Dinkes Pamekasan Kewalahan Bendung Stunting

  • Whatsapp
(FOTO: KM/KHOYRUL UMAM SYARIF) MENINGKAT: Prevalensi stunting di Kabupaten Pamekasan sulit terprediksi.

KABARMADURA.ID, Pamekasan -Data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan menunjukkan lokus stunting meningkat. Pada  tahun 2019 lalu terdapat 10 desa sebagai penyumbang stunting. Sedangkan pada tahun 2020 ini menjadi 11 desa. Tetapi dari tingkat prevalensinya untuk tahun 2019 berada di 27,67 persen. Kemudian di tahun  2020 per bulan Agustus berada di 17,75 persen.

Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Keluarga dan Gizi (KGN) Dinkes Pamekasan  Zaitun Ernawati, mengatakan penekanan untuk angka stunting optimal dilakukan. Sebab selain melakukan sosialisasi, dan pendampingan, juga mengkampanyekan kepada masyarakat agar kebutuhan gizi bisa terpenuhi, utamanya bagi ibu hamil dan bayi.

Bacaan Lainnya

“Untuk mencegah terjadinya stunting bertambah, harus dari awal kehamilan, atau dari calon pengantin,”ungkapnya, Rabu (21/10/2020).

Adapun puluhan desa yang menyumbang lokus stunting pada tahun 2019. Masing-masing, Desa Jarin, Durbuk, Candi Burung, Campor, Pangbatok, Banyupelle, Rek Kerek, angsanah, dan Panaan. Sedangkan untuk tahun 2020 berada di Desa Larangan Slampar, Terrak, Larangan Dalam, Kowel, Nyalabu Daya, Candi Burung, Banyupelle, Rombuh,  Bangkes, Waru Timur, dan Tlontoh Rajah.

Dijelaskannya, untuk tahun 2020 dari 11 desa tertinggi prevalensi stuntingnya berada di Desa  Bangkes dengan prevalensi 38,65 persen dari 401 balita yang ditimbang, dan diukur. Sedangkan terendah di Desa Banyupelle, berada di 1.36 persen dari 738 balita yang ditimbang. “Penyebabnya dari pola makan, karena makanannya tidak seimbang, atau tidak mencukupi gizi yang diperlukan,”pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Pamekasan Muksin menyampaikan, untuk menekan lokus stunting, harus ditingkatkan di masing-masing puskesmas. Terutama dari sisi pendataan pemberian gizi kepada masyarakat. Berdasar laporan dari masyarakat masih banyak yang kurang sadar akan pentingnya menjaga ketercukupan gizi.

“Karenanya perlu kecekatan dari eksekutif untuk pemerataan pemahaman tentang penyebab terjadinya stunting. Jadi saya berharap ada keseriusan untuk lokus stunting bisa ditekan,” tukasnya. (rul/ito)

Prevalensi Stunting

Tahun 2018         27,67% dengan jumlah balita 11.829

Tahun 2019         17,75% dengan jumlah balita 10.805

Tahun 2020         18,04% dengan jumlah balita 9.831

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *