oleh

Dimensi Sains Sagan

Khoirul Muttaqin, Mahasiswa Universitas Negeri Malang.

Orang-orang yang mengikuti seri buku sains terbitan Kepustakaam Populer Gramedia (KPG), akan selalu merasakan ada suasana semacam renaisans yang sengaja diusung oleh KPG ke benak pembaca Indonesia. Suasana itu kadang disampaikan dengan kemarahan Jared Diamond, kenyinyiran Richard Dawkins, atau bahkan kekonyolan Neil Tyson (saya yakin ini bukan ulah penerjemah). Tapi gaya penulisan yang mencerahkan dan paling saya sukai adalah gaya penulisan Carl Sagan. Entah dia dapatkan dari mana kesabaran semacam itu belum saya temukan di “pendeta sains” manapun. Buku Carl Sagan memang terlampau banyak. Namun, buku yang saya anggap paling menggambarkan gaya bertutur yang harus ditiru oleh intelektual manapun yang mau membenahi masyarakat, adalah bukunya yang berjudul ‘Sains Penerang Kegelapan’.

Buku setebal 500 halaman ini tidak akan saya ulas dengan kata-kata runtut dan rijit, seperti yang biasa dilakukan Brian Royz. Intinya, buku ini tidak akan mengguncang pikiran Anda dengan radikal. Jika ada analogi yang pas, mungkin buku ini seperti saat di mana kita sedang diajak oleh seorang Paman yang ilmuan sekaligus profesor ke perpustakaan, kemudian dia mulai menjelaskan buku-buku hebat kepada Anda, dan tak lupa dia membelikan Anda es cream atau permen. Namun setelah itu semua, anda tumbuh dan besar, namun Anda tidak lupa dgn pelajaran dari paman Anda itu. Selanjutnya, Anda tidak sadar, ternyata Anda sudah memiliki pola pikir yang kokoh, tenang dan sabar untuk menguji setiap argumen dan arogansi pseudo apapun di sekitar Anda. Kemudian, dengan rakus, Anda berkembang menjadi manusia yg haus dan menuntut bukti dari segala hal yang mapan dan dipercayai banyak orang.

Sagan, astaga, namanya saja sudah memiliki konotasi kosmik dan semesta. Ya, Sagan adalah seorang… penghayat semesta, bintang, asteroid, gerhana, planet, big bang, dan semua benda-benda besar lainnya yang ada di luar angkasa. Benda-benda besar yang dahulu sekali -dengan narsisnya- kita anggap berpengaruh ke kehidupan kita (manusia). Tapi bedanya, Sagan tidak menghayati benda-benda besar itu dengan ilmu nujum yg genit, atau (agar terkesan ilmiah). Menurut Sagan C (2018) tidak dengan keluguan yang dibuat-buat, melainkan menggunakan sains. Sains itulah yang dalam bukunya, dia kisahkan dengan kalem, seperti: perjumpaan awalnya dengan sains di keluarganya; saat dia dikecewakan oleh pendidikan Amerika yg buta sains; ketika dia di Universitas dan terpukau dengan sains. Berangkat dari kisah ketika masa kecilnya itulah, kemudian dia mengkisahkan perjalanan sains yang dahulu dihina sampai masa kejayaannya ketika renesains dan sampai sekarang.

Hmm, begini, mungkin beberapa dari Anda, pada awalnya, akan menganggap buku ini terlalu personal. Tapi justru cara penuturannya yang bagai buku harian itulah saya anggap sebagai pencapaian dari buku ini. Sagan memposisikan kita sebagai manusia yang cukup rendah hati untuk diajaknya membedah pseudo-sains yang pernah hadir di sepanjang sejarah peradaban manusia, kemudian dia akan mengajak kita untuk -dengan kalem- menghabisi argumen-argumen konyol itu dengan lembut.

Di bab-bab awal, Sagan akan menyuguhkan beberapa pseudo-sains yang sempat membuat pemikiran manusia penuh kabut dan menjadi brutal. Seperti pemburuan nenek sihir sampai ke kultus pemerhati alien yg semi skizofrenik dewasa ini. Tapi, lebih daripada menyuguhkan segala kekonyolan itu, Sagan masih sempat menyisipkan uraian-uraian saintifik yang sederhana, yang apabila dilihat dari sudut pandang manapun akan membuat kita berpikir bahwa: kebenaran selalu mengandung bukti dan selalu dapat dijelaskan dengan sederhana.

Elegansi pembuktian sains itulah yang saya kira mampu membuat pembaca memahami, bahwa Sagan, diam-diam mendidik kita: bahwa sains tidak berorientasi untuk mengejar kebenaran, melainkan bukti, dan bukti tidak perlu dijunjung tinggi (dipuja-puji). Secara praktis, Sagan bahkan mengajari pembaca, untuk mengganti pemujaan terhadap bukti dengan berusaha sekeras mungkin agar dapat membatalkan/membantah/menggugurkan/yang penting ada buktinya, fakta sains yg sudah mapan.

Untuk penutup tulisan ini, saya tidak akan menyarankan buku ini dengan slogan semacam “buku ini wajib dibaca semua orang”. Jelasnya, buku ini tidak usah dibaca, apalagi jika harus membeli, tentu mahal, karena memang menghayati sesuatu yang di luar bukti itu menyenangkan dan menenangkan, bukan? Selamat ‘di rumah saja!’

Penulis: Carl Sagan

Judul Buku: The Demon-Haunted World: Sains Penerang Kegelapan

Penerjemah: Damaring Tyas Wulandari Palar

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Terbit: 2018

Tebal: xvi + 512 halaman

ISBN: 978-602-481-043-6

 

Komentar

News Feed