Disedot Refocusing Anggaran, 14 Pengajuan Hak Merek Produk Asli Bangkalan Mangkrak

  • Whatsapp
(FOTO: KM/dok) TERGERUS: Disedot refocusing anggaran, 14 pengajuan merek produk terhenti di Disperindag Bangkalan.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Pengajuan merek untuk 14 produk lokal Bangkalan mandek di Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Bangkalan.

Mandeknya pengajuan tersebut lantaran tidak adanya pendanaan yang tersisa usai di-refocusing untuk penanganan pandemi Covid-19. Sehingga tahun 2021 tidak ada produk Bangkalan yang bisa mendapatkan hak tersebut.

Kepala Bidang Industri Non Agro Disperinaker Bangkalan Muti menyampaikan, biasanya setiap tahun selalu ada program pengajuan untuk merek makanan, minuman dan kerajinan tangan.

“Anggaran kami sudah tidak ada, makanya memang belum bisa mengajukan,” katanya sembari menegaskan ada 14 pengajuan ke Disperinaker Bangkalan.

14 produk tersebut diperkirakan sudah  siap dan mendapatkan rekomendasi dari asosiasi industri kecil menengah. Sebab, selain Disperinaker, biasanya juga dikoordinasi di asosiasi IKM..

Kata Muti, pengajuan melalui pemerintah lebih murah dibandingkan dengan pengajuan secara mandiri. Pembiayaan hanya sekitar Rp500 ribu. Sedangkan jika secara mandiri, mencapai Rp2 juta setiap satu produk.

Sayangnya, kata Muti, masyarakat belum antusias mengajukan merek untuk produknya. Sehingga pihaknya juga masih aktif melakukan pembinaan dan dorongan agar para pengusaha bisa berkembang lebih baik dengan mematenkan produknya.

“Kami juga selalu mendorong dan mengupayakan, agar para pengusaha bisa mau mengajukan mereknya,” terangnya.

Sedangkan salah satu anggota asosiasi IKM, Khoirotun Nafizah menyampaikan, dirinya merupakan salah satu pengusaha yang mengajukan merek untuk produk makanan dan minuman. Sehingga dirinya meminta agar pengajuannya bisa segera diproses.

“Saya baru pertama kali ini mengajukan, masak tidak diproses hanya karena dana,” ungkap t perempuan yang akrab disapa Nafizah itu.

Dia berharap produknya bisa segera berhasil mendapatkan hak merek. Sebab, produknya tidak sama dan juga baru ada. Sehingga harusnya bisa segera selesai.

“Saya juga ingin segera merasakan manfaatnya, apakah penjualan akan meningkat atau tidak setelah punya hak merek,” ucap Nafizah.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *