Diimbau Ikut Tangani Pasien Covid-19, RS Swasta Beri Imbauan Balik

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) HANYA IMBAUAN: Tiga rumah sakit swasta diimbau untuk membuka ruang isolasi khusus pasien Covid-19, hanya satu yang mengonfirmasi.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-Desakan dari sejumlah pihak agar rumah sakit swasta di Pamekasan ikut andil dalam menangani wabah Covid-19 mulai ada hasil. Setelah Satgas Penanganan Covid-19 Pamekasan berkoordinasi dengan beberapa stakeholder, akhirnya satu rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Asyifa bersedia membuka ruang isolasi khusus pasien Covid-19.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Syaifuddin, pihaknya telah mengimbau tiga rumah sakit swasta untuk menyediakan ruang isolasi. Namun, hanya Rumah Sakit Asyifa yang bersedia. Sementara satu rumah sakit lainnya keberatan karena keterbatasan lahan, fasilitas dan sarana prasarana.

Bacaan Lainnya

Satu rumah sakit lainnya tidak memberikan jawaban atas imbauan tersebut. Bahkan, rumah sakit tersebut justru menyarankan agar rumah sakit yang selama ini menjadi rujukan pasien Covid-19 untuk dimaksimalkan, yaitu Rumah Umum Daerah (RSUD) dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart), RSUD Waru dan RSU Mohammad Noer.

Pihaknya mengaku tidak bisa menekan rumah sakit swasta agar menjalankan imbauannya, karena kewenangannya hanya bersifat imbauan. Namun pihaknya tidak mengimbau Rumah Sakit Mukti Husada, karena telah diketahui di sana mengalami keterbatasan, baik fasilitas maupun tenaga kesehatan (nakes).

“Secara birokrasi kami sudah lakukan itu. Sekarang tinggal publik yang mendorong agar mereka bersedia,” ucap Syaifuddin.

Dijelaskannya, imbauan tersebut berdasar pada Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 11 Tahun 2001 tentang Imbauan Keterlibatan Rumah Sakit Swasta dalam Tata Kelola Pasien Covid-19 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perumahsakitan. PP ini merupakan turunan dari omnibus law.

“Bahwa setiap rumah sakit harus menyediakan ruang isolasi minimal 10 persen. Pada saat wabah dapat dikonversi sampai 30 persen,” jelas Syaifuddin.

Aturan tersebut harus dipenuhi oleh seluruh rumah sakit hingga Januari tahun 2023. Sehingga setiap rumah sakit masih memiliki waktu memenuhinya selama dua tahun. Syaifuddin menegaskan, jika sampai Januari 2023 rumah sakit swasta belum bisa membuka ruang isolasi, maka izin operasionalnya akan dicabut.

“Kalau sampai 2023 tidak ada, izinnya tidak akan keluar. Kami tidak mau mengeluarkan rekomendasi. Karena tidak memenuhi syarat,” tegas Syaifuddin.

Sementara itu, anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Wardatus Sarifah mengaku akan terus mengawal kebijakan tersebut hingga seluruh masyarakat benar-benar menerima pelayanan kesehatan yang optimal. Setidaknya, dengan menyiagakan rumah sakit swasta atau puskesmas, agar rumah sakit yang selama ini jadi rujukan tidak overload.

Namun menurut politisi Partai Nasdem itu, seluruh rumah sakit swasta harus mengikuti imbauan pemerintah tanpa terkecuali. Sebab, dia menilai, beberapa rumah sakit swasta lain justru lebih besar dari Rumah Sakit Asyifa. Wanita yang akrab disapa Wardah itu menyarankan agar Dinkes Pamekasan ikut membantu rumah sakit swasta menyediakan fasilitas yang terbatas.

“Atau mungkin, kewajiban CSR yang biasanya diperuntukkan untuk masyarakat sekitar dialokasikan untuk penyediaan faskes,” ujarnya. (ali/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *