Diplomasi Abad 21 di Persimpangan Jalan?

  • Bagikan

Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*

Kemenangan Joe Biden atas Donald Trump pada Pilpres Amerika Serikat, baru-baru ini, dianggap sebagai kembalinya demokrasi di Negara Paman Sam. Kepemimpinan Trump sejak 2016 memang identik penonjolan politik primordialisme dan populisme kanan. Era Trump juga lekat persaingan ketat dengan Tiongkok. Perang dagang tak terelakkan. Buku ini secara khusus mengalokasikan bahasan perang dagang dua negara adidaya tersebut. Bak perang dua singa, di manakah posisi Indonesia; mampukah berperan menciptakan momentum positif, pembaca dipersilakan mencermatinya sejak halaman 195.

Kehadiran buku ini bak mengeluarkan katak dalam tempurung; bahwa di luar sana, renik-renik peristiwa kontemporer begitu rupa telah berlangsung. Dan, kejadian di luar sana tersebut itu, sedikit-banyak atau langsung-tidak langsung berakibat terhadap seluruh warga dunia, tak terkecuali masyarakat Indonesia yang hidup di wilayah terpencil sekalipun. Kesadaran amat pentingnya melihat peristiwa manca agaknya memang masih dirasa kurang. Dan, Tulus Warsito, selaku penulis buku berikhtiar menyajikan kepingan dan pecahan besar kejadian “dunia luar” itu secara bernas dan cergas.

Karena itu, selain laik sebagai buku pegangan wajib bagi pengkaji Hubungan Internasional, publik secara umum juga didorong terlibat aktif ikut menganalisis suatu peristiwa di luar sana. Profesor Tulus mencoba menyentakkan wacana reflektif dan membuka ruang permenungan atas pelbagai hal yang dirasa paradoks dalam wajah dunia hari ini. Semisal, globalisasi; kita membincangkannya dengan sebagai kesatuan masyarakat dunia. Melonggarkannya; bahkan dalam beberapa hal, tak ada lagi batas/sekat antarnegara.

Namun, kita juga disuguhkan oleh tindakan Trump atas kebijakan proteksinya, terutama dalam menyikapi manuver ekonomi Tiongkok. Pun, bagaimana Trump yang hendak menjadikan Amerika sebagai negara tertutup bagi kaum migran. Lebih jauh, hal ini tentu berimbas pada diskursus perihal nasionalisme. Satu sisi, banyak negara mengikrarkan diri pada kesatuan zona geografis dan ekonomi. Keberadaan ASEAN, Uni Eropa, dan semacamnya adalah tesis sekaligus praktik kala nasionalisme menjadi kurang relevan.

Baca juga  Menggubah Lagu tentang Kepedulian

Sementara di sisi berikutnya, terjadi fragmentasi dari internal negara-negara dalam suatu ikatan yang lebih rinci: identitas primordial, misalnya. Perkara etnisitas yang setidaknya bagi Indonesia dan banyak negara lainnya telah selesai urusan, nyatanya masih berlangsung hingga kini. Kasus pada suku Kurdi, Kashmir, Rohingya merupakan fenomena atas masih berlangsungnya antitesa sebuah globalisasi plus negara-bangsa. Dengan kata lain, Profesor Tulus hendak mengatakan bahwa dunia dalam lanskap politik internasional tidak bersifat linier. Melainkan mendua, rumit, kompleks, dan paradoks.

Sebenarnya, karakteristik Politik/Hubungan Internasional tidak ada yang berubah. Selalu menghadirkan dinamikanya tersendiri yang bersifat paradoks. Karena itu, dibabar perbandingan relasi antarnegara sebelum abad ke-20. Dipaparkan pula dinamika sejak zaman centurial atau ketika dunia masih bercorak dominan kerajaan. Tentunya, tantangan Politik Internasional pada abad ke-21 seperti sekarang, kian kompleks dan rumit. Sejauh mana fungsi suatu negara yang tidak saja mestinya hadir buat warga negaranya sendiri, melainkan juga kepada warga dunia.

Oleh Profesor Tulus, Timur Tengah kontemporer menjadi bahasan panjang, menarik, sekaligus memilukan. Pilu karena Timur Tengah masih berlumur darah oleh Perang Suriah, kemunculan ISIS, Arab Spring, dan itu semua dimulai dari jatuhnya Baghdad pada tahun 2003. Pembaca dicukupkan untuk membaca ringkas duduk perkara peristiwa di atas tersebut; yang mana efeknya masih terasa hingga hari ini. Peperangan dan perpecahan tak terhindarkan sehingga menyebabkan lahirnya negara-negara baru yang kecil-kecil; di Eropa dan Afrika. Kita bisa berkaca musabab sengkarut-konflik tersebut sebagai langkah bijak untuk menjaga negeri ini agar senantiasa damai-stabil.

Ke depan, relasi antarnegara amat ditentukan kemajuan teknologi yang kian melesat. Prof Tulus membahasnya dengan amat bergairah. Disodorkan konsepsi “masyarakat 5.0” yang bersumber dari konstitusi Jepang sebagai investasi untuk masa depan. Tujuan Society 5.0 adalah untuk mewujudkan masyarakat dapat menikmati hidup sepenuhnya lewat topangan teknologi (hlm: 277). Ada kemungkinan, peran negara sudah kian tidak relevan. Di sinilah paradoks Politik Internasional kembali terjadi.

Baca juga  Masjid Baiturrahman Sudah Terbiasa dengan Protokol Kesehatan

Profesor Tulus sememangnya menerka ada kabar bagus masa depan dunia lewat konsep Society 5.0; karena itu seyogianya bisa lekas dipersiapkan oleh warga dunia. Namun, tampak ada yang luput dibahas berkait tantangan serta problem besar yang terus mengintai relasi antarnegara. Mulai dari pemanasan global, deforestasi, persaingan senjata nuklir, krisis lingkungan, dan krisis pangan. Jika demikian, apakah diplomasi abad ke-21 sebenarnya bergerak maju sekaligus mundur?

*Bergiat di Muria Pustaka

Data buku:

Judul: Politik Internasional Abad Ke-21

Penulis: Tulus Warsito

Penerbit: UMY Press

Tebal: 287 halaman

ISBN: 978-623-90189-8-6

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan