oleh

Diundang Korsel, Bupati Sumenep Paparkan Pengembangan Pariwisata

Kabarmadura.id/Sumenep-Bupati Sumenep A Busyro Karim kembali mengukir sejarah. Ia diundang ke Korea Selatan (Korsel) untuk menjadi pemateri pada kegiatan ‘2019 International Saemaul Development Conference’.

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Institure for International Development Cooperation, Yeungnam University, Korsel.

Acara yang berlangsung pada Kamis-Senin (21-25/11) itu, Bupati Busyro Karim didampingi oleh ibu Nurfitriana Busyro Karim, kepala Bappeda Kabupaten Sumenep, direktur PT. BPRS Bhakti Sumekar Sumenep serta Alumni Yeungnam University Korsel, Edy Suprayitno.

Di Hotel Inter-Burgo Daegu, Manchon-dong, Daegu, South Korea yang menjadi tempat berlangsungnya acara, bupati menuyampaikan materi berkaitan dengan “Community Based Tourism Development in Sumenep Regency”.

Pembahasannya, seputar spesifikasi pada Pulau Gili Iyang di Kecamatan Dungkek sebagai ikon baru pariwisata kesehatan di Sumenep.

Adapun peserta pada konferensi tersebut terdiri dari berbagai negara, baik dari kawasan Asia maupun Afrika yang mayoritas membahas tentang bagaimana pembangunan di negara masing-masing.

Nurfitriana Busyro Karim bertindak sebagai translator dari materi yang disampaikan bupati Sumenep Pembahasan dan diskusi terkait dengan Gili Iyang berlangsung dengan guyub dan saling melengkapi informasi antarnegara masing-masing.

Pada kesempatan itu, yang juga menjadi pemateri, adalah Martin Tafara Dinha dari Zimbabwe, Rhee Jaehoon dari Chairman of Gyeongbuk Technopark serta Jun Jin Young dari Yeungnam University.

Dari Kabupaten Sumenep, Edy Suprayitno yang merupakan alumni dari Yeungnam University juga menyajikan tentang “Community Based Tourism Development” yang fokus pada wisata Pantai 9 di Kecamatan Giligenting.

“Setelah penyampaian materi, dilanjutkan dengan diskusi berkaitan bagaimana aspek keberhasilan dari Pantai 9 dan bagaimana dengan negara lainnya di Asia dan Afrika,” kata Edy.

Poin penting dalam konferensi internasional tersebut, adalah tentang pembangunan berkelanjutan untuk Gili Iyang, harus terus dilakukan dengan mengacu pada proyeksi pembangunan jangka panjang.

Fokus utama dari obyek wisata tersebut adalah oksigen, sehingga perlu benar-benar dijaga dari berbagai aspek yang dapat mengurangi kandungan oksigen di pulau tersebut.

Kemudian, Pantai 9 di Kecamatan Giligenting menjadi bukti adanya bottom up approach dalam konteks implementasi pembangunan di Kabupaten Sumenep. Oleh karena itu, dinilai perlu sinergitas dengan top down approach guna memaksimalkan berbagai indikator wisata yang baik.

Setelah acara tersebut, pada Selasa (22/11), dilanjutkan dengan seminar internasional bertajuk “International Seminar on Rural Development in Indonesia” yang bertempat di Gedung Perpustakaan Yeungnam University.

Adapun pembahasannya, terkait dengan seminar tersebut, yakni bagaimana kebijakan, implementasi dan komitmen Pemkab Sumenep dalam rangka pembangunan dalam konteks pertanian.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Bappeda Sumenep Yayak Nurwahyudi juga memberikan penjelasan bagaimana perencanaan pembangunan bidang pertanian di Sumenep.

Sementara beberapa poin yang bisa di aplikasikan di Sumenep berdasarkan hasil seminar, antara lain adalah perlunya kemitraan antara kelompok tani, pemerintah, masyarakat serta perbankan lokal sehingga keselarasan pelaksanaan pembangunan bidang pertanian benar-benar dapat terlaksana dengan baik.

Rupanya, konsep Bank Nonghyup Korsel menjadi topik pembahasan, bagaimana bank lokal bersinergi dengan baik dengan pemerintah lokal, kelompok tani dan masyarakat sehingga membangunan komitmen yang sama bidang pertanian.

Untuk itu, rombongan dari Sumenep juga dari unsur BPRS Bhakti Sumekar Sumenep, yang dihadiri oleh Direktur Utamanya Novi Sujatmiko, Bank Nonhyup, serta bagaimana akselerasi pembangunan bidang pertanian di Sumenep, menjadi salah satu rujukan dalam rencana implementasi di Sumenep.

Kegiatan bupati selama di Korsel tak berhenti hanya disitu, bupati Sumenep juga berhasil melakukan kerjasama dengan Global Development Foundation dalam hal program pengembangan pedesaan melalui modernisasi pertanian dan Saemaul Undong.

Perjanjian tersebut, antara bupati Sumenep dengan Chairman of Global Development Foundation Korsel, yakni Prof. Kim Kwang Soo, Ph.D.

Terdapat dua item utama dalam kerjasama tersebut, yakni berupa program pengembangan pertanian di Sumenep berdasarkan penelitian dan pengalaman dari Saemaul Undong, serta pengembangan ekonomi Korea Selatan.

Selain itu, berupa transfer ilmu pengetahuan dan teknologi terkait program pengembangan pedesaan.

Selama di Korsel, bupati Sumenep juga diberi kesempatan untuk mengirimkan tiga calon mahasiswa S2 ke Yeungnam University untuk diberi beasiswa oleh Yeungnam University, baik bidang pertanian, bisnis maupun pemerintahan.

Tentunya, hal itu menjadi kesempatan baik bagi Pemkab Sumenep dalam upaya peningkatan kompetensi. (ong/waw)

 

Komentar

News Feed