DPM Bantah Madura Tidak Layak Dibangun Tol

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ALI WAFA) BERTEKAD: Ketua Dewan Pembangunan Madura Achmad Zaini saat meminta dukungan kepada Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf.

KABARMADURA.ID | PAMEKASAN-Dewan Pembangunan Madura (DPM) terus menggalakkan dukungan dari semua pihak terhadap pembangunan tol trans Madura. Ketua Dewan Pembangunan Madura H. Achmad Zaini mengaku telah menggalang dukungan banyak pihak, mulai dari para ulama, akademisi dan politisi.

Bahkan, Institut Teknologi Surabaya (ITS) ikut dilibatkan dalam melakukan penelitian terkait pembangunan tol trans Madura. Hasil studi itu menyimpulkan, Madura sangat membutuhkan tol untuk memperlancar segala aktivitas sosial budaya, ekonomi dan pendidikan. Pihaknya membantah adanya studi kelayakan yang menyebut tol Madura tidak layak.

“Bohong kalau ada studi kelayakan yang menyebut tol Madura tidak layak. ITS sudah jelas mengatakan sangat layak,” ucapnya.

Dari hasil pengamatan ITS, Madura membutuhkan jalan tol sepanjang 102 kilometer, membentang dari daratan Bangkalan sampai Kalianget, Sumenep. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun tol Madura diperkirakan Rp22 triliun. Tol Madura disebut akan mengatasi beberapa masalah di antaranya kemacetan.

Dia mengaku telah mendapat dukungan dari rais aam dan ketua umum Pengurus Besar Nahlatul Ulama (PBNU). Bahkan menurutnya, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf siap melanjutkan aspirasi masyarakat Madura kepada presiden. Sebab rais aam dan ketua umum PBNU juga memiliki darah Madura.

“Kiyai Yahya bilang, biar saya yang ngawal ke presiden, tidak perlu rais aam. Rais aam mengatakan, ya sudah cukup pak ketua umum saja yang mengawal,” ucapnya menirukan pembicaraannya dengan rais aam dan ketua umum PBNU.

Zaini menyebut telah berhasil mengumpulkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan dari enam rektor di Madura. Sekitar 150 anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) di seluruh kabupaten di Madura juga ikut membubuhkan tanda tangan. Menurutnya, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk memenuhi aspirasinya.

Sebab, sejumlah daerah di Indonesia telah dibangunkan tol meski masyatrakatnya tidak meminta. Sementara masyarakat Madura saat ini sudah jelas-jelas meminta kepada pemerintah. Bahkan, katanya, seniman Eros Djarot menyebut bahwa Madura lebih istimewa dari Yogyakarta.

“Ini minta kepada nagara. Negara ini kaya. Negara itu punya ribuan triliun. Tidak ada artinya hanya Rp22 triliun itu bagi negara,” tegasnya.

Namun, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pamekasan Taufikurrachman mengaku belum menerima koordinasi baik dari pemerintah pusat maupun dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur perihal pembangunan tol trans Madura. Dia juga mengaku tidak tahu terkait adanya studi kelayakan pembangunan tol trans Madura.

“Saya belum dapat informasi formal, baik itu dari provinsi maupun dari pemerintah pusat. Saya dari Pamekasan belum pernah diundang untuk bicara tentang kelayakan itu,” ucapnya.

Reporter: Ali Wafa

Redaktur: Wawan A. Husna

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *