oleh

Diskriminasi Gender Terhadap Perempuan

 

 

Peresensi         : Ratnani Latifah. Penulis dan penikmat buku asal Jepara

Sejak zaman dahulu, diskriminasi gender terhadap perempuan sudah ada di sekitar kita. Bahkan pada masa kenabian, kita bisa melihat kehadiran perempuan tidak begitu diinginkan dibanding anak laki-laki—bahkan lebih parah banyak bayi perempuan yang sengaja dikubur hidup-hidup. Di Indonesia sendiri, pada masa lampau, gerak perempuan—khususnya para keturuna ningrat—sangatlah dibatasi. Mereka tidak diizinkan sekolah atau keluar rumah secara bebas. Perempuan dituntut untuk selalu patuh kepada kaum pria—di mana tugas perempuan hanyalah untuk melayani kaum pria dalam tata rumah tangga.

Tidak hanya di Indonesia, diskriminasi gender terhadap perempuan juga terjadi di Korea Selatan. Sebagaimana yang diungkapkan Cho Nam-Joo dalam karyanya “Kim Ji-Yeong”—novel apik  juga sudah difilmkan dan dimainkan  oleh Jung Yu Mi dan Gong Yoo. Dengan alur mundur novel ini memiliki daya magnet bagi pembaca untuk ikut merasakan, betapa tidak adilnya perlakuan yang diterima para perempuan.

Pada masa itu di Korea Selatan, kehadiran anak laki-laki lebih diinginkan daripada anak perempuan. Karena laki-laki-lah nantinya yang akan menjadi tulang punggung keluarga. Maka tidak heran, pendidikan bagi anak laki-laki lebih diutaman daripada untuk anak perempuan. Dan di dalam sebuah keluarga, anak laki-laki selalu diperlakukan istimewa dibanding perempuan.

Pada masa sekolah, para guru juga dengan jelas memperlihatkan ketidakadilannya dalam memperlakukan murid laki-laki dan perempuan. Pun di masa kerja, seberapa pintar dan rajinnya seorang pegawai wanita, jarang sekali perusahaan yang akan menjadikannya kepala bagian. Masalahnya perempuan pada akhirnya nanti akan menikah dan melahirkan. Dan hal itu dianggap sebagai gangguan atau penghambat dalam karier perempuan. Lebih ironis, di Korea Selatan, pelecehan seksual—baik secara verbal atau tidak—terhadap perempuan pun dianggap wajar.  Dan itu belum berbagai masalah lain yang membuat diskriminasi gender terhadap perempuan di Korea Selatan, membuat para perempuan merasa tertekan.

Kim Ji-Yeong adalah gambaran nyata banyak perempuan di Korea Selatan bahkan mungkin di belahan negara lainnya. Ia adalah anak perempuan yang terlahir dari keluarga yang mendambakan anak laki-laki. Meski ia memiliki ibu yang hangat, tetap saja kenyataan sebagai perempuan membuat Kim Ji-Yeong juga harus merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Misalnya pernah menjadi korban bulan-bulanan para guru pria di sekolah, hampir dilecehkan anak laki-laki sepulang les sekolah di malam hari, hampir dilecehkan di perjamuan kantor dan banyak lagi. Karena hal alasan-alasan itu, Kim Ji-yeong pernah merasa trauma dan takut dengan laki-laki.

Namun berkat seseorang pada akhirnya Kim Ji-yeong berani membuka diri dan sempat menjalin hubungan beberapa kali dengan kenalannya. Hingga akhirnya ia menikah dengan Jeong Dae-hyon. Kehidupan mereka awalnya baik-baik saja. Meski sudah menikah ia tetap diizinkan bekerja sesuai bidang yang ia minati. Hanya saja masalah datang ketika pihak keluarga dari sang suami, tiba-tiba menyinggung masalah anak.

Pada akhirnya Kim Ji-yeong memang hamil. Akan tetapi kehamilan itu pula yang membuat kehidupannya berubah. Berbagai kehawatiran mulai merayapi benaknya. Sebagaimana ibunya dulu kini Kim Ji-yeong memahami bagaimana rasa khawatir apakah ia akan melahirkan anak laki-laki atau perempuan? Lalu apakah ia akan tetap bekerja atau memilih mengundurkan diri dan fokus merawat anak? Dan karena itu pula sikap Kim Ji-yeong menjadi berubah dan mengkhawatirkan.

Setelah membaca buku ini benak kita akan dipenuhi dengan berbagai pertanyaan juga perasaan-perasaan yang kompleks. Secara keseluruhan buku ini sangat menarik dan  memang patut dibaca oleh banyak pihak. Agar potret diskriminasi genre tidak lagi menjerat para perempuan.  Meski ceritanya bisa dibilang datar dan tidak banyak twist yang ada, tetapi begitulah potret buram kehidupan perempuan yang sangat memprihatinkan.

Srobyong, 13 Februari 2020

 

Judul               : Kim Ji-Yeong

Penulis             : Cho Nam-Joo

Penerjemah      : Lingliana

Penerbit           : Gramedia

Terbit               : Januari 2020

Tebal               : 192 halaman

ISBN               : 978-602-063-619-1

 

 Biodata Narasi

Cerpen dan resensinya pernah dimuat diberbagai media. Buku terbarunya, Terapi Hati; Agar Hati Sehat Tak Mudah Berkarat (Quanta, 2019), Ayo Belajar Mandiri (Elex Kidz, 2019), Be Quran Lovers (Genta Hidayah, 2019) dan Hijrah Asyik Muslim Mulenial (Quanta, 2019). Alumni Unisnu Jepara. Bisa dihubungi di akun FB Ratna Hana Matsura. Atau blog https://ratnanilatifah.blogspot.com.

 

 

 

Komentar

News Feed