengan inti ajaran mengasihi dan mengampuni. Harapan pengikut Buddha “Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta” (semoga semua makhluk hidup berbahagia. Semboyan dari agama Hindu “moksartham jagadhita ya ca iti dharma” (agama bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan perdamaian hidup di dunia). Selain das sollen, agama juga memiliki wujud lain yaitu das sein. Maksudnya yaitu praktik kehidupan beragama di lingkungan yang menjadi tempat bagi manusia tersebut hidup, berinteraksi, dan menyesuaikan diri.

Indonesia, sebagai negara dengan realitas pluralisme agama ternyata tidak semua pemeluk agamanya mampu menghidupi das sollen dan das sein secara utuh dan integral. Berangkat dari data Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM, 2017) yang menyebutkan terus terjadi peningkatan kasus intoleransi sepanjang tahun 2014 hingga 2016. Pada tahun 2014 tercatat ada 76 kasus, tahun 2015 sebanyak 87 kasus, dan tahun 2016 sebanyak 97 kasus. Dari data tersebut semuanya merupakan kasus intoleransi atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Selain itu, SETARA Institute (2018) juga merilis hasil surveinya tentang kondisi kebebasan beragama dan berkeyakinan hingga pertengahan tahun 2018. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat 109 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang tersebar di 20 provinsi. Jika merujuk pada hasil survei kedua lembaga tersebut, dapat diketahui bahwa munculnya praksis intoleransi karena banyak orang yang keliru menjalankan orientasi keagamannya..

Allport & Ross (1967) dalam artikel ilmiahnya yang berjudul “Personal Religious Orientation and Prejudice” menyebutkan bahwa ada dua jenis orientasi keagamaan yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Pertama, orientasi keagamaan intrinsik, yaitu mengimplikasikan agama sebagai motivasi dan sumber yang memberi pengharapan dalam menjalani kehidupan. Penganutnya cenderung mendambakan kehidupan sosial beragama yang toleran, rukun, dan kooperatif. Pemeluk agama dengan jenis orientasi ini dapat memahami bahwa hidup dalam konteks pluralisme agama merupakan momentum yang tepat untuk menunjukkan cinta kasih dan keberkahan bagi sesama manusia layaknya cita-cita ideal agama.

Sebaliknya yaitu orientasi keagamaan ekstrinsik. Orientasi keagamaan ini membuat seseorang memaknai agamanya secara sempit. Praktik kehidupan beragama cenderung diwarnai dengan prasangka terhadap pemeluk agama lain. Dalam situasi terburuk, pemeluk agama dengan orientasi ekstrinsik berpotensi menjadikan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan kelompoknya (ingroup) dengan menafikkan realitas bahwa mereka hidup dalam konteks pluralisme agama. Mereka bisa jadi sangat anti terhadap kelompok lain (outgroup).

Itu semua dapat terjadi jika keagamaan ekstrinsik tersebut berjalan beriringan dengan sikap radikal-eksklusif. Wibisono & Taufik (2017) dalam artikel ilmiah mereka berjudul “Orietasi Keagamaan Ekstrinsik dan Fundamentalisme Agama Pada Mahasiswa Muslim menyebutkan bahwa perkawinan antara orientasi keagamaan ekstrinsik dengan sikap radikal-eksklusif akan memuncak pada radikalisme. Ghufron (2017) tulisannya berjudul “Radikalisme dan Politik Identitas” menyebutkan bahwa secara sosiologis terdapat tiga gejala yang dapat diidentifikasi sebagai gejala dari radikalisme.

Pertama, yaitu merespons kondisi sosial-politik maupun ekonomi dalam bentuk penolakan dan perlawanan, terutama pada aspek mendasar yaitu ideologi dan kelembagaan yang bertentangan dengan sesuatu yang sangat diyakininya. Kedua, tahap pemaksaan kehendak untuk mengubah keadaan menuju tatanan lain dengan cara pandang dan pola berpikir yang didasarkan kepada nilai-nilai atau ideologi tertentu seperti nilai-nilai atau ideologi agama. Ketiga, truth claim dengan tujuan untuk menguatkan sendi-sendi keyakinan dari kebenaran ideologi yang dianutnya, ditambah dengan sikap yang eksklusif dan mengarah pada penegasian atau penafian ideologi lain.

Para radikalis-eksklusivis ini ingin memanfaatkan agama mereka demi mencapai tujuan kelompok yaitu mendirikan negara agama. Langkah-langkah yang mereka lakukan biasanya menyusup ke dalam organisasi keagamaan atau membuat sebuah organisasi keagamaan untuk menyebarkan radikalisme. Mereka berupaya menjadikan realitas sosial-politik sesuai ideologi agama yang ditafsirkan secara literal. Azra (2011) dalam tulisannya berjudul “Akar Radikalisme Keagamaan: Peran Aparat Negara, Pemimpin Agama dan Guru untuk Kerukunan Umat Beragama” menyebutkan bahwa ajaran-ajaran tersebut dipahami secara tekstual dan diinterpretasikan dengan sangat subyektif. Tentu saja ancaman tersebut sangat berbahaya dalam realitas pluralisme agama di Indonesia.

Problematika tersebut menjadi tantangan terbesar bagi masyarakat yang hidup dalam konteks pluralisme agama. Mendorong inklusivitas dan toleransi menjadi keniscayaan guna mereduksi munculnya benih-benih orientasi keagamaan ekstrinsik hingga radikalisme. Gordon Allport (1954) melalui teori Intergroup Contact-nya menjelaskan bahwa orientasi keagamaan ekstrinsik dan sikap radikal-eksklusif bisa dilawan melalui kontak antar grup. Melakukan kontak berarti melakukan komunikasi dan interaksi dengan pemeluk agama lain. Tujuan utamanya tentu saja untuk bisa berdialog dan menciptakan iklim kesepahaman bahwa berbeda keyakinan itu tidak menjadi masalah.

Wang et al (2014) dalam artikel ilmiahnya berjudul “Perspective-Taking Increases Willingness to Engage in Intergroup Contact” menyebutkan bahwa kontak antar grup bertujuan mereduksi prasangka dan eksklusivisme. Kontak antar grup ini juga bertujuan untuk memaksimalkan terintegrasinya das sollen dan das sein agama yaitu bahwa agama memiliki cita-cita ideal untuk mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia, begitupun seharusnya pemeluk agama dapat menerapkan praksis kehidupan beragama yang toleran dan inklusif.

Praksis integroup contact dapat diterapkan untuk melawan segala bentuk radikalisme dalam keluarga, institusi pendidikan, rumah ibadah, dan organisasi keagamaan. Dalam keluarga misalnya, contoh paling nyata adalah saat perayaan hari besar agama, para orang tua dapat mengajak anak-anak mereka untuk mengunjungi umat beragama yang merayakan hari besar agamanya. Lebih lanjut, dalam institusi pendidikan dapat dilaksanakan dengan acara-acara forum kerukunan antar umat beragama dalam lingkup kampus/sekolah. Kegiatan diskusi keagamaan dan tukar pendapat dapat dilakukan untuk saling memahami antar kelompok. Selanjutnya, dalam organisasi keagamaan, misalnya Banser yang membantu menjaga keamanan saat umat Kristen merayakan Natal. Organisasi Kristen yang dapat mengambil peran untuk membantu menjaga keamanan saat umat Islam merayakan Idul Fitri atau Idul Adha.

Kemudian, di rumah ibadah contohnya gereja bisa mengundang kelompok penganut agama lain untuk hadir dalam perayaan Natal dengan mengadakan pertunjukkan wayang misalnya. Lalu, jemaat masjid juga dapat turut melibatkan jemaat gereja dalam acara-acara keagamaan seperti saat Idul Qurban bisa melibatkan jemaat gereja agar membantu membagi-bagikan daging kurban ke masyarakat. Dengan melakukan kontak antar grup maka setiap pemeluk agama yang berbeda dapat lebih mengenal karakteristik masing-masing agama. Hal itu juga semakin menegaskan bahwa memang seharusnya pemeluk agama mampu menghidupi das sollen (cita-cita ideal agama) melalui praksis kehidupan beragama (das sein) yang ideal dalam konteks pluralisme agama. Agama hadir dengan tujuan membawa kemaslahatan bagi umat manusia, demikian pula pemeluk agama juga harus hadir membawa keberkahan bagi sesamanya, terlepas dari apapun keyakinannya.

IDENTITAS DIRI

Penulis bernama lengkap Yukaristia. Lulusan S1 Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang. Penulis tiga buku dan beberapa artikel yang telah diterbitkan. Pernah magang di salah satu organisasi non profit tingkat internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yaitu Solve Education.

 

 

Komentar

News Feed