Didemo PMII, Anggap Keberadaan PT Garam Tanpa Guna

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) KOMPAK: Mahasiswa yang tergabung dalam PMII Sumenep menyampaikan sejumlah tuntutan ke PT Garam Sumenep atas masalah yang selama ini dihadapi petambak.

KABARMADURA.ID | SUMENEP-Dinilai tidak mempunyai kontribusi, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep mendemo PT Garam, Rabu (10/11/2021).

Aksi unjuk rasa yang digelar di kantor PT Garam di Kalianget, Sumenep tersebut, dipicu masalah yang selama ini dialami petambak garam, yakni rendahnya harga dan kecilnya serapan pabrikan.

Bacaan Lainnya

Dalam orasinya, Ketua PMII Sumenep Qudsiyanto menyampaikan, sejak 2019 hingga 2021, PT Garam terkesan mandul. Keberadaannya dianggap tidak menjadi solusi atas  masalah petani garam di kabupaten dengan akronim Kota Keris ini.

“Sesuai dengan data yang kami himpun, PT Garam hanya menyerap 40 persen. Sedangkan 60 persen garam rakyat tidak terserap. Padahal seharusnya PT Garam mampu menjadi solusi, karena PT Garam adalah perusahaan nasional, bukan lokal,” katanya, Rabu (10/12/2021).

Mereka menuntut PT Garam meningkatkan kualitas garam dengan cara menjadi mitra petambak garam lokal di Sumenep. Alasannya, sebagai salah satu badan usaha milik negara (BUMN), harus memberikan solusi soal harga yang mencekik para petambak garam.

Selain itu, PT Garam dituntut mengoptimalkan serapan garam hasil produksi petambak garam lokal sebelum menyerap garam impor.

“PT Garam di Sumenep ini justru tidak mampu memberikan solusi pada petani garam. Kami menduga ada konspirasi. Ada data yang ditutupi. PT Garam hanya ingin mengeruk kekayaan alam,” jelas Qudsiyanto.

Mahasiswa  juga menuntut PT Garam membantu meningkatkan kualitas garam rakyat. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan tidak menyerap garam rakyat karena kualitas.

“Harusnya PT Garam ini menjadikan petani garam sebagai partner. Bukan malah seenaknya. Kabarnya, di tahun 2020, serapan garam rakyat yang dilakukan PT Garam ini nol,” ucapnya.

Aksi teatrikal juga mewarnai penyampaian aspirasi petambak garam rakyat itu. Mahasiswa mengekspresikannya dengan tidur di jalan dan ditaburi garam. Aksi itu disebut menyimbolkan matinya hati nurani PT Garam. Selain itu, mahasiswa juga melakukan aksi membakar ban di tengah jalan.

Sementara itu, Sekretaris PT Garam Sumenep Indra Kurniawan mengaku tidak dapat berbuat banyak, bahkan meminta saran mahasiswa untuk mengatasi persoalan yang sudah klasik itu.

“Mari kita bersama-sama mencari solusi terhadap persoalan ini,” begitu tanggapan Indra mengenai tuntutan mahasiswa.

Reporter: Moh Razin

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *