oleh

Ditinggal Pelanggan Bule, Cerita Nestapa Tukang Cukur Madura di Pulau Dewata

Kabarmadura.id-Wabah Covid-19 juga merebak ke Pulau Bali. Pulau Dewata ini menjadi salah satu pintu masuk virus mematikan di Indonesia. Yakni, dengan adanya Bandara Internasional Ngurah Rai Kuta, Bali. Kondisi tersebut memaksa penghasilan sejumlah perantau Madura mengalami penurunan, termasuk tukang cukur Erik Riyanto.SYAHID MUJTAHIDY, KABAR MADURA

Erik. Begitu sapaan familiar dari pemilik pangkas rambut di Jalan Raya Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali. Dia sejatinya berasal dari Desa Jambu, Kecamatan Burneh, Bangkalan.

Di tengah merebaknya Covid-19 ini, Erik menceritakan masih membuka pangkas rambut di Pulau Dewata, meskipun penerima jasanya menurun. Dijelaskannya, hal itu tidak terlepas dari masa paceklik yang lebih mementingkan menyambung hidup dari pada potong rambut.

“Pekerjaan dari segi penghasilan sangat menurun tajam. Untuk saat ini, priotritas utama adalah bisa bertahan hidup. Orang-orang jarang potong rambut, karena di zaman paceklik ini perut lebih penting dari pada rambut. Pelanggan saya bilang begitu yang ke sini,” ceritanya kepada Kabar Madura, Senin (27/4/2020) siang.

Lebih lanjut, perantau yang juga mencintai Madura United ini menambahkan, pelanggan dari warga negara asing juga banyak sebelum wabah Covid-19. Saat ini, dia harus kehilanggan pelanggan bulenya. Bahkan, menurutnya, pelanggan bule bisa setiap hari datang.

“Sekarang jarang ada bule potong rambut ke sini, dulu sebelum wabah Covid-19 banyak bule yang potong rambut sama saya, bahkan setiap hari ada bule yang datang,” sambungnya.

Di samping itu, Erik menjelaskan, di Bali sudah sama dengan beberapa daerah lain yang menerapkan untuk mengurangi mobilitas, jaga jarak ketika berinteraksi, serta menggunakan masker ketika keluar rumah.

Akan tetapi, kata Erik, di Pulau Dewata masih belum menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Diimbau untuk di rumah saja. Jika memang harus ke luar rumah untuk kepentingan, maka wajib melakukan protokoler kesehatan yang dianjurkan, seperti menggunakan masker, jaga jarak, hindari memegang hidung, mata dan mulut sebelum mencuci tangan dengan sabun,” terangnya.

“PSBB, hingga saat ini Pemprov (Pemerintah Provinsi) Bali masih belum berencana mengajukan PSBB, mungkin karena sebaran transmisi lokal masih sedikit,” sambung Erik. (idy/nam)

Komentar

News Feed