oleh

Distruptif Pendidikan  sampai Ustad Prematur

Oleh: Moh Kholilur Rahman*

Perkembangan zaman yang begitu cepat membuat pola stratafikasi sosial juga  semakin cepat dan adaptif.  Sehingga tidak dapat di pungkiri adanya gaya hidup yang begitu kurang konsisten terhadap keadaan. Seketika seseorang dapat mengatakan “Iya”, tapi di beberapa detik kemudian bisa mengatakan “tidak”.

Dalam pesatnya sebuah kemajuan yang sekarang kita kenal dengan Industri 4.0 dan  sudah mulai transisi ke industri 5.0. MUngkin sudah sepantasnya dapat mengintisari dari porosnya kehidupan di masa sekarang. Walaupun di satu sisi masih banyak kekurangan maupun kelemahan dari kesiapan sumber daya manusia (SDM) untuk bisa dapat disebut manusia yang maju.

Kenapa bisa  begitu? Semisal; manusia di sisi lain ingin mempunyai pemikiran yang lebih maju dalam berbagai aspek kehidupan. Akan tetapi itu hanya halusinasi belaka bukan lantas memperbaiki kualitas  intelektual. Adapun adanya peningkatan, hanya terpacu pada ranah yang sifatnya  eksistensial.

Akibatnya yang dialami sekarang, semakin banyaknya pendidikan  yang tidak bersifat formal maka itu tidak menjamin melahirkan orang yang benar-benar terdidik. Saya katakan media pembelajaran secara daring, seperti; membaca artikel lewat  blog maupun website, melihat di Youtube dan berbagai macam wadah keilmuan secara daring. Nah pendidikan semacam ini bisa saja memberikan sebuah pengajaran, tapi tidak dengan didikan secara karakter ataupun akhlak.

Akhirnya ada yang namamya distruptif pendidikan, yang semula dibentuk kurikulum dalam sebuah lembaga pendidikan, maka kini semua orang tidak memberlalukannya. Semua bisa belajar tanpa harus  tahu sumber yang  jelas dari mana ilmu yang sudah didapat, makanya sangat diperlukan  sebuah Sanad (silsilah)  keilmuan, sabagaimana santri diajari di pesantren.

Bisa dilihat sendiri di Indonesia bagaimana dari buah hasil pendidikan yang memiliki basis pengetahuan saja, tapi tanpa adanya didikan karakter. Tak heran bila  hasilnya banyak ustad-ustad prematur atau dalam bahasa kasar disebut  ustad karbitan. Sebenarnya ini yang nantinya dapat memicu adanya dekadensi moral dalam  dunia pendidikan. Karena sudah banyak  dijumpai beberapa ustad yang pemahaman agamanya sangat  tekstual (radikal) bahkan ekstrim.

Sampai di masa Lukman Hakim Saifuddin ketika ia menjabat sebagai menteri agama periode 2014-2019 lalu, pernah merilis beberapa ustad yang layak jadi penceramah di publik. Sekitar 200 ustad yang dirilis oleh Pak Lukman, salah satu di antaranya; Quraish Shihab, Muhammad Din Syamsuddin,  Abdullah Gymnastiar, Habib Jindan bin Novel, Dll. Oleh sebab itu, perlu rasanya sebuah filtrasi  terhadap guru atau ustad untuk di jadikan figur dalam manata keilmuan.

Ironisnya di Indonesia  walaupun kadang  sebagian sudah tahu kriteria seoarang ustad, masih saja dijadikan panutan dalam hal keilmuan. Seharusnya hanya dijadikan sebagai tambahan wawasan, bukan malah ikut andil dalam tindakan. Sangat sulit memang kalau sudah terlanjur adanya doktrinasi pemikiran.

Sebenarnya yang membuat seseorang mempunyai ketertarikan, khususnya di kalangan milenial pada ustad semacam itu. Kadang disebabkan karena ustad tersebut baru hijrah lalu mengajak masuk Islam secara kaffah atau memang sebelumnya fokus pada kajian hijrah. Pendidikan seperti ini sebenarnya tidak salah, tapi yang menjadi persoalan adalah keilmuan yang ia dapat ketika disampaikan kapada para jamaah atau pendengarnya. Bisa jadi dalam memahami sebuah dasar agama hanya secara tekstual.

Padahal kalau dirunut dalam output menejemen pendidikan seseorang paling tidak memahami sebagaimana yang disampaikan Mohammad Nuh dalam bukunya yang berjudul “Menyemai Kreator Peradaban”. Di sana dijalaskan ada beberapa poin penting; pertama, pendidikan karakter yang dapat menumbuhkan kesadaran sebagai seorang hamba. Kedua, menumbuhkan karakter intelektualitas dan terakhir dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Dari tiga hal di atas dapat dipahami bahwa  seorang guru maupun  ustad harus mencerminkan bukan hanya bagian dari  garis vertikal (Tuhan), akan tetapi juga horizontal (manusia). Karena kita juga tidak ingin ada seorang pendidik yang agamis tapi tidak nasionalis. Sehingga imbas daripada itu dapat merongrong persatuan bangsa yang sudah  dibangun dengan penuh perjuangan oleh  pendahulu Negara Kesatuan Republik Indonesia  ini.

Kalau sudah seperti ini, maka nantinya akan dapat menghadirkan konflik antar kelompok atau golongan tertentu yang berbeda pemikiran. Disitulah saya kira  pentingnya sanad keilmuan yang runut, agar dapat menyatukan sebuah pemikiran yang sama. Walaupun kadang satu sisi dihadapkan pada Khilafiah. Tapi mimimalnya tidak saling menyalahkan, apalagi mengkafirkan.

Jadi sekarang intinya, bagaimanapun kondisi zamannya,  kita sebagai generasi anak bangsa yang berwawasan keilmuan luas dan paham akan kondisi pergulatan sebuah ilmu pengetahuan dalam  pendidikan. Maka paling  tidak, tidak gampang terprovokasi oleh ilmu yang hanya didapat secara instan. Sehingga nantinya kalau sudah paham akan hal itu, maka kitalah  yang akan mempolopori sebuah khazanah keilmuan yang jelas sanadnya. Ilmu yang juga mengajarkan pendidikan karakter, cinta dan kasih sayang.

 

*Mahasiswa FakultasKeislamanJurusanHukumBisnis Syariah Universitas Trunojoyo Madura (UTM) . Asal Pamekasan

 

 

Komentar

News Feed