Diskursus Gender Dalam Pendidikan Islam

  • Whatsapp

Oleh: Mahathir Muhammad Iqbal

Staf Pengajar Departemen Ilmu Pemerintahan UNIRA Malang

Harus diakui bahwa orientasi keberagamaan kita hari ini masih didominasi oleh wacana normatif yang bias kepentingan laki-laki. Khususnya menyangkut relasi gender. Kita sebetulnya menyadari bahwa banyak hukum agama, misalnya hukum personal keluarga, praktik keagamaan, dan termasuk pula soal keabsahan kepemimpinan sosial politik apalagi keagamaan bagi perempuan, disusun berdasarkan asumsi patriarkhi dan seksisme.

Sistem yang berdasarkan patriarkhi dan seksisme ini, biasanya mengasingkan perempuan di rumah, dengan demikian laki-laki lebih bisa menguasai kaum perempuan. Sementara itu, pengasingan perempuan di rumah menjadikan perempuan tidak mandiri secara ekonomis, dan selanjutnya tergantung secara psikologis.

Selanjutnya norma-norma moral, sosial dan hukum pun lebih banyak member hak kepada kaum laki-laki daripada perempuan, justru karena alasan bahwa laki-laki memang “lebih bernilai” secara public daripada perempuan. Dalam perkembangannya, patriarkhi dan seksisme ini sekarang telah menjadi istilah terhadap semua sistem kekeluargaan maupun sosial, politik, dan keagamaan yang merendahkan, bahkan “menindas” kaum perempuan, mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat. (Budhy Munawwar Rachman, 2004: 530-531).

Yang menarik, berdasarkan penemuan penelitian Nasaruddin Umar, pandangan patriarkhi dan seksisme ini bukanlah monopoli Al-Quran saja, yang tidak memberikan yang layak terhadap perempuan, tapi juga Bible dan kitab-kitab suci agama lainnya, seperti kitab Konghucu dan Budha, bahkan kitab klasik seperti Talmud. (Nasaruddin Umar, Jawa Pos, 25 April 2004, hlm. 4).

Hal ini disebabkan dua faktor penting yang berkontribusi dalam pembentukan wacana keagamaan yang bias gender tentang perempuan, yakni faktor teologi dan mitos. Yang patut digarisbawahi adalah bukan berarti Al-Quran adalah kitab suci yang patriarkhis dan seksisme. Karena memang tidak ada kitab suci yang diturunkan dalam masyarakat yang hampa budaya. Tidak ada kitab suci yang diturunkan di sebuah wilayah geografis tanpa manusia. Semua kitab suci, termasuk Al-Quran, diturunkan dalam masyarakat yang sudah sarat dengan ikatan-ikatan primordial dan norma kearabannya, karena itu ada pola dialektik tersendiri bagaimana kitab suci menyesuaikan dirinya dengan nilai lokal.

Dalam konteks inilah, diskursus gender dalam pendidikan Islam jelas mempunyai relevansi yang sangat penting. Bahkan, wacana gender dan seksisme ini dapat menjadi agenda kajian tentang bentuk kesetaraan baru yang merepresentasikan wacana keadilan dan egalitarianisme. Kajian gender ini, misalnya dapat dijadikan konstruksi paradigma alternatif di tengah menguatnya arus konservatif yang berusaha keras mau mengembalikan peran perempuan ke sektor domestik , dengan berbagai legitimasi pragmatis, keagamaan, ilmu maupun ideologis.

Yang tak kalah penting, salah satu ikhtiar yang mendesak segera dilakukan ialah bagaimana merumuskan sebuah konsep pendidikan Islam yang berorientasi gender. Hal ini menemukan relevansinya tatkala beberapa waktu yang lalu, sebuah perhelatan besar berupa konferensi internasional diadakan oleh Bibliotheca Alexandrina bekerjasama dengan sejumlah NGO yang konsen pada isu perempuan dan anak, seperti MADA Foundation, serta NGO berbasis hak asasi manusia. Konferensi ini mengambil tema pokok Menuju Ijtihad Baru Hak Asasi Perempuan, berlangsung selama dua hari penuh, tanggal 10-11 Maret 2014, bertempat di Bibliotheca Alexandrina, Alexandria, Mesir. Sebuah perpustakaan tertua dengan bangunan modern, didirikan sekitar abad ke-3 sebelum Masehi oleh walikota Athena, terletak di tepi pantai Alexandria, kota terbesar kedua setelah Cairo di Mesir.

Hadir sekitar 200 feminis Muslim, lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Peserta datang dari berbagai belahan dunia, kebanyakannya datang dari negara-negara Islam di Timur Tengah. Saya sendirian mewakili Indonesia di forum ini. Sejumlah ulama ternama pun hadir, antara lain mewakili lembaga fatwa Al-Azhar, Mesir, Saudi Arabia, Tunisia, Nigeria, Marokko, Sudan, Kuwait, Yaman, Iraq, Emirates, Jordan, Palestina dan Lebanon. Beberapa cendekiawan tercatat, seperti: Dr. Ismail Serageldin, Dr. Assem Hefny, Dr. Amr al-Wardany (Daar al-Iftaa), Dr. Magdy Ashour (advisor of Grand Mufti Egypt), Dr. Muhammad Salem (Senior Lecturer of Azhar Univ. Egypt), Dr. Muhammad Naguib Awadein (Professor of Sharia, Cairo Univ). Peserta lain adalah Dr. Muhammad Arnaut (Professor at Al-Bayt Univ Jordan;Dr. Ibrahim Al-Bayumi (Egypt); Dr. Suhayla Zain (Saudi Arabia); Dr. Muhammad Abu Zaid (Azhar University); Dr. Zaki al-Milad (Saudi Arabia).

Secara umum, semua peserta menyerukan perlunya menawarkan ijtihad alternatif, ijtihad baru yang lebih kondusif bagi upaya memajukan peradaban Islam, khususnya terkait pemenuhan hak asasi perempuan, relasi gender yang adil dan peningkatan kedudukan perempuan dalam Islam, baik dalam ranah keluarga maupun dalam ranah publik. Semua sepakat perlunya membuka akses dan kesempatan bagi perempuan untuk berkiprah secara luas dalam berbagai bidang kehidupan sebagaimana saudara mereka laki-laki. (Musdah Mulia, Deklarasi Alexandria, http://www.islamlib.com/?site=1HYPERLINK “http://www.islamlib.com/?site=1&aid=1888&cat=content&title=klipping)

Salah satu tujuan konferensi, merumuskan Deklarasi Iskandariyah (Alexandria) yang akan menjadi panduan Islami bagi upaya pemenuhan hak asasi perempuan di dunia Islam, membangun kesetaraan gender dan kerja-kerja pemberdayaan perempuan di semua bidang kehidupan dan upaya-upaya membangun interpretasi agama yang lebih akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal dan sekaligus ramah terhadap perempuan.

Hanya dengan cara itulah kita dapat mengangkat kemuliaan dan kejayaan Islam sebagai agama yang peduli dan sangat berpihak pada kemaslahatan dan kemanusiaan. Islam adalah agama yang ramah terhadap perempuan. Semoga hal ini menjadi isyarat kembangkitan kembali peradaban Islam yang mengedepankan nilai-nilai kesetaraan, keadilan dan kemaslahatan untuk semua manusia, tanpa membedakan gender dan jenis kelamin. Semoga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *