oleh

Double, 421 Guru Madin di Bangkalan Dicoret dari Penerima JPS

KABARMADURA.ID, Bangkalan – Insentif guru ngaji dan madrasah diniyah (madin) yang dialihkan menjadi jaring pengaman sosial (JPS) masih belum dicairkan. Hal itu karena Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan masih melakukan verifikasi data dari Dinas Sosial (Dinsos) setempat.

Kepala Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika mengatakan, dari hasil penyandingan data setidaknya ada 421 guru ngaji dan madin di coret dari daftar penerima (JPS). Alasannya, ratusan guru ngaji dan madin tersebut double counting. Artinya, banyak guru ngaji dan madin sudah menerima bantuan lainnya.

“Dicoret 421 karena terima double,” ujarnya, Rabu (30/9/20).

Dikatakan Bambang (sapaan akrabnya) jumlah keseluruhan guru ngaji dan madin ada 9342 orang. Jadei ketika dikurangi 421, maka tersisa 8.921 orang yang akan mendapatkan JPS. Pencoretan itu, lanjut dia,  juga dimaksudkan agar tidak tumpang tindih dengan bantuan yang lain, semisal bantuan sosial tunai (BST) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Ditambahkan Bambang, untuk pencairan insentif seharusnya sejak April lalu atau memasuki triwulan kedua. Insentif yang berubah JPS ini belum diterima langsung oleh guru ngaji dan madin lantaran proses berubahnya insentif menjadi JPS.

”Jika ditotal sudah 6 bulan guru ngaji dan madin belum menerima insentif. Sejak April hingga September ini. Perbupnya sudah ada, Insya Allah bulan depan Oktober sudah cair semua. Tunggu saja, sabar,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Nur Hasan mengungkapkan, penghapusan penerima JPS memang perlu agar tidak terjadi double bantuan. Dikatakannya, jika hasil konsultasi ke Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan  Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bahwa sekarang ini bukan insentif lagi. Sehingga, ada ketentuan-ketentuannya yakni tidak boleh double dengan bantuan lain.

“Ini memang harus diselektif betul agar tidak double counting dengan bantuan lain,” ungkapnya.

Sebab, katanya, sekarang bukan insentif namanya. Melainkan JPS, dari situlah guru ngaji dan madin yang sudah menerima bantuan lain tidak boleh menerima insenti. Kedepan, dia berharap agar nantinya ketika sudah kembali normal dan tidak lagi terjadi wabah Covid-19, bisa dimasukkan kembali sebagai penerima.

“Yang ditarik dikembalikan sebagaimana perolehan ini selesai, karena mereka statusnya guru ngaji dan madin. Kami akan dorong diakomodir kembali,” pungkasnya. (ina/mam)

Komentar

News Feed