Dokter Terindikasi Positif Covid-19 di Bangkalan Diancam Sanksi

  • Whatsapp
(KM/FA'IN NADOFATUL M.) NUR HASAN: Ketua Komisi D DPRD Bangkalan

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Dua dokter yang diduga positif covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan cepat menggunakan rapid test, jadi pembahasan khusus di Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan.

Pasalnya, pasangan suami istri itu, masih membuka praktik pemeriksaan kesehatan dan diketahui keluyuran tanpa memperhatikan protokol standar operasional prosedur (SOP) selama karantina mandiri 14 hari.

Bacaan Lainnya

Ketua Komisi D DPRD Bangkalan Nur Hasan meminta kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan untuk memberikan tindakan tegas terhadap dokter yang tinggal di Kecamatan Klampis itu. Sebab, hal itu dinilai menyalahi kode etik sebagai tenaga kesehatan yang sedang dikarantina.

“Kami mengimbau agar segera mengisolasi diri, tapi jika masih melanggar itu. Kami dengan tegas, Komisi D merekomendasikan ke Dinkes untuk diberikan sanksi tegas sesuai peraturan perundang-undangan,” tegasnya.

Menurut Nur Hasan, yang dilakukan dokter dengan inisial nama T itu cukup meresahkan masyarakat Klampis. Karena masih seenaknya pergi ke pasar dan membuka praktik. Padahal saat pemeriksaan rapid test, dicurigai positif Covid-19.

“Tentunya, terkait dengan dokter di Klampis kemarin yang cukup meresahkan masyarakat karena masih keluyuran,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo juga mengaku kecewa dengan tindakan yang dilakukan oleh dokter tersebut. Pihaknya juga berencana menjatuhkan sanksi pada dokter itu.

Mengenai jenis sanksinya, lelaki yang kerap disapa Yoyok ini mengatakan, masih melakukan koordinasi dengan pihak Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Aparatur (BKPSDA) Bangkalan dan Inspektorat maupun pihak-pihak yang terkait.

“Kami akan beri sanksi, tapi bukan kedua dokter itu, salah satunya saja, yang ketahuan masih keluyuran,” terangnya.

Kendati pemeriksaam rapid test bukan merupakan sebagai acuan seseorang dinyatakan positif Covid-19, namun Yoyok menyampaikan, tindakan yang dilakukan dokter tersebut tidak elok, karena sebagai tenaga kesehatan yang berpendidikan memang harus mematuhi protokol yang diserukan oleh pemerintah.

“Dari RSUD Bangkalan sebenarnya sudah memberikan surat agar mengisolasi mandiri selama 14 hari. Kami juga sudah melarang untuk membuka praktik selama hasil swab tenggorokan belum keluar,” tandasnya. (ina/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *