Diskop Kabupaten Sumenep Akui Pengembangan UMKM Terabaikan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) KURANG MAKSIMAL: Keberadaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Sumenep belum menunjukkan geliat perkembangan yang signifikan.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Selain akurasi data yang terkesan kurang valid, Dinas Koperasi (Diskop) dan Usaha Mikro Kabupaten Sumenep, mengakui, keberadaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) belum ada peningkatan.

Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UMK), Lisa Bertha Soetedjo mengatakan, salah satu indikasi belum ada peningkatan untuk UMKM lantaran mewabahnya Covid-19.

Bacaan Lainnya

“Tahun ini beberapa pelatihan kami gagalkan, karena anggaran kami minim. Biasanya setiap tahun itu, kami pasti ada beberapa unit pelatihan untuk pengembangan UMKM,” ujarnya, Kamis (10/12/2020).

Menurutnya, setiap tahun menganggarkan, khusus untuk memberikan bekal kompetensi dari para pelaku usaha mikro, termasuk seperti kemampuan mengembangkan unit usaha. Pelatihan yang biasa dilakukan setiap tahun, seperti keterampilan menjahit, pertukangan, dan pecah batu.

Biasanya, kuota setiap pelatihan 20 orang, dan anggarannya sekitar Rp50 juta.  “Kami juga memberikan pelatihan  cara mengembangkan, misalnya cara memasarkan, cara mencari relasi, karena bisnis itu, harus dikembangkan bersama-sama, tapi tahun ini tidak ada pelatihan,” kesalnya.

Upaya peningkatan lain tidak hanya bantuan materi, tetapi juga memberikan pelatihan dan pembinaan, terutama di sektor manajemen, pengembangan usaha, dan pemasaran hasil produksi UMKM. Namun saat ini hanya dimaksimalkan melalui pelatihan online.

“Ketika pandemi ini usai, pasti kami akan kembali memperhatikan fungsi UMKM, saat ini hanya diberikan pelatihan online dari pemprov ada dari pusat, yang tertarik ada yang ikut, begitu sebaliknya,” paparnya.

Sementara itu Anggota Komisi l DPRD Kabupaten Sumenep, Juhari mengatakan, pengembangan UMKM jangan hanya berkutat pada pelatihan. Akan tetapi, harus ada semacam  target capaian, artinya ada yang harus menjadi percontohan, misalnya yang paling produktif.

“Ikut pelatihan 20 orang, belum selesai latihannya pesertanya berkurang, itu belum selesai. Ketika sudah selesai pelatihan tolong dikontrol, tanyakan sudah seperti apa perkembangannya,” responnya. (ara/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *