Disperinaker Bangkalan Libatkan Unair dalam Penerbitan HKI Batik

(CHANDRA FOR KM) POTENSI LOKAL: Para pengrajin batik di Tanjung bumi saat melakukan proses membatik di kediamannya.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan bekerja sama dengan Universitas Airlangga (Unair) dalam penerbitan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) batik tulis khas Bangkalan.

Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Disperinaker) Bangkalan Salman Hidayat menyampaikan, sebelumnya penerbitan HKI untuk batik khas Bangkalan belum bisa dilakukan. “Ini memang sudah lama diminta dan diajukan oleh pengusaha, tapi belum pernah bisa terealisasi,” katanya.

Beberapa kendalanya yaitu dari pendanaan dan sistem seleksi untuk menentukan pembatik dinyatakan lolos dan akan dipelajari batiknya juga sulit. “Motif nya di sini sangat banyak, meskipun memang teknik khasnya sama-sama menggunakan Ghentongan,” ungkapnya.

Bacaan Lainnya

Beberapa waktu lalu, pihaknya mendapatkan tawaran kerja sama dengan Unair untuk berkolaborasi memilih dan mengkaji motif batik khas di Bangkalan yang kemudian akan berlanjut pada penerbitan HKI. “Tentu ini akan menjadi kesempatan baik. Sebab, kita nanti hanya bertindak sebagai penengah yang memutuskan. Batik yang akan dikaji juga dari mereka,” ulasnya.

Mantan Camat Tanah Merah itu berharap program itu akan segera dilaksanakan. Sebab, dengan adanya HKI, kemungkinan banyak produk batik khas yang ada di Bangkalan bisa terjual lebih luas.

“Kalau teknisnya, kapan dan bagaimana pelaksananya saya tidak tahu, tapi kemungkinan segera dilaksanakan,” harap Salman.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Bangkalan Moh. Rokib menuturkan, HKI itu merupakan aset daerah yang didapatkan dari berbagai macam produk khas di Bangkalan. Tentu, pemerintah daerah juga memikirkan prioritas tersebut, selain membantu para pengusaha, juga membantu pengemban daerah dari sektor industri dan usaha.

“HKI ini kan sesuatu yang membanggakan dan didapatkan karena memang layak menjadi kepemilikan dari daerah. Ya, harusnya diupayakan lebih aktif lagi,” jelasnya.

Politisi asal Desa Persen itu menilai, selain batik, ada banyak produk makanan dan minuman serta rempah yang khas Bangkalan yang belum memiliki HKI. “Lebih baik diupayakan dengan solusi lain, jika memang porsi pendanaannya kurang,” tutupnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.