DNA Kelas Kampung

  • Whatsapp

Oleh: Eeng Nurhaeni*)

Bermula dari pidato Presiden Jokowi pada acara ulang tahun suatu partai politik (11 November 2021) lalu, bahwa mental orang Indonesia kerap merasa inferior, terutama ketika berhadapan dengan orang-orang bule. “Saya tidak ingin mental inferior ini masih bercokol dalam mentalitas bangsa kita. Kadang-kadang saya berpikir apakah terjajah terlalu panjang ini memunculkan DNA orang terjajah dan mental inlander? Jangan-jangan seperti itu, meskipun kita sudah 76 tahun merdeka,” tegas Jokowi.

Kalau kita membaca novel Jenderal Tua dan Kucing Belang (kemudian disebut ‘JTKB’), tersingkaplah karakter beberapa tokoh yang memiliki ciri-ciri yang disebutkan presiden kita, yang juga dikenal dengan istilah “DNA Kelas Kampung’”. Dalam istilah psikologi kita mengenal Inferiority Complex, suatu watak dan tabiat seseorang yang merasa dirinya lebih rendah dari semua orang, bahkan dari setiap bangsa. Sikap rendah diri ini berbeda dengan sikap rendah hati, tawadu, atau legawa.

Lebih lanjut Presiden Jokowi menegaskan, bahwa bangsa kita sudah saatnya harus berani mengubah mental inlander tersebut. “Sebab,” ujar Jokowi, “bangsa kita meraih kemerdekaan berkat perjuangan keras, dan bukan karena hadiah atau pemberian. Kita harus mulai membangun rasa percaya diri, rasa optimisme, dan itulah yang dinamai gerakan perubahan atau gerakan restorasi.”

Spirit kemerdekaan

Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam JTKB, telah mengetuk hati kita agar senantiasa mengenal diri sendiri. Di dalamnya terungkap beragam konflik sosial maupun konflik batin yang meliputi kepedihan, kesendirian, kegagalan, ketakutan hingga stigma-stigma politik yang sangat berperan kuat menciptakan mentalitas kaum inlander. Di sisi lain, novel tersebut bicara juga mengenai harapan akan kebahagiaan dengan mengenali diri sendiri, dan pada ujungnya mengenali kesempurnaan dan kasih-sayang Tuhan.

Banyak kepingan dari karakteristik dalam JTKB – sebagai cermin manusia Indonesia – yang membentuk keseluruhan jalan cerita. Momen-momen yang menghancurkan, hingga mengangkat dan menginsafi keberadaan dan kedalaman makna hidup. Keputusan yang membuat orang Indonesia harus sanggup bertahan. Orang-orang yang singgah dalam kehidupan sebagai warga dunia ini, hingga dapat membentuk dan menegur segala kekurangan yang ada pada diri kita sebagai bagian dari “manusia Indonesia”. Di situ juga terungkap tentang orang-orang yang saling mencintai, bahkan saling melukai.

Terkadang pembaca dibuat bingung menyaksikan fenomena serpihan dan kepingan dari watak sang tokoh. Tetapi kemudian, pada bab-bab berikutnya akan kita temukan harmoni dan kesenyawaan, hingga membuat kita menengok lagi pada lembaran-lembaran sebelumnya, bagaikan teka-teki yang didesain secara apik dan menarik. Kepingan-kepingan yang berserakan itu, menjadi satu-kesatuan tak terpisahkan, yang membuat kita geleng-geleng kepala, betapa imajinasi sang penulis bagaikan Perancang semesta berikut hukum-hukum alamnya yang saling terkait bersinambung.

Novel tersebut sama sekali tak mengajak pembaca pada sikap apatis, pasif, maupun fatalistik. Ia menekankan pentingnya manusia Indonesia agar terus bergerak dan berusaha, karena gerak dan usaha adalah bagian dari rancangan Maha Sempurna tadi. Ia seakan membimbing dan menuntun pembaca dalam upaya mengenali kesempurnaan Tuhan dengan jalan mengenali diri sendiri. Kita juga akan terhindar dari lompatan kesimpulan bahwa segalanya sudah digariskan dari sononya, seakan-akan kebaikan yang kita lakukan adalah suratan yang sudah termaktub.

Tragedi dalam JTKB

Tentu ada tragedi-tragedi yang dialami beberapa tokohnya. Sebagaimana cinta dan kebahagiaan yang bisa hilang terbawa angin. Tapi seumumnya orang kebanyakan, mereka lebih cenderung memilih kenyamanan dalam penjara ketimbang hidup berisiko untuk menggapai kebahagiaan. Hal ini pun menjadi penyebab yang melahirkan mental inlander yang disinggung Jokowi tadi, karena tidak sedikit orang yang memilih mati rasa ketimbang rasa sakit dahulu, barulah berenang ke tepian. Mereka seakan menemukan kenyamanan di dalamnya, sehingga tak merasakan sesuatu dianggap lebih baik ketimbang merasakan sesuatu untuk mencapai hasil yang dituju.

Novel JTKB terus mengantarkan pembaca pada syiar yang membangun power of influence, melalui orang-orang yang pada mulanya tak tahu diri, sehingga mengingkari karunia Tuhan. Padahal, mengetahui diri sendiri, serta memahami apa-apa yang menimpanya, adalah bagian dari desain Sang Pencipta juga. Ada juga tokoh yang sekonyong-konyong menisbatkan kemalangan hidupnya sebagai “hukuman” yang ditimpakan Tuhan kepadanya.

Sebagaimana tokoh Bi Marfuah (dalam Perasaan Orang Banten), kebanyakan orang kurang menyadari, bahwa kasih sayang seorang ibu kepada anak (Sodik) seakan menggambarkan kasih sayang Tuhan kepada hamba yang dikasihi-Nya. Jadi, semurka apa pun Tuhan kepada kita, Dia tak akan pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam penderitaan dan kemalangan tak tertanggungkan sepanjang mereka tetap berharap, berdoa, dan berusaha. Kemalangan yang menimpa bukanlah semata-mata “ujian”, karena Tuhan bukanlah guru yang memberi kita ujian, lalu berdiam diri atau mengamati dari jauh sampai sejauh mana kita bisa mengerjakan soal-soal tersebut. Melalui tokoh Kiai Muhaimin, novel Perasaan Orang Banten sepertinya ingin membimbing pembaca, serta menekankan bahwa kasih sayang Tuhan tiada terhingga, hingga melampaui kasih sayang ibu terhadap anak-anaknya.

Bayangkan, tokoh Sodik yang telah membuat ibunya murka dan marah selama bertahun-tahun, kemudian ia pulang sambil membawa isteri yang telah dinikahinya, kemudian si ibu luluh hatinya hingga berubah pendiriannya. Bandingkan dengan seorang ibu yang memarahi anaknya habis-habisan, kemudian si anak tersandung dan jatuh dari tangga. Bahkan, meskipun si ibu baru saja berurai air mata karena kemarahannya, begitu melihat anaknya terjatuh, ia serta-merta berlari untuk senantiasa menolongnya. Secara implisit Kiai Muhaimin menyatakan, bahwa itulah kasih sayang manusia, sedangkan kasih sayang Tuhan jauh lebih besar daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, kecuali jika hamba yang ditolong-Nya tidak memiliki kepekaan untuk mensyukuri pemberian-Nya.

Pesan moral JTKB

Dengan menengok ke dalam, seseorang bisa melihat sisi berbeda dari penderitaan dan kemalangan yang dialami para tokoh dalam novel JTKB. Persepsi atas berbagai hal bergantung kepada cara pandang mereka masing-masing. Kesedihan bisa dipandang sebagai gerbang menuju kebahagiaan. Demikian pula kegagalan bisa dilihat sebagai awal dari kesuksesan.

Filosofi seperti ini boleh jadi menjadi arus utama pemikiran penulisnya, Hafis Azhari, yang lahir di tanah Banten Utara (Cilegon) dan pernah berstudi di Universitas Islam Negeri, Jakarta, pada jurusan Filsafat. Ia seakan mengacu dari filosofi hidup, bahwa ketika manusia menerima anugerah Tuhan, selaiknya ia lebih mencintai Sang Pemberi karunia ketimbang fokus pada karunia-Nya tersebut. Sehingga, ketika karunia itu luput atau diambil kembali oleh-Nya, ia senantiasa menerimanya dengan kesabaran, ketabahan, dan dengan penuh lapang dada.

Demikian pula ketika salah seorang tokoh tergelincir pada dosa dan kesalahan, janganlah ia berkutat pada rasa bersalah akibat dosa-dosa, serta lupa mengingat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pengampun atas segala dosa. Beberapa tokoh memiliki karakteristik yang merasa dirinya telah hancur luluh, namun ia lebih terfokus pada kehancurannya, dan bukan mengingat Sang Pembentuk dan Sang Pembolak-balik hati dan kalbu yang tengah dilanda kepiluan..

Mereka lebih cenderung fokus pada rasa sakit, ketimbang pada Kekuatan Yang Menghilangkan rasa sakit. Kala terluka, mereka lebih berfokus pada lukanya, dan bukan pada Dia Sang Penyembuh segala luka. Begitupun di kala takut karena stigma-stigma PKI yang disusupkan ke dalam otak, mereka lebih terfokus pada rasa takutnya, dan bukan pada Sang Maha Pelindung, Sang Penyejuk hati dari segala keputus-asaan atau kehilangan harapan. Pada hakikatnya, kelemahan itu karena mereka lebih berfokus pada makhluk, dan bukan pada Sang Penciptanya.

Serpihan-serpihan kisah dalam JTKB, sebagaimana novel Pikiran Orang Indonesia yang saya jelaskan dalam www.kompas.id (14 November 2021), mengisyaratkan bahwa bangsa ini memang banyak urusan. Tetapi, penulis seakan mengarahkan pembaca melalui narasi-narasinya, bahwa jika bangsa ini ingin terbebas dari mental inlander dan keterjajahan, maka kita harus mengulik ke relung-relung terdalam tentang hakikat diri kita. Baginya, rakyat Indonesia tidak boleh skeptis dengan situasi gaduh dan carut-marut di segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena bagaimanapun, kita harus membenahi apa-apa yang rusak sesuai dengan kemampuan kita. Secara implisit narasi tersebut mengumandangkan filosofi hidup yang banyak dianut para ulama dan kiai NU agar kita berjuang bersama untuk membenahi apa yang masih mungkin kita benahi (maa lam tudroku kulluhu la tutraqu kulluhu), yakni, apa yang tak bisa dikerjakan semuanya, jangan ditinggal semuanya! 

*) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, menulis esai dan kritik sastra di berbagai harian luring dan online

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *