Disperindag Usulkan Kemitraan dengan Poktan Atasi Tengkulak

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) MASIH RENDAH: Disperindag Pamekasan mengupayakan program kemitraan antara pabrikan dan poktan dalam praktik tata niaga tembakau.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN -Keluhan petani terhadap rendahnya nilai jual tembakau, mengharuskan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan berpikir keras. Sebab, di beberapa daerah, tembakau petani ditemukan masih terjual di bawah break event point (BEP)  atau titik impas yang ditetapkan.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Pamekasan Ahmad Sjaifuddin mengatakan, idealnya tembakau petani terjual sesuai BEP oleh pabrik. Namun, pembelian oleh tengkulak yang membuat harga menurun. Karena itu, pihaknya mengusulkan agar petani bersinergi dengan kelompok tani (poktan).

“Makanya, kami sedang mengupayakan itu. Agar petani bisa langsung ke pabrik melalui poktan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, jika petani sudah bersinergi dengan poktan, maka pihaknya bisa program kemitraan dengan pabrikan terkait penjualan tembakau petani. Kemudian, pabrik akan membeli tembakau petani melalui poktan masing-masing. Sehingga tidak perlu melalui pedagang atau tengkulak.

Kendati begitu, Ahmad mengaku memiliki fungsi pengawasan ke tingkat pabrik untuk memastikan tata niaga tembakau berjalan lancar. Selain itu, kedua belah pihak antara pabrik dan petani sama-sama diuntungkan. Namun, pihaknya belum membentuk tim pemantau tembakau.  Dia juga menambahkan, biasanya tim pemantau dibentuk dari kalangan masyarakat dan pemuda.

“Kalau pemantau belum dibentuk. Biasanya dari kalangan organisasi kepemudaan OKP,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jaya Makmur Kecamatan Pademawu Suto Wijoyo meminta pemkab meningkatkan fungsi pengawasan di tingkat bawah. Tujuannya agar petani merasakan keuntungan dari hasil tani tembakaunya. Sebab menurutnya, tembakau di tingkat petani hanya dibeli seharga Rp25 ribu untuk harga tertinggi.

“Padahal BEP tertinggi menyentuh angka Rp44 ribu. Itu sudah hasil daerah pegunungan,” ungkapnya kecewa. (ali/maf)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *