Doa Mahabbah dan Terompah Kayu

  • Whatsapp

Tatkala kemarau temui hujan, kekasih datang menuai rindu. “Ambillah detakku untuk menekuni kekasih yang merindu ruah”.

Malam-malamku tenggelam memikirkannya. Aku selalu melihat dia di hari Rabu. Berjalan menuju masjid dengan terompah kayu dan tas yang disandang di sebelah kanan bahunya. Kami berada di kampus yang sama. Dengan sepeda motor bebek bercoreng oren di bawah sadelnya.

Aku selalu memastikan keadaan terompah kayu dan sepeda motornya di masjid. Kalau melihat kedua benda itu, pasti ia ada di dalam Masjid. Benar saja, aku melihat punggungnya dari barisan shaf perempuan. Kalau pun kedua barang itu tidak ada, terkadang aku menunggunya di gardu. Setelah dia masuk masjid. Aku pun masuk masjid juga. Dari jarak jauh aku mengikuti dari belakang. Sampai-sampai ia terlihat kecil dalam pandangan. Aku tidak berani melihatnya dari dekat.

Aku tidak pernah merapikan kerudung ketika tidak sengaja atau akan berpapasan dengannya. Bahkan aku tidak pernah memandangnya terlalu lama. Bagiku memandang terompah kayu dan sepeda motornya saja sudah cukup. Itu sungguh mengobati rasa yang bergejolak di hatiku. Entah apa yang aku rasakan saat itu. Mungkin aku mulai jatuh cinta.

Aku bersyukur tidak berada di jurusan dan kelas yang sama. Setidaknya jantungku tidak berdetak panik setiap hari. Karena berada dalam satu kelas yang sama.

Dia muazin setiap hari Rabu, waktu sholat Zuhur di masjid kampus. Suaranya yang khas membuat semua mahasiswa tahu kalau dia Ahmad. Dia dijuluki penyeru azan yang merdu. Dari pertama suara itu aku mencari-cari tentangnya.

Dari perasaan yang tak menentu dalam masjid, tiba-tiba hilang oleh merdunya suara Adzan, air mataku menetes menghayati kalimat sang muazin. Sembari menjawab azan hatiku berkata “Ya Allah janganlah Engkau buat daku berlebihan dalam mencintainya” dengan diikuti ucapan istigfar setelahnya.

“Ya Allah, jika lelaki itu adalah yang terbaik untukku, maka ketuklah hatinya untukku.”

Aku terus merapal doa dan bertengadah “saya niatkan membaca surah Al-Baqarah ayat 165 dan surah Ali Imran ayat 14 kepada Ahmad. Agar dia memiliki rasa kasih dan cinta serta selalu merindukan daku, Yuhibbunahum kahubbillah walladzina’amanu ashaddu hubballillah zuyyina linnasi hubbussyahawati minannisa i walbanin wal qonatiril muqontara”. Dalam malam-malamku bermahabbah. Do’a adalah kenicayaan yang aku tunggu ijabah-Nya. Nostalgia sepertiga malam ku.

Rabu berikutnya. Usai sholat berjamaah. Aku melihat dia di luar masjid seperti kebingungan mencari sesuatu. Aku melihatnya dari dalam masjid. Dia menunduk dan matanya bergerilya seperti meraba sesuatu. Satu persatu mahasiswa yang turun dari masjid juga seperti membantunya. Aku penasaran kira-kira apa yang sedang dicari oleh banyak orang itu.

Aku turun dan menanyakan kapada mahasiswi yang sedari tadi duduk di amperan masjid.

“Meraka sedang mencari apa ya mbak?” Tanyaku.

“Sandal mbak, pemilik sandal yang tadi azan,” jawab mahasiswi seperjuangan itu.

“Oooh begitu, ” pahamku.

“Iya mbak, ” jawabnya.

Naluri manusiawi ku ingin membantunya. Ini bukan perihal rasa tapi naluri. Karna cukup lama tak kunjung ketemu. Pada akhirnya aku juga mencari-cari.

Dari sayup-sayup terdengar mereka yang membantu menanyakan perihal sandalnya seperti apa. Bagiku, aku yang membantu tak perlu menanyakan itu, karna aku tau sekali dan bahkan sangat mengetahui bentuk sandal dia. Ya terompah kayu yang selalu ia pakai selesai berwudu’.

Tak lama mencari, aku melihat terompahnya di parit. Mungkin tak sengaja tertendang mahasiswa yang lain ketika turun dari masjid. Namun, aku bingung bagaimana cara mengatakannya. Detak jantungku panik. Aku tak ingin mendekatinya. Tapi bagaimana aku memberi tahunya.

Aku menghela nafas, berusaha untuk tenang. Dan memikirkan cara untuk memberitahunya. ideku muncul.

“Mas..mas..mas..beritahu dia, terompahnya ada di sini,” ujar aku pada salah satu mahasiswa yang berjarak sekitar 5 meter.

“Oooh iyaa, benar  yang ini ya mbak. Makasih mbak,” titah lelaki yang tidak ku kenal itu.

“Hey Ahmad, ini terompah mu ada di parit,” ujar lelaki itu.

Dari kejauhan penyeru azan itu melihat ke arahku. Dan aku langsung berbalik badan, bergesa-gesa untuk pergi.

Dari sayup-sayup percakapan aku mendengar, “Dari mana kamu tau ini terompah ku kawan, padahal aku tak mengenal mu,” ujar penyeru azan itu.

“Aku juga tidak tau. Tadi ada seorang perempuan memberi tahu ku,” ujar lelaki itu.

“Nah itu tuh tuh tuh dia tuh,” lelaki itu melanjutkan. Seperti menunjuk.

Aku tak sekali pun berbalik arah. Langkah ku tergesa-gesa. tidak tau lah dia melihatku atau tidak. Dan Kalau pun melihat pasti dari belakang dan kondisi yang jauh.

Rabu selanjutnya. Kali ini aku lambat masuk masjid. Azan telah berkumandang. Bertanda mulai masuk sholat Zuhur. Biasanya aku mendengarkan suara Adzan di dalam Masjid. Karna ada beberapa hal yang yang harus kuselesaikan di perpustakaan. Sehingga, rutinitas ini tak bisa kulakukan. Aku berwudhu dan masuk masjid, iqamah mulai dikumandangkan.

Di pelatar masjid aku duduk sembari memakai sepatu. Terdengar bunyi langkah kaki nyaring tok..tok..tok..tok..tok, yang membuat aku mangalihkan pandangan pada irama itu. Aku yang dalam keadaan duduk menunduk menoleh ke samping kanan. Aku melihat kaki dengan terompah kayu. Benda yang ku kenali, lalu aku mendongakkan wajah. Benar saja dia yang ku maksud. Sepertinya dia akan melintas di depanku. Aku menunduk kembali. irama itu semakin nyaring.

Dan sekarang laki-laki yang aku kagumi itu berjalan ke arahku. Dia semakin dekat. Allah, jantung ini berdetak hebat. Aku menghirup nafas dan mengepal tanganku. Aku berpapasan dengannya. Aku menunduk, dengan lirih dalam hati ku ucapkan, “Assalamualaikum bang jago adzan, ampun bang jago..”.Malam harinya aku tergiang dan senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi siang.

Nomor baru masuk ke WhatsApp-ku,  hal biasa dan sering kudapatkan. Mungkin seseorang pegiat komunitas sastra yang mengundang untuk mengisi kajian kesusasteraan, mengingat aku gemar menulis cerpen dan puisi di media.

“Assalamualaikum wr.wb”

“Waalaikum salam Wr. Wb, iya ini dengan siapa”

“Saya satu kampus dengan sampean. Saya mahasiswa semester akhir. Mohon maaf sebelumnya, saya mengambil nomor kontak sampean di papan pengumuman kampus pada pamflet kajian sastra. Sebulan lalu saya baca puisi sampean berjudul “Suami Siti Khadijah” saya sangat tersentuh pada puisi itu dan saya menyukainya. Setelah saya baca biodata penulis, ternyata sampean satu kampus dengan saya. Saya Ahmad, salam kenal. Sering mengumandangkan azan di masjid kampus”.

Aku kaget baca pesan itu. Ternyata pesan dari lelaki yang kukagumi. Bahasanya sopan sekali. Aku bingung harus jawab apa. Dan akhirnya kujawab “Terima kasih telah menyukai puisi saya, salam kenal juga”.

Dia membalas “saya melihat sampean tadi duduk di depan masjid, mengikat tali sepatu. Saya tak berani menyapa karna belum kenal, sampean juga kan yang menemukan terompah saya?”.

MasyaAllah dalam hatiku. “Dari mana sampean tau, bahwa saya yang menemukan terompah sampean,” tanyaku.

“Saya mengenali tas yang sampean sandang, ketika kejadian itu”

Aku hanya membaca dan tidak membalas pesannya. Rabu demi Rabu, aku rasakan dia sering memperhatikan ku. Sekarang berbanding terbalik dengannya, aku berlagak cuek. Keadaan semua perempuan jual mahal. Malu-malu tapi mau.

Tiba-tiba dia, dia kembali menghubungiku

“Assalamualaikum wr.wb, aku mengagumimu. Sampai-sampai aku berharap jadi teman hidupmu? Jika aku datang ke rumahmu, dan memintamu, maukah kamu jadi istriku?”.

Allahu Akbar, Allah ijabah doaku. Aku menangis membacanya. Bagaimana mana rasanya jika orang yang kita kagumi juga mengagumi kita. Rasa bahagia yang tak tertahankan.

“Jika engkau ingin memintaku, mintalah aku pada Tuhanku. Jika dia meridhoi dalam Istikharahmu. Selanjutnya kau bisa memintaku pada kedua orangtuaku dan apabila mereka merestuimu, maka sudah tidak ada lagi yang menghalangimu untuk bersamaku.”

“Demi Allah, Allah telah meridhoi dalam Istikharahku, segera aku akan silaturrahim ke rumahmu bersama orangtuaku dan memintamu kepada kedua orangtuamu.”

“Aku lemah, aku merindukanmu”.

 

 

Oleh: Malihatun Nikmah (Cerpenis)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *