oleh

Diskan Sumenep Belum Melakukan Pembenahan BBI

KABARMADURA.ID, Sumenep – Balai Benih Ikan (BBI) di Kabupaten Sumenep perlu ada pembenahan. Pasalnya, BBI tersebut masih kurang memadai dan belum maksimal. Sehingga, masyarakat tidak sepenuhnya membeli ikan di lokasi tersebut.

Kasi Produksi Perikanan Budidaya Dinas Perikanan (Diskan) Sumenep Moh. Subhan Hedir mengatakan, BBI masih terkendala ketersediaan air. Saat ini ketersediaan air masih diusahakan untuk maksimal. “BBI di Sumenep masih banyak kendala,” keluhnya, Selasa (20/10/2020)

Menurutnya, perkembangan pengusaha ikan air tawar masih belum bergerak cepat. Hal itu bisa diukur dari kebutuhan Ikan yang masih berkurang. Sehingga, impor benih Ikan masih dibutuhkan bagi masyarakat.

“Tidak semua masyarakat yang membeli ikan di BBI. Kemudian benih ikan masih memesan dari luar kota,” ujarnya.

Sebanyak 207 orang pembudidaya ikan khususnya ikan lele serba kekurangan benih.  Sehingga, Diskan berusaha mendatangkan dari luar Sumenep. “Yang memesan dari luar kei daerah jawa. Salah satunya di Mojokerto,” ucapnya.

Dijelaskan, saat ini fokus pada ikan lele dan ada sebagian ikan nila yang pusat impor benih tersebut dari luar pulau madura diantaranya Kabupaten Gresik, Kediri, dan Jombang serta kabupaten lainnya yang berpotensi. “Semuanya masih pesan dari luar Madura,” tukasnya.

Dia mengatakan, ada beberapa hambatan untuk mendatangkan benih dari luar Sumenep. Diantaranya, produksinya masih kurang atau laju konsumsinya rendah, bukan mata pencaharian utama atau hanya sampingan, dan belum serius, kemudian kekurangan modal, serta penguasaan teknologi terbatas.

“Kedepan akan dievaluasi dan untuk pengusaha atau pembudidaya ikan diberikan pembinaan khusus,” katanya.

Menurutnya, pada tahun 2010 rata-rata pembudidaya menggunakan kolam terpal yang menerapkan teknik tradisional. Sedangkan saat ini para pembudidaya sudah sangat canggih yakni, menggunakan teknik semi tradisional dengan menggunakan vitamin biotik dan lainnya.

Yaitu intensif seperti menggunakan teknologi bioflok. Kemudian, teknologi bostara yang berfungsi untuk menghemat air, serta tempat.

“Secara perkembangan produksi meningkat. Biaya produksi yang asalnya boros sekarang sudah bisa ditekan, rata-rata pembudidaya ikan air tawar sudah bisa ditekan,” tuturnya.

Sementara itu Anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari mengatakan, pembinaan terhadap pembudidaya ikan air tawar untuk mengurangi ketergantungan ikan sangat penting. Hal itu dilakukan seperti membentuk wadah asosiasi petani ikan air tawar dan lainnya.

“BBI juga perlu dimaksimalkan dan terus diusahakan berkembang,”sarannya. (imd/ito)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed