Dibangun Lima Tahun, Gedung Sentra Batik Tidak Kunjung Beroperasi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) LELET: Pembangunan gedung sentra batik di Desa Kelampar Kecamatan Proppo hingga saat ini belum rampung.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-Pembangunan gedung sentra batik yang dibangun sejak tahun 2015, hingga saat ini belum kunjung rampung. Sebab, gedung yang berlokasi di Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Pamekasanini, sudah diresmikan, namun tidak dioperasikan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan Ahmad Sjaifuddin menuturkan, pembangunan gedung itu hingga saat ini masih berlangsung dan sedang berada di tahapan pembangunan sarana penunjang, seperti pagar, plafon dan sarana penunjang lainnya.

Bacaan Lainnya

Tahapan pembangunan sarana penunjanag itu dialokasikan anggaran sebesar Rp1,4 miliar. Anggarannya menggunakan dana alokasi khusus (DAK) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pamekasan tahuan 2021.

Pada tahun 2020 lalu, pembangunan gedung tersebut mendapat alokasi anggaran dari APBN sebesar Rp4,4 miliar. Ahmad berharap pembangunan itu selesai tahun 2021 ini.

“Kami juga berharap secepatnya. Bahkan kalau bisa tahun ini selesai,” ucapnya.

Untuk pengelolaannya, diharapkan bisa diatur menggunakan peraturan daerah (perda) sebagaimana diusulkan oleh anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan sebelumnya.

Namun akanberdampak pada molornya waktu penoperasian. Karena harus melewati banyak tahapan. Sehingga Ahmad menyarankan agar diatur dengan peraturan bupati (perbup), agar lebih efisien.

“Kalau perda lama, mungkin perbup saja,” ujarnya.

Untuk soal pengelolaan itu, pihaknya masih akan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat. Sebab, gedung itu dibangun menggunakan anggaran APBN dan dibangun di atas tanah milih pemerintah desa setempat.

Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan Moh. Ali meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan segera memaksimalkan pembangunan gedung sentra batik itu, karena sudah sangat ditunggu oleh masyarakat Pamekasan terutama oleh para pengrajin dan pengusaha batik.

Sementara pengelolaan gedung sentra batik tersebut, menurutnya, memang membutuhkan peraturan. Menurutnya baik jika pengelolaannya diatur menggunakan perbup. Bahkan akan lebih baik jika diperkuat dengan peraturan daerah (perda).

“Batik di Pamekasan ini sudah menjadi symbol. Maka jika symbol ini tidak mendapat perhatian khusus, akan sangat disayangkan,” tukasnya. (ali/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *