DLH Bangkalan Biarkan Pengerjaan Pembangunan TPS3R Molor

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) SEPI: Pengendara sepeda motor melintas di depan bangunan TPS3R di Desa Mlajah, Bangkalan, kemarin.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Pembangunan tempat pengolahan sampah dengan sistem reduce, recycling, resite (TPS3R) belum selesai. Padahal pembangunan tersebut ditargetkan harus selesai pada 31 Desember 2020. Meski begitu, kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang melakukan pembangunan dan menangani pengolahan tersebut tidak mendapatkan sanksi. Bahkan diberikan keringanan selama 15 hari pengerjaan.

Kepala Bidang Pengolahan Limbah dan Sampah Bahan Berbahaya dan Beracun Dinas Lingkungan Hidup Bangkalan Yudistiro menjelaskan, pembangunan TPS3R sebenarnya sudah selesai. Sebab, dana pembangunan sudah dibelanjakan keseluruhan. Hanya saja para KSM kesulitan mencari tukang bangunan.

Bacaan Lainnya

”Kalau perbelanjaan bahan sudah selesai, hanya tinggal finishing saja, karena kemarin sempat kesulitan mencari kuli bangunan lantaran pandemi Covid-19,” jelasnya.

Menurut Yudistiro, keterlambatan tersebut juga disebabkan oleh ketersediaan bahan bangunan dari pabrikan. Sebab, ada beberapa bahan yang harus dipesan dulu. Meski begitu dirinya tetap mempertegas dan memanggil pengurus KSM setiap dua hari sekali. Yudistiro tidak mau memberikan toleransi waktu lagi.

”Saya sudah berikan toleransi Lima belas hari, dan saya harap ini sudah bisa diselesaikan,” paparnya.

Ada empat TPS3R yang sudah tahap finishing. Yakni di Mlajah, Kraton, Pangeranan, dan Tonjung. Sedangkan untuk TPS3R Pejagan masih menunggu ketersediaan bahan bangunan dari pabrikan. Tetapi tetap harus dimaksimalkan tuntas dalam 15 hari kedepan. ”Pengerjaannya oleh KSM, bukan menggunakan kontraktor, sehingga bisa diberikan toleransi jika memang dibutuhkan,” sebutnya.

Salah satu pengurus KSM di Desa Mlajah, Zainal Arifin menyampaikan, TPS3R sudah tuntas dibangun. Tinggal menunggu finishing dan sedikit dirapatkan di sekitarnya saja. Sedangkan untuk alat pengangkut dan mesin pencacah sudah ada, tinggal dipindahkan ke lokasi saja. ”Sudah selesai, tinggal mempersiapkan operasionalnya saja,” ungkapnya.

Zainal mengaku sempat kesulitan mendapatkan kuli bangunan. Sebab lingkunganya termasuk zona yang rawan Covid-19. Sehingga semula sudah sesuai dengan perencanaan, kemudian berkurang. Pembangunan tersebut bisa selesai dengan waktu yang direncanakan jika 15 kuli bisa bekerja setiap hari. Tetapi ternyata tidak.

”Hanya beberapa minggu saja tukang bangunan lengkap, setelah di akhir bulan November perlahan berkurang dan tidak bisa bekerja,” pungkasnya. (km59/mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *