oleh

Dinkes Pamekasan Tegaskan Rapid Test Tidak untuk Sembarang Kepentingan

Kabarmadura.id/PAMEKASANTarif biaya rapid test mandiri yang tergolong mahal dikeluhkan oleh masyarakat. Sejumlah rumah sakit di Pamekasan, utamanya swasta, menerima pelayanan rapid test mandiri dengan tarif beragam.

Menurut Ketua Forum Kota (Forkot) Pamekasan Syamsul Arifin, tingginya tarif rapid test tidak sesuai dengan besarnya anggaran yang disiapkan pemerintah untuk penanganan Covid-19. Terlebih lagi, menurutnya ada yang janggal lantaran besaran tarif yang bervariatif di sejumlah rumah sakit.

Namun Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan Achmad Marsuki menegaskan, bahwa selama dalam kepentingan pelacakan, rapid test di rumah sakit maupun puskesmas, tidak dipungut biaya. Baik dengan BPJS maupun tidak.

“Padahal kan anggaran Covid-19 besar, kenapa harus ada biaya, bahkan biayanya relatif mahal,” tukasnya.

Namun, dia melanjutkan, jika terdapat tarif yang diberlakukan oleh sejumlah rumah sakit swasta kepada masyarakat yang ingin melakukan rapid test mandiri, maka itu merupakan kebijakan dari setiap rumah sakit. Namun untuk kepentingan pelacakan, dia menegaskan itu gratis.

“Selama untuk kepentingan tracing maka gratis tidak dipungut biaya. Tapi tidak untuk mandiri,. Karena alat rapid terbatas. Kalau rumah sakit swasta beda lagi. Mereka punya kebijakan masing-masing,” ulasnya.

Di lain pihak, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Slamet Martodirdjo (RSUD SMart) Pamekasan Syaiful Hidayat menjelaskan, di RSUD SMart tidak tersedia pelayanan rapid test mandiri.

Dia menjelaskan, jika di sejumlah rumah sakit terdapat tarif yang diberlakukan maka hal itu wajar sebab alat rapid test itu terbatas, dan rapid test hanya boleh dilakukan oleh orang yang terindikasi terinfeksi Covid-19. Tidak untuk sembarang keluhan kesehatan.

“Bukan sembarang rapid, kalau tidak ada indikasi Covid-19 ya tidak perlu rapid,” ucapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, setiap rumah sakit swasta memiliki kebijakan masing-masing dalam penentuan tarif rapid test. Berbeda dengan rumah sakit plat merah dan puskesmas yang diatur oleh pemerintah daerah.

“Rapid test itu terbatas, kalau selama untuk tracing gratis. Di RSUD tidak tersedia rapid test mandiri,” tukasnya. (ali/waw)

 

Komentar

News Feed