Dinkes Pamekasan Tegaskan Sampah Medis Minim Potensi Menularkan Virus

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) KECIL POTENSI MENULAR: Sampah medis masih kerap ditemukan di sejumlah tempat pembuangan sampah di sekitar jalan.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-Munculnya wabah Covid-19 berdampak terhadap lingkungan. Setidaknya, sampah medis bekas tenaga medis (nakes) maupun pribadi kerap terlihat di depan mata. Bahkan menurut pengakuan anggota Satgas Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pamekasan Johari, sampah medis kerap ditemukan di tempat sampah.

“Biasanya, jika ada sampah medisnya, kita pisahkan. Lalu kita serahkan ke dinkes,” ucapnya.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (BBB) DLH Pamekasan Yuniar Pravita Nasir menerangkan, pihaknya tidak pernah mengelola sampah medis. Sebab, rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) telah bekerjasama dengan pihak ketiga terkait pengelolaan sampah medis.

“Mereka sudah kerjasama dengan PT. Pria di Surabaya. Kita tidak punya TPA khusus sampah medis,” ujarnya.

Pelaksana tugas (Plt) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Slamet Martodirdjo (SMart) Pamekasan dr. Mazhar menuturkan, penanganan sampah medis terutama bekas pemakaian karena Covid-19 ditangani secara khusus. Sampah-sampah medis selalu dimasukkan ke dalam tas dua lapis.

Pihaknya memang memiliki tempat penampungan sementara (TPS) khusus sampah medis dan bahan berbahaya dan beracun (BBB). Sehingga sampah medis dan sampah domestik ditangani secara terpisah. Selain itu, agar tidak terjadi penularan wabah Covid-19 dari sampah tersebut, secara rutin TPS itu disemprot dengan cairan disinfektan.

“Penanganan sampah medis telah dilakukan dengan baik, agar tidak menular,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan dr. Nanang Suyanto menerangkan, sampah medis bekas penggunaan Covid-19 tidak akan berpotensi menular jika dikelola dengan baik. Menurutnya, sampah medis harus disimpan di tempat khusus sebelum dimusnahkan.

“Tidak boleh dibuang di tempat terbuka,” ulas Mantan Kepala Puskesmas Teja itu.

Kendati begitu, dr. Nanang itu menjelaskan, sampah medis bekas penanganan Covid-19 masih bisa berpotensi menularkan virus. Namun, virus tersebut akan mudah mati dan tidak akan mampu bertahan lama menempel di sampah. Karena untuk melangsungkan hidupnya, berkembang biak dan memperbanyak diri, virus butuh menempel pada makhluk hidup.

Sementara warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman) menurutnya tidak menghasilkan sampah medis. Karena sampah yang dihasilkan hanya masker. Dokter Nanang mengatakan, selama limbah medis dan BBB dikelola dengan baik, warga tidak perlu lagi khawatir dan keberatan jika ada pendirian fasilitas pelayanan kesehatan di wilayahnya.

“Masker medis cukup dimasukkan ke plastik atau tas kresek. Masker kain cukup dicuci dengan deterjen,” teranganya. (ali/maf)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *