Dibebaskan ke Setiap Sekolah, Capaian Kurikulum Jadi Semrawut

  • Whatsapp
(FOTO: KM/JAMALUDDIN) BIKIN BINGUNG: Dewan Pendidikan Sampangmenilai Disdik terkesan tidak mempunyai tanggung jawab lantaran membebaskan penerapan kurikulum sesuai kemampuan sekolah.

Kabarmadura.id/SAMPANG-Tatakelola pembelajaran secara daring yang dipasrahkan ke setiap lembaga pendidikan, mengakibatkan kurikulum tidak berjalan normal. Bahkan, Dewan Pendidikan (DP) Sampang menilai, pemasrahan semacam itu membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang terkesan tidak mempunyai tanggung jawab

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SD Disdik Sampang Achmad Mawardi membenarkan bahwa target kurikulum pendidikan dipasrahkan ke sekolah. Hal itu juga diklaim atas arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bahwa tidak wajib menyelesaikan semua target kurikulum.

Bacaan Lainnya

Dengan tidak adanya kewajiban itu, sehingga dari lima kompetensi dasar (KD) di semester ganjil yang harus dituntaskan, dibebaskan sesuai kemampuan guru untuk memilih yang menurutnya penting dan lebih esensial untuk diterapkan.

Mengenai sistem penilaiannya, guru bisa mengetahui saat ada ujian, karena tidak mungkin bisa seperti pada kondisi normal.

“Karena KBM nya tidak bisa tatap muka, misalnya cukup tiga atau dua juga tidak apa-apa. Tapi jika tidak ada sama sekali, itu yang bermasalah,” ungkapnya, Selasa (11/8/2020).

Sementara menurut anggota Dewan Pendidikan (DP) Sampang Zainuddin, Disdik Sampang tidak pantas jika langsung memasrahkan ke pihak sekolah atau guru. Menurutnya  perlu pengkajian, karena fungsi Disdik untuk mengatur dan mengelola pendidikan di Sampang.

“Disdik itu seharusnya membuat pola yang diterapkan sekolah-sekolah, kalau misalkan ada pengecualian seperti sekolah di pelosok, dibuat perlakuan khusus,” ujar Zainuddin.

Sebab dia khawatir, jika sekolah menerapkan kurikulum sendiri, justru semakin kebingungan, sehingga dalam penerapannya hanya sebagai formalitas saja.

“Yang saya hawatirkan itu nanti sekolah juga bingung, mana yang lebih penting dan esensial dari 5 KD. Karena merasa bingung akhirnya diterpakanlah meski dengan formalitas, intinya ngajar,” pungkasnya. (mal/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *