oleh

Dinas Pengairan Kabupaten Sumenep Dituding Abaikan Normalisasi Sungai

KABARMADURA.ID, Sumenep – Keseriusan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep untuk mengantisipasi terjadinya banjir di musim penghujan perlu dipertanyakan. Pasalnya, keberadaan dua sungai pemicu banjir terkesan terabaikan. Dua sungai tersebut yakni, Kalianjuk dan Sarokah, Kecamatan Saronggi.

Normalisasi di dua sungai tersebut nyaris tidak pernah dilakukan. Padahal, setiap tahun luapan sungai tersebut mengakibatkan genangan air. Hal ini diungkapkan, Anggota Komisi III DPRD Sumenep Ahmad Zainurrahman, Selasa (06/10/2020).

menurutnya, dua titik itu merupakan titik penampungan air di Sumenep. Sehingga, pada saat hujan mengakibatkan debit air tinggi hingga meluap. Kondisi sungai perlu normalisasi dan pelebaran sebagai antisipasi terjadinya banjir.

“Jika setiap tahun dilakukan pelebaran sungai maka Air tidak pernah meluber,” optimisnya.

Apalagi, kata Ahmad Zainurrahman musim hujan akan segera tiba, jika tidak diantisipasi secepat mungkin, akan berakibat fatal. Seperti tahun sebelumnya, terjadi genangan air yang masuk ke rumah warga setempat.

Sebab sedimen di permukaan sungai tinggi. Sehingga perlu dilakukan pengerukan setiap 3 hari. “Jangan hanya satu minggu, 3 hari harus di kroscek. Jika sidemen sudah tinggi. Maka harus dilakukan pengerukan dan pemeliharaan,” tukas dia.

Dia menilai, dangkalnya sungai-sungai di Sumenep disebabkan minimnya upaya pengerukan. Seharusnya, menurut Politisi kepulauan itu, normalisasi sungai menjadi tanggung jawab Dinas Pengairan dan dan Dinas Cipta Karya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (SDA) Sumenep, Chainur Rasyid, melalui Kepala Bidang (Kabid) Waduk Sungai Pantai, Noer Lisal Ambiyah mengakui bahwa sungai merupakan pemicu terjadinya banjir atau genangan.

Namun pihaknya membantah jika lengah dalam hal  normalisasi sungai. Sebab instansinya secara optimal bahkan dalam setiap tahun melakukan normalisasi sungai. “Sungai Sarokah dan Kalianjuk, keduanya sangat berpotensi banjir termasuk sedimennya tinggi,” responnya

Dia menegaskan antisipasi banjir yang dilakukan sudah menelan Rp 4,5 miliar untuk sungai kalianjuk dan Kalipatrean serta Sungai sarokah.  “Usaha kami terus dilakukan dalam mengantisipasi banjir atau genangan,” tukasnya.

Senada diungkapkan Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman (DPRKP) dan Cipta Karya Mohammad Jakfar melalui Kepala bidang (Kabid) Penataan Bangunan dan Lingkungan Hery Gushendrawan.

Menurutnya, genangan air atau banjir terjadi lantaran semua aliran sungai. Seperti yang terjadi di Jalan Kartini, Imam Bonjol, dan giling, semuanya aliran masuk pada Kali Marengan. “Hal ini tentu perlu dievaluasi bersama, dan akan melakukan terobosan-terobosan baru, agar di sungai tidak banyak airnya,” tukas dia. (imd/ito)

Komentar

News Feed