oleh

Dipukul Aparat hingga Bocor, IKA PMII Pamekasan Langsung Tunjuk Pengacara

MOH. LUTFI (Ketua Umum PC PMII Pamekasan)

“Kami sudah lakukan visum pada anggota kami yang mengalami luka-luka, sebab salah satu anggota kami kepalanya sampai bocor berlumuran darah, kami minta pelakunya bertanggungjawab,”

Atiqullah (Ketua IKA PMII Pamekasan)

“Kami sudah tunjuk pengacara untuk mengusut kasus ini, namun yang pasti kami mengutuk keras jika benar terjadi anarkisme dan pengeroyokan yang dilakukan anggota polisi terhadap aktivis,”

Ribut Baidi (Pengacara)

“Saya siap mendampingi adik-adik aktivis PMII dalam menangani kasus ini sampai tuntas,”

Sulaisi Abdurrazaq (Ketua APSI Jatim)

“Yang jelas tindakan kekerasan dilakukan oleh siapapun tetap melanggar hukum, dilakukan oleh penegak hukum sekalipun tetap itu pelanggaran hukum, dan memiliki risiko serta konsekuensi hukum tersendiri,”

AKBP Djoko Lestari (Kapolres Pamekasan)

“Kami akan melakukan pemeriksaan sebagaimana mestinya terhadap anggota kami yang duduga melakukan itu, kami sudah lakukan indentifikasi,”

Mohammad Kosim (Rektor IAIN Madura)

“Saya tidak mau berkomentar, meski itu mahasiswa saya, tapi itu aksi atas nama PMII bukan atas nama mahasiswa IAIN, jadi mohon maaf,” tukasnya. (ali)

Kabarmadura.id/PAMEKASAN–Aksi demonstrasi menuntut penutupan tambang galian C ilegal oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Pamekasan, berakhir bentrok dengan aparat kepolisian.

Bahkan, terjadi pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap pendemo di halaman Mandhapa Agung Ronggosukowati Pamekasan, Kamis (25/6/2020)

Akibatnya, salah seorang peserta aksi terluka parah di bagian kepala hingga dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Slamet Martodrdjo (RSUD SMart) Pamekasan.

Ketua Umum PC PMII Pamekasan Moh. Lutfi menjelaskan, aksi demonstrasi pada awalnya dilakukan dengan aksi damai, namun lantaran pihaknya tidak ditemui oleh bupati Pamekasan, pendemo kecewa. Sehingga massa bermaksud menemui bupati ke rumah dinasnya, yaitu di Mandhapa Agung Ronggosukowati.

“Kami dari awal sudah katakan ini aksi damai, kami minta pemkab tegas dalam menyikapi tambang ilegal, sebab ini akan berdampak buruk bagi anak cucu kita nanti, dan tentunya terhadap alam,” tegasnya.

Namun, yang sangat disayangkan, saat dalam perjalanan, tiba-tiba diadang oleh sekelompok aparat kepolisian. Tidak hanya itu, aparat tersebut diduga menyerang demonstran.

Akibatnya,puluhan mahasiswa yang terlibat aksi mengalami luka-luka lantaran dipukuli, namun terdapat tiga orang yang harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka serius, termasuk di antaranya Moh. Rofiki, mahasiswa IAIN Madura yangdipukuli hingga kepalanya bocor berlumuran darah.

Lutfi mengutuk keras tindakan represif yang dilakukan oleh oknum anggota polisi tersebut.Menurutnya, hal itu merupakan tindakan kriminal dan melanggar undang-undang. Sehingga dia berjanji akan menindaklanjuti hal itu ke ranah hukum.

Pihaknya juga telah melakukan visum terhadap anggotanya yang menjadi korban pengeroyokan untuk dijadikan barang bukti.

“Kami sudah lakukan visum pada anggota kami yang mengalami luka-luka, sebab salah satu anggota kami kepalanya sampai bocor berlumuran darah, kami minta pelakunya bertanggungjawab,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni (IKA) PMII Pamekasan Atiqullahmengutuk keras jika benar terdapat anggota polisi yang melakukan tindakan anarkisme itu. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pengurus IKA PMII dan telah menunjuk seorang pengacara, yaitu Ribud Baidi.

“Kami sudah tunjuk pengacara untuk mengusut kasus ini, namun yang pasti kami mengutuk keras jika benar terjadi anarkisme dan pengeroyokan yang dilakukan anggota polisi terhadap aktivis,” tukasnya.

Di lain pihak, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Pamekasan AKBP Djoko Lestari membenarkan adanya gesekan antara anggota kepolisian dengan demonstran.Dia menjelaskan, ketegangan terjadi antara demonstran dengan polisi lantaran demonstran berusaha masuk ke Mandhapa Agung Ronggosukowati untuk menemui bupati.

Namun,  dia memastikan tetap memeriksa anggota polisi yang diduga melakukan tindakan pemukulan itu. Bahkan oknum tersebut sudah indentifikasi.

“Tadi memang sempat terjadi gesekan, namun kami akan memeriksa anggota kami sebagaimana mestinya,” ujar kapolres yang belum genap setahun menjabat tersebut.

Sementara itu, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura Mohammad Kosim tidak berani berkomentar meskipun salah satu mahasiswanya terluka parah akibat dipukuli anggota polisi. Alasannya, aksi tersebut tidak mengatasnamakan almamater IAIN, melainkan mengatasnamakan PMII.

“Saya tidak mau berkomentar, meski itu mahasiswa saya, tapi itu aksi atas nama PMII bukan atas nama mahasiswa IAIN, jadi mohon maaf,” tukasnya. (ali/waw)

Komentar

News Feed