Diminta Telaten, Aparatur Desa Batuputih Laok Lepas Relawan Pokja SDGs

  • Whatsapp

KABARMADURA.ID | SUMENEP – Aparatur Desa Batuputih Laok Kecamatan Batuputih, kembali melepas kelompok kerja (pokja) relawan pendataan desa Sustainable Development Goals (SDGs), Jumat (25/6/2021).

Sebelum dilepas, relawan pendataan desa SDGs mendapatkan fasilitas berupa sosialisasi dalam rangka mendapatkan hasil valid dari pemutakhiran data, mengondusifkan, dan reflek terhadap program-program positif yang dianjurkan pemerintah baik daerah maupun pusat.

Bacaan Lainnya

Kepala Desa Batuputih Laok Hasan mengaku, relawan pokja seringkali mendapatkan kendala di lapangan. Kendati demikian, pihaknya meminta supaya tetap berpijak terhadap aturan yang ada.

“Kami meminta kesiapannya untuk bekerja. Mengapa kami tegaskan? Khawatir mereka tidak jalan sungguhan; hanya duduk di satu rumah tapi menyelesaikan 5 sampai 6 kepala keluarga (KK). Nanti kan hasilnya bisa tidak valid,” katanya, Jumat (25/6/2021).

Sebagai bentuk keberhasilan pendampingan, Hasan berharap pemetaan antara kondisi masyarakat miskin, berkecukupan, dan kaya hasil pemutakhirannya sesuai fakta di lapangan.

Sebelum dilepas, para relawan pokja SDGs mengikuti beberapa tahapan. Di antaranya, sosialisasi, musyawarah desa (musdes) pembentukan, serta pembekalan.

Pokja SDGS diketuai langsung oleh para aparatur desa, dan Kasi Pemerintahan Kecamatan Batuputih sebagai sekretaris, membawahi beberapa enumerator yang bertugas menyampaikan kuisioner pada level rukun tetangga (RT), keluarga, dan individu.

“Kami tahu kondisi di lapangan; selain jarak tempuh yang jauh antar rumah warga, sekarang kebetulan musim tani sehingga masyarakat jarang ada di rumah,” imbuhnya.

Pria yang dikenal tegas itu menambahkan, untuk program SDGs merupakan rekomendasi dari kementerian desa, guna mengefektifkan penggunan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes). Misalnya, membantu pengelolaan pengembangan potensi desa, menuju desa mandiri. Selain itu bertujuan agar desa bebas kemiskinan, kelaparan, dan aman Covid-19.

Artinya, program-program pembangunan berkelanjutan itu yang sebelumnya dibiayai pemerintah pusat melalui dana desa (DD) itu, mempunyai fungsi berkepanjangan dalam mendongkrak kesejahteraan masyarakat dan pendapatan keuangan desa atau biasa dikenal PADes.

“Sehingga kami melibatkan masyarakat di setiap dusun, terutama perempuan. Kami berikan pemahaman agar pendataan atau SDGs segera selesai sesuai target kami,” tuturnya.

Salah satu perwakilan pokja Rifqiyatul Fitriyah menceritakan, teknis di lapangan harus banyak menguras kesabaran, meski sudah mencapai sekitar 50 persen.

“Kami secara pribadi siap, meski setiap datang ke rumah warga harus bolak-balik. Bahkan sampai tiga kali, karena kadang orangnya itu bertani. Sekarang musim tembakau; pagi nyiram, sorenya juga. Malamnya mereka sudah istirahat,” ungkapnya. (ara/ong/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *