Dilema Buruh Perempuan terhadap Pendidikan Anak

Opini85 views

Oleh: Jauharotul Makniyah*)

Pernahkah membayangkan seorang anak tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu, baik berhalangan tetap atau karena si ibu memilih untuk menjadi buruh? Jika ibu tidak ada karena faktor takdir, tentu lain cerita. Tetapi bila ibu tidak selalu hadir di dekat anak karena bekerja sebagai buruh, inilah fatsunnya yang menjadi bahasan dalam diskursus ini.

Di Kabupaten Sumenep, terdapat ratusan buruh perempuan, kaum ibu, yang bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik rokok lokal. Mereka berangkat pagi, dari rumahnya, sekitar pukul 05.00 WIB. Adakalanya, para ibu ini beranjak dari rumahnya pada saat anaknya belum bangun, dari tidur. Sehingga, kaum ibu yang memilih berkhidmat di sektor ini memasrahkan kepada yang ada di rumah. Di antaranya, suami, atau ayah dari anak itu atau nenek yang ada di rumah, yang berteduh di rumah yang sama.

Tetapi dalam narasi pendidikan, ibu lah yang secara de facto menjadi pintu utama pendidikan, yang dalam Bahasa Arab disebut dengan madrasatul ula (sekolah pertama).  Inilah yang menjadi konsen dalam riset saya, Pendidikan Islam di Keluarga Buruh; Studi Fenomenologi pada Keluarga Buruh Rokok Perempuan di Sumenep terkait dengan tugas akhir studi S3 (PAI) di Universitas Muhammadiyah Malang.

Menjadi perempuan, menjadi seorang ibu, menjadi perempuan dan seorang ibu yang bekerja sebagai buruh (studi kasus yang bekerja di pabrik rokok), tidak sederhana karena terlihat mendapat upah, memperoleh uang dari pekerjaan yang ditekuninya. Ada banyak dilema yang dirasakan seorang ibu.

Pertama, seorang ibu memiliki pikiran yang rumit karena harus meninggalkan anak di rumah bahkan saat si anak belum bangun dari tidurnya. Kedua, ibu memiliki insting yang sangat kuat dibanding seorang ayah. Bahkan, saat anak berada dalam situasi yang membahayakan anaknya, insting ibu muncul ke permukaan.

Ketiga, ibu mengalami kecemasan pada soal masa depan pendidikan anak, terutama menyangkut soal pendidikan. Keempat, setiap ibu (orang tua), pasti menginginkan anaknya menjadi orang baik, anak salih, yang setia berdoa untuk orang tuanya baik pada saat orang tua masih hidup, terlebih setelah meninggal dunia.

Dalam suasana batin itulah, orang tua, ibu memikirkan banyak hal, terutama saat kondisi ekonomi di keluarganya tidak jauh lebih dari cukup–untuk tidak menyebutnya kurang. Apabila seorang istri memiliki suami yang bekerja sebagai buruh rendah (penghasilan), tentu saja, istri sebagai bagian dari keluarga terpanggil untuk memenuhi kebutuhan hidup. Misalnya, untuk sekedar menambah penghasilan dalam pemenuhan pengadaan kebutuhan sembako, yang harus ada.

Baca Juga:  Mencari Hiburan Berkualitas 

Sebagai contoh, jika suami hanya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp50.000,- dari sekitar pukul 08.00 – 12.00 (sabedduk), tentu saja pendapatan ini terasa belum cukup. Misalnya, harga beras per kilogram sebesar Rp15.000, gas elpiji Rp16.000, minyak kelapa Rp15.000/liter, sabun, listrik, sayur-mayur, lauk-pauk, uang sangu anak ke sekolah, dan sejenisnya, maka pendapatan itu sangat kecil, dibanding kebutuhannya.

Sementara itu, dalam konsep manajemen keuangan, pendapatan itu dibagi tiga. Pertama, pendapatan dialokasikan untuk belanja rutin. Kedua, untuk saving (tabungan), dan ketiga, belanja untuk cadangan dalam merawat kesehatan (post major).

Dalam suasana ekonomi seperti itu, dalam kehidupan keluarga yang juga seperti itu, dengan berat hati ibu yang masih produktif ini menyediakan atau merelakan waktu bersama keluarga terpenggal untuk menopang keberlangsungan hidup. Ada dua hal yang membuat seorang ibu teriris hatinya dalam kenyataan ini. Pertama, meninggalkan anak untuk sementara waktu, yang pada saat yang sama, peluang untuk memberikan pendidikan dari madrasatul ula ke anak tergantikan perannya kepada orang lain.

Sebagaimana peran pengganti, orang lain, sebaik apa pun tidak akan pernah sama pelayanannya kepada anaknya sendiri. Tetapi, mereka tidak memiliki pilihan yang lebih baik karena dia harus berdamai dengan kenyataan ini. Kedua, seorang ibu, ruangnya terbatas dalam memberikan pembelajaran kepada anaknya. Ibu, adalah sosok yang paling tahu atas kelebihan dan kelemahan anaknya. Ibu, paling memahami dengan konsep pembelajaran model apa transferring knowledge kepada anaknya. Di situlah kecamuk ibu ketika pilihan hidup yang dihadapinya tidak banyak menyajikan varian.

Jika dihitung jumlah jam yang kurang antara ibu dan anak dalam menunaikan tugas sebagai buruh di pabrik rokok lokal, hampir separuh waktunya habis di luar. Misalnya, ibu keluar dari rumah pada saat jam menunjukkan pukul 05.00 WIB, menunggu angkutan umum lewat, tiba di tempat kerja, dan pulang lagi ke rumahnya, bagi yang berjarak 30 km-40 km, maka baru sekitar pukul 17.00 WIB baru tiba di rumahnya kembali.

Di rumah, menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari memasak, menyapu, mengepel, mencuci, menyetrika, dan beres-beres rumah. Di sela-sela itu, ibu ini baru bisa berkomunikasi secara fokus bagi anggota keluarga lainnya, baik suami atau anak, yang menjadi telusur studi kasus dalam diskursus ini. Sebagai manusia biasa, ibu butuh tidur kurang lebih selama 8 jam. Sisa waktu efektif setelah digunakan untuk istirahat, maka tersisa 6 jam. Dari yang 6 jam tersebut terpotong lagi untuk memasak, mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika, dan sejenisnya. Maka, pertanyaannya, berapa sisa jam bagi si ibu untuk mengurus dan mendidik anak, terutama soal agama (Islam)?

Baca Juga:  Menangkal Korupsi Sejak Dini

Tawaran Solusi

Saat problematika seorang ibu seperti itu adanya, diperlukan uluran banyak pihak untuk memahami situasi ini. Posisi perempuan harus dipahami yang bertugas dalam peran ganda. Satu sisi berfungsi sebagai seorang ibu yang bertugas membesarkan dan mendidik anak-anaknya, pada sisi yang lainnya juga harus berperan sebagai pencari (tambahan) nafkah di tengah keluarga.

Maka demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan terutama menanamkan nilai-nilai Pendidikan Islam di tengah keluarga, butuh peran ganda juga para pihak di dalam keluarga. Misalnya, anggota keluarga yang lain perlu berbagi perhatian demi kebaikan seluruh anggota keluarga terutama dalam hal ini pendidikan anak. Khususnya, mengenai bimbingan orang tua kepada anak berkaitan dengan hablun minannas dan hablun minallah. Begitu juga terkait dengan tata krama dan akhlaqul karimah kaitan dengan vertikal dan horizontal itu, ubudiyah dan ibadiyah.

Saat RA Kartini menulis buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, harapan besar bagi kaum perempuan untuk menempa dunia domestik muncul ke permukaan. Ada gelagat emansipatoris dari perempuan untuk juga ikut aktif. Semangat Kartini adalah semangat kemitraan yang melibatkan banyak pihak yang mengharuskan para pihak tersebut untuk bekerja sama, baik di sektor domestik maupun di ranah publik. Dalam hal menyelamatkan pendidikan, para anggota keluarga memiliki kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama menyangkut nilai Pendidikan Agama (Islam).

Sebagai epilog dalam narasi ini, bermaksud memberi penyadaran terhadap beberapa hal. Pertama, betapa pentingnya kehadiran ibu dalam keluarga yang lebih memahami anak sebagaimana posisinya sebagai ibu pada satu sisi, dan sebagai penopang ekonomi rumah tangga di sisi yang lain. Kedua, ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya, karena ibulah yang paling mengerti potensi, kelebihan maupun kelemahan anak. Ketiga, perlu adanya kesadaran bagi para pihak, bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang urgent pada anak dan masa depan peradaban dalam berbangsa, bernegara dan tak terkecuali, beragama.

*) Kandidat Doktor di Universitas Muhammadiyah Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *