oleh

DKPP Kabupaten Sumenep Kekurangan Anggaran Program Pangan

KABARMADURA.ID, Sumenep – Kebutuhan pangan di Kabupaten Sumenep belum terpenuhi. Khususnya untuk 27 kecamatan yang terbagi dari 330 desa dan 4 kelurahan. Saat ini, pemenuhan pangan hanya berkutat pada tiga desa lantaran keterbatasan anggaran. Hal ini diakui, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumenep Bambang Heriyanto, melalui Kepala Bidang (Kabid) Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Yan Yan Heryana, Senin (05/10/2020).

Menurutnya,  tiga desa penerima bantuan rawan pangan, masing-masing, Desa Sabuntan Kecamatan Sapeken, Desa Montorna Kecamatan Pasongsongan, dan Desa Bulle’ en Kecamtan Batu putih. Mekanisme bantuan tersebut melalui kelompok tani (Poktan). Saat ini jumlah Poktan secara keseluruhan mencapai 3.895 kelompok berpotensi mendapatkan bantuan pangan.

Dia menjelaskan, anggaran yang disediakan untuk program tersebut sebesar Rp1,5 miliar lebih. Dana itu nantinya, akan direalisasikannsecara bertahap. Dengan adanya bantuan pangan diharapkan bisa membantu masyarakat miskin yang saat ini sedang kelaparan. Terlebih, dimasa Covid-19.

“Sementara masih tiga desa, sebanyak 75 poktan penerima. Insyallah program ini berkesinambungan, semuanya akan berjalan sesuai mekanisme yang ada. Kedepan anggaran khusus ketahanan pangan akan terus disalurkan,” janjinya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari akan terus mendorong agar pemkab mampu menjadikan kebutuhan pangan sebagai prioritas utama. Dia menegaskan adanya pandemi Covid-19 menjadikan sejumlah daerah di Sumenep mulai mengalami defisit beberapa kebutuhan pokok.

Meski demikian masih bisa diatasi, tidak ada salahnya jika mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.Sebab, ketahanan pangan merupakan hal penting untuk mendukung maju mundurnya suatu negara. Guna mewujudkan ketahanan pangan.  “Dengan adanya bantuan pangan maka masyarakat Sumenep tidak kekurangan pangan,” tukasnya.

Menurutnya, mengintensifikasi sisi produksi bisa mengatasi pengangguran pada masa covid. Selain itu dari sisi konsumen perlu melakukan penganekargaman pangan agar mengurangi ketergantungan terhadap beras. Seperti makan beras sehari dua kali atau sekali biar konsumsi beras berkurang.

“Tidak kalah penting yang perlu diperhatikan adalah, pengelolaan distribusi untuk daerah-daerah yang rawan pangan serta bentuan yang memadai,” pungkasnya (imd/ito)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed