Diduga Terlibat Terorisme, Oknum Kepala Sekolah Masih Terima Gaji

Uncategorized12 Dilihat

KABARMADURA.ID | SUMENEP-Oknum kepala sekolah di SDN Kecamatan Manding, Sumenep, ditangkap Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri. Saat ini, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Sumenep masih memberhentikan sementara yang bersangkutan.

 

Kepala BKPSDM Sumenep Abd Madjid mengaku sudah menerima laporan untuk kasus dugaan oknum kepala sekolah yang diduga terlibat dalam kasus teroris. Selain pemberhentian sementara, gajinya juga dipangkas, namun hanya separuhnya.

 

Menurut mantan kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Sumenep itu, seluruh aparatur sipil negara (ASN) di Sumenep harus bersih dari keterlibatan terorisme.

 

“Kami berhentikan sementara yang bersangkutan. Gajinya kami potong 50 persen,” katanya, Rabu (2/11/2022).

 

Diketahui, pada Jumat (28/9) terjadi penangkapan tiga warga Sumenep yang diduga terlibat jaringan terorisme, salah satunya adalah seorang guru di lingkungan Disdik Sumenep.

 

“Pasti dipecat kalau sudah masuk jaringan teroris, tidak ada toleransi,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep Agus Dwi Saputra.

Baca Juga :  Mengenal Lebih Dekat Kiprah Teater Sanggar Ati, Lestarikan Kesenian Lokal, Berdayakan Kaum Muda

 

Tetapi Disdik Sumenep belum memberikan sanksi kepada oknum kepala sekolah tersebut. Alasannya, belum ada laporan secara tertulis, baik dari sekolah maupun pengawas pendidikan yang berada di bawah naungannya.

 

Namun dia sudah mendatangi sekolah yang dimaksud di hari yang sama usai penangkapan. Dari situ Agus mendapat laporan lisan bahwa oknum kepala sekolahnya ditangkap Densus 88.

 

Saat ini, pembelajaran di sekolah tersebut, dipastikan Agus, tetap berjalan seperti biasanya.

 

“Kami bakal memprosesnya nanti kalau sudah terbukti. Tidak hanya itu, yang terlibat dalam dunia teroris dan itu guru-guru yang binaan kami, pasti dipecat,” imbuhnya.

 

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Sumenep Sami’oeddin mengatakan, jangan sampai memberikan ruang kepada masyarakat, apalagi seorang guru, maka geraknya harus diawasi secara ketat.

 

“Harus di-blacklist nanti dari dunia pendidikan, jangan berikan peran kalau seumpana nanti balik ke Sumenep,” papar Sami’oeddin.

Baca Juga :  Dari Semalam di Madura ke Malam Kemilau Madura, Ini Maknanya pada Harjad Pamekasan ke-492

 

Reporter: Moh. Razin

 

Redaktur: Wawan A. Husna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *