Disdik Jatim Ingin Evaluasi SMK Mini

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) MENUNJUKKAN: Kepala Sekolah (kepsek) saat memantau karya siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Agung Mulia di Desa Parseh, Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Program sekolah menengah kejuruan (SMK) Mini dari gubernur Provinsi Jawa Timur (Jatim) harus dievaluasi. Sebab, program yang ditujukan untuk mendorong kreativitas dan kemandirian SMK tersebut tidak produktif. Hal ini diungkapkan Kasi Pembinaan SMK Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jatim di Bangkalan Nahtim, Kamis (20/5/2021).

Menurutnya, terdapat 7 SMK yang memperoleh program tersebut di tahun 2019. Namun, Lima diantaranya hanya menyerap anggaran tanpa ada produktifitas yang dikembangkan. Sehingga, program tersebut saat ini terpaksa dihentikan. “Itu bukan program tahunan, dan tidak semua sekolah bisa mendapatkan program ini,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Dijelaskan, program SMK Mini tersebut merupakan upaya pemerintah provinsi untuk membuat sekolah lebih mandiri dan bisa lebih produktif menciptakan karya yang memiliki nilai ekonomis. Seperti program one pesantren one produk (OPOP). “Program ini memiliki kesamaan dengan OPOP, yakni ingin membuat SMK memiliki satu produk,” jelasnya.

Ditegaskan, program tersebut terakhir kali dirasakan pada tahun 2019 lalu. Namun, dari 7 SMK, hanya dua SMK yang melaksanakan programnya dengan baik. “Saya kira hanya dua sekolah yang benar-benar membuat produk, sisanya hanya memanfaatkan uangnya saja,” tuturnya.

Setiap sekolah, sebelumnya sudah diajukan ke Disdik Provinsi. Setiap sekolah diberikan dana sebesar Rp250 juta. Tetapi karena tidak ada tindak lanjut pengawasan, sekolah hanya menyerap dana tanpa ada pertanggung jawabannya. “Saya sangat menyayangkan, harusnya mereka yang menerima bisa memanfaatkan dengan baik,” tandasnya.

Pihaknya menegaskan, program tersebut harusnya bisa dilanjutkan. Tetapi, jika tidak ada pengawasan dan pertanggungjawaban, maka tidak akan tepat sasaran dan tidak sesuai harapan. Dirinya berharap, ada kelanjutan dari program itu dengan pengawas dan prosedur laporan pertanggung jawaban yang resmi.

“Saya berharap program ini masih dilanjut, hanya teknisnya nanti yang harus diperbaiki,” tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi E DPRD Jatim Mathur Husyairi menyayangkan, jika program yang bisa menunjang kreativitas siswa tidak dilanjutkan. Sebab, dengan program tersebut, sekolah bisa memiliki peluang eksperimen dan menciptakan penemuan baru. “Program SMK Mini ini bagus sebenarnya, tetapi dalam pelaksanaannya tetap harus diawasi,” responnya.

Menurutnya, dalam beberapa waktu di masa pandemi Covid-19 kondisi pendanaan memang tengah difokuskan pada upaya penanggulangan virus. Tetapi, dirinya akan mengkomunikasikan kembali mengenai kelanjutan program tersebut. “Kami akan rapatkan kembali nanti, dan akan memilih program yang bisa kami prioritaskan,” tukasnya. (hel/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *