Dispora Sumenep Usulkan 5 Kesenian Dapat WBTB

  • Whatsapp
(FOTO: KM/MOH RAZIN) DILESTARIKAN: Sejumlah kesenian dan kuliner khas sumenep diusulkan untuk dipatenkan menjadi WBTB.

KABARMADURA.ID, SUMENEP -Dari ratusan ragam budaya tampaknya tidak semua diusulkan menjadi kesenian khas Sumenep. Hal itu terbukti, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Sumenep hanya mengajukan beberapa objek kesenian dan kebudayaan, serta kuliner khas Sumenep supaya dipatenkan menjadi warisan budaya tak benda (WBTB).

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disparbudpora Sumenep Robi Firmansah Wijaya mengatakan, sebelum mengajukan supaya dipatenkan menjadi WBTB, pihaknya melaksanakan rapat koordinasi dan pengkajian dengan sejumlah pihak yang kompeten di bidangnya.

“Tetapi karena keterbatasan biaya maka tidak semua kebudayaan kami kaji, dan hanya sebagian yang diusulkan agar ditetapkan sebagai WBTB,” katanya.

Dikatakannya, dalam mematenkan kebudayaan itu berbagai pihak yang dilibatkan, antara lain adalah tokoh peduli seni topeng, tokoh seniman dan budayawan, seniman tari muang sangkal, unsur seniman tongtong dan pegiat kuliner.

Dari hasil rapat yang digelar, terdapat lima item yang akan diajukan WBTB, di antaranya berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan, kemudian dua di antaranya yakni berkenaan dengan kuliner. Secara detail dia menyebutkan untuk seni dan budaya, yakni Topeng Dalang, Sintong, Tongtong. Kemudian untuk kuliner adalah kaldu kokot dan cake.

“Karena itu yang sudah dikaji dan merupakan khas asli Sumenep. Sudah sepakat supaya diusulkan ke ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk diberikan legalisasi,” ujarnya.

Diungkapkan Fobi, yang sudah diajukan perlu dilestarikan untuk menjadi budaya dan kuliner khas Sumenep supaya dapat pengakuan. Termasuk juga agar tidak diklaim oleh pihak luar daerah.

“Kalau yang diajukan kami optimis bakal diterima kalau tahun ini, karena persyaratan-persyaratan sudah lengkap,” imbuh Robi.

Ditambahkannya, Disparbudpora setiap tahun rutin mengajukan WBTB ke Kemendikbud. Di tahun 2019 lalu, pihaknya mengajukan Saronen supaya dipatenkan menjadi WBTB dan diterima. Sehingga saronen sudah dapat paten WBTB. Pada tahun 2020 Tari Muang Sangkal yang ditetapkan.

“Setiap tahun kami memang mengajukan satu saja, yakni Saronen dan sudah resmi menjadi WBTB. Sementara tahun 2020 ini, kami mengajukan enam tapi yang diterima satu,” tuturnya. (ara/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *