Dispertan Bebaskan Harga Tembakau yang Rentan Rugikan Petani

  • Whatsapp
MULAI PANEN: Dispertan Sampang enggan mengawasi dan mengatur harga tembakau mekipun berpotensi merugikan petani.

Kabarmadura.id/SAMPANG-Kendati sudah sekitar 50 persen tanaman tembakau di Sampang dipanen, namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, tidak banyak berbuat dalam mengawasi dan melindungi petani terkait penentuan harga. Sebab, sepenuhnya diserahkan ke mekanisme pasar.

Salah satu petani tembakau di Sampang, Abd Latif (42) berharap, pemkab hadir dan bisa memberikan solusi terkait harga tembakau petani yang lebih baik.

Selama ini, dia hanya bisa pasrah dengan keadaan, kendati harga tembakau kurang bersahabat, yakni hanya sekitar Rp40 sampai Rp45 ribu, bahkan ada yang lebih murah dari itu, tergantung kualitasnya.

Kata bapak dua anak itu, Pemkab Sampang sepertin kurang getol memperjuangkan nasib para petani tembakau. Sebab, setiap tahun, tataniaga atau sistem jual beli tembakau tetap begitu-begitu saja.

Kenyataan yang terjadi, jelas Latif, harga tembakau tidak bisa ditentukan oleh petani. Padahal, mereka yang mengetahui dan mengeluarkan ongkos produksi pertaniannya. Pabrikan secara sepihak menentukan harga. Dengan kata lain, pembeli yang menguasai dan menentukan harga, bukan penjualnya.

“Mau gimana lagi, kalau harga tembakaunya hanya segitu, iya diterima saja. Saya berharap pemerintah hadir dan bisa mengangkat nasib petani, bisa memperjuang harga yang lebih layak,”tukasnya,

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Dispertan Sampang Abdul Yazid mengatakan, luas tanaman tembakau di Sampang sekitar 4 ribu hektar, sementara yang sudah panen hingga saat ini diperkirakan mencapai 50 persen atau 2 ribu hektar.

Meski sudah banyak yang memanen, Pemkab Sampang secara terang-terangan tidak mengawal dan mengawasi harga jual beli tembakau di wilayahnya. Sehingga, tidak menjadi urusannya jika tembakau petani dibeli dengan harga yang kecil dari ongkos produksi.

“Sampai saat ini, tembakau yang sudah panen kurang lebih sudah 50 persen, tetapi kami tidak memantau dan mengawasi terkait harga, karena penentuannya ditentukan mekanisme pasar,” ucap Abdul Yazid kepada kabar Madura, Kemarin (5/9).

Yazid membeberkan, mayoritas tanaman tembakau yang panen itu, di wilayah utara, meliputi Kecamatan Omben, Karangpenang, Sokobanah. Sedangkan di kecamatan lainnya, masih sangat sedikit, karena proses penanamannya agak lambat.

Untuk harga di pasaran, Yazid tidak tahu secara pasti, tetapi hasil pemantauan dan laporan dari petani, rata-rata hanya berkisar Rp40 ribu. Ia mengakui, dengan harga tembakau segitu, belum bisa menjamin kesejahteraan para petani.

Sayangnya, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, hanya sebatas membantu petani dengan menyediakan bibit, pupuk dan mesin perajang.

“Harga tembakau yang sudah dipanen ini, untuk daun bawahnya sekitar Rp40 ribu per kilogramnya, sedangkan untuk daun atasannya kami belum tahu, karena belum melakukan pemantau lebih lanjut kelapangan,” kelitnya. (sub/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *