Diplomasi Cair ala Dubes Karir

  • Whatsapp

Peresensi      : Muhammad Itsbatun Najih*

Sememangnya tak banyak duta besar (dubes) yang menulis buku. Apa yang hendak ditulis? Tentu saja pengalamannya selama bertugas di luar negeri sebagai perwakilan pemerintah RI. Menulis buku bagi dubes semacam legasi. Teranggap tugas akhir yang merangkum atas apa yang telah dikerjakan beserta sejumlah capaian. Kesibukan seorang dubes kerap menjadi dalih tidak menulis buku. Namun, kendala ini bisa disiasati M. Wahid Supriyadi.

Dubes Wahid mengalokasikan waktu senggang sebab pandemi Covid-19 untuk menulis buku. Hanya membutuhkan waktu 2,5 bulan, Duta Besar RI untuk Rusia merangkap Belarusia itu, menceritakan sepak terjangnya. Tidak khusus saat di Moskow –yang paripurna tugas pada 2020—tetapi juga semenjak dirinya masuk ke kantor Kemlu, Pejambon, tahun 1985 sebagai peserta tes calon diplomat. Perihal waktu penulisan buku yang relatif singkat, kiranya bisa dimafhumi. Pembaca diyakinkan bahwa dubes yang satu ini memang mempunyai kecakapan menulis. Karena itu, mengkhatamkan buku tebal tersebut, pembaca tetap terasyikkan layaknya membaca buku penulis profesional.

Menjadi birokrat tulen sejak masih era Orde Baru, nuansa-gaya kekakuan menulis nyaris tidak ikut terbawa. Sejak menjadi diplomat muda pada usia 25 tahun, dirinya sering ditempatkan di pos Penerangan. Pos ini amat berhubungan dengan media massa dan pertanyaan tajam kuli tinta. Kisah menariknya, dirinya pernah menulis sejumlah artikel untuk dikirimkan ke media massa atas kepentingan sang atasan. Saat berhasil tayang, tentu nama atasannya yang tercantum sebagai penulis.

Pos Penerangan praktis membawanya tersorot awak media. Kala itu, banyak peristiwa krusial yang menyebabkannya mesti berhati-hati menyampaikan pernyataan. Dimulai dari penempatannya di Australia di bagian Penerangan, Wahid dihadapkan sensitifnya isu Timor-Timur. Pembaca mafhum bagaimana sikap pemerintah Australia dan media massa asing terhadap masalah ini. Pada peristiwa WTC 9/11 dan Bom Bali I dan II; dirinya kudu taktis menepis anggapan Indonesia merupakan surga pelaku terorisme.        

Buku Dubes Wahid dimulai dengan entakan, yakni meluruskan stigma bahwa penerimaan pegawai negeri sipil (PNS) kala itu, sarat praktik suap atau kudu “punya orang dalam” (KKN). Dan, memangnya dirinya tak mengeluarkan uang sepeser pun. Dirinya sebagaimana para calon PNS Kemlu, menghadapi serangkaian tes tulis dan wawancara. Dubes Wahid sendiri berangkat dari sebuah kampung di Kebumen. Selepas menamatkan kuliah di Sastra Inggris, UGM, ia merantau ke ibu kota menjadi dosen lepas di sebuah universitas swasta. Sempat nebeng di rumah sang paman, dirinya seakan menegaskan kalau tak ada nepotisme alias kenal dengan pejabat Kemlu yang sebabkannya lolos tes. Pak Dubes yang seangkatan Bu Menlu Retno Marsudi ini, bak menibakan pesan, bahwa rekrutmen yang bersih dan profesional bakal menghasilkan diplomat mumpuni-berintegritas.

Menyoal dubes non karier

Meski bukan lulusan Hubungan Internasional (HI) sebagaimana lazimnya latar belakang para diplomat, tetapi bagi Wahid, hal itu tidak jadi soal. Lantaran, semua diplomat muda diwajibkan mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) alias mendapat gemblengan pelatihan berbulan-bulan. Pada periode selanjutnya, diplomat madya bakal melanjutkan sekolah guna kenaikan pangkat dan penajaman keahlian-pengetahuan.

Di sinilah pembaca mulai mafhum, meski bukan dari jurusan HI, dirinya amat ditempa begitu rupa sehingga diharapkan benar-benar cakap-profesional kalau-kalau kelak menduduki jabatan tertinggi sebagai dubes. Melalui kisah-kisahnya di buku ini, Dubes Wahid –dan dubes lainnya yang berangkat dari karier bawah– bisa dibilang menunjukkan banyak prestasi. Ada delapan jenjang karier diplomat, mulai atase hingga dubes. Butuh waktu minimal dua puluhan tahun untuk teranggap mumpuni menduduki kursi dubes sebagaimana Dubes Wahid.

Jabatan dubes dalam banyak kesempatan, diisi bukan dari kalangan diplomat. Banyak dijumpa dubes diisi tokoh ormas, politisi, dan pebisnis. Dan, di balik ragam profesi para dubes non karier tersebut, ada benang merah: berpunya kedekatan politik/afiliasi dengan penguasa/Istana. Dubes non karier dianggap mencederai prinsip meritokrasi. Jabatan dubes yang muasalnya prestise, bisa turun derajat bila digunakan untuk balas budi dukungan politik.

Membaca langkah dan gerak Dubes Wahid di buku ini, publik boleh jadi berkesimpulan: jabatan dubes selayaknya memang sepenuhnya untuk para diplomat. Mereka ditempa bertahun-tahun berkait dunia kediplomasian. Sungguh ironis bila dubes dipilih presiden dengan kalkulasi politik; lantas menjalani fit and proper test oleh DPR yang tampak formalitas. Publik pun berandai-andai: bila dubes non karier yang ditunjuk minim kontribusi prestasi (stagnan), maka eksistensi sebuah Kedutaan Besar RI (KBRI) laksana jalan di tempat.

Dubes mesti berpunya terobosan mempromosikan khazanah Indonesia. Dan, dubes non karier disinyalir lebih banyak mengalami kegagapan lantaran minim ilmu diplomasi. Pun, mengakibatkan statisnya gerak jajaran di bawahnya– yang diisi diplomat tulen.  Sehingga, andaikata di kemudian hari ada seorang dokter yang ditunjuk menjadi dubes bersebab kalkulasi politik, patutlah publik menggugat. Biarkanlah dokter merawat pasien. Biarkan kursi dubes “mestinya” menjadi kewenangan Kemlu layaknya pada jabatan direktorat. Dubes non karier hanya akan mendegradasi nilai/value jabatan dubes itu sendiri lantaran kerap dijadikan komoditas politik bagi-bagi kekuasaan.

Pembaca diajak menyusuri gebrakan Dubes Wahid sejak menjabat Konjen Melbourne. Kegiatan bernama Festival Indonesia menjadi epik dan dibabar panjang sebagai strategi cerita diplomasi. Capaian Dubes Wahid layak dijadikan bukti bahwa jabatan dubes idealnya diserahkan kepada “ahlinya”. Dubes yang politisi atau pebisnis, bakal sulit menghindari konflik kepentingan.

Buku memoar ini bisa menjadi referensi bagi para dubes agar lekas menulis buku sebagai “laporan” untuk publik; bahwa sang dubes telah bekerja optimal dan menghasilkan torehan. Buku dubes semacam ini menyibakkan spirit memasyarakatkan dunia diplomasi yang masih terbilang minim. Berikhtiar mendekatkan dunia kediplomasian secara serius tapi santai. Di balik kesan prestise seorang diplomat, terselip sisi-sisi cair, ringan, penuh humor. Dubes Wahid menempuh cara seperti ini; guna mengenalkan dunia diplomasi bagi publik tanah air.

Data buku

Judul              : Diplomasi Ringan dan Lucu

Penulis           : M. Wahid Supriyadi

Penerbit        : Buku Litera, Yogyakarta

Cetakan         : Pertama, 2020

Tebal              : 316 halaman

ISBN               : 978-6025-681-929

*) Alumnus UIN Yogyakarta

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *