DPMD Sumenep Sebut Aparatur Belum Pahami Potensi Desa 

  • Whatsapp
(FOTO: KM/DOKUMEN) DESA MANDIRI: Dari 330 desa di Kabupaten Sumenep belum satupun masuk kategori sebagai desa mandiri.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Indeks desa membangun dipastikan mengalami kenaikan per tahunnya, meski tidak signifikan. Hal tersebut diungkapkan, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sumenep, M. Ramli, Selasa (17/11/2020).

Menurutnya, setiap desa utamanya pemerintah desa dan aparatur desa serta masyarakat, saat ini belum memahami atau mengetahui potensi yang bisa dikembangkan. Sehingga kondisi tersebut, berdampak pada capaian IDM.

Bacaan Lainnya

“Tahun ini, tentunya terus bertambah jumlah desa yang masuk kategori maju, meskipun memang tidak sampai ke angka 100 desa, tetapi tambahan itu memang dipacu oleh kinerja bersama,” katanya.

Ramli menjelaskan, tambahan angka untuk kategori maju terus meningkat. Namun, untuk kategori desa mandiri belum ada. Apalagi untuk tahun ini, salah satu kendalanya, mewabahnya Covid-19. Kondisi tersebut, bisa merubah 180 derajat konsep yang direncanakan.

Artinya, perencanaan pengembangan pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan lainnya menjadi tidak maksimal. Meski sebagian padat karya tunai (PKT) tetap terlaksana, namun spesifikasinya tidak sebesar di perencanaan awal.

“Intinya konsep pembangunan baik melalui DD, ADD, dan dana lainnya, dampaknya berimbas pada peningkatan ekonomi, pendidikan yang puncaknya adalah kesejahteraan masyarakat di desa,” jelasnya.

Mantan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumenep itu, menyebutkan sejak tahun 2018 masih nihil desa mandiri, terdapat 17 desa kategori maju, 120 desa berkembang, 175 desa tertinggal dan 18 desa sangat tertinggal.

Sedangkan di tahun 2019, belum ada desa yang masuk kategori mandiri, 19 desa maju, 211 desa berkembang, 100 desa tertinggal, dan tidak ada desa yang masuk kategori sangat tertinggal. Sementara di tahun 2020 desa mandiri masih tetap nihil, 48 desa maju, 282 desa berkembang, tidak ada desa tertinggal dan desa sangat tertinggal.

“Itu saja perkembangannya tahun ini, dan perlu koordinasi serius dari pemerintah desa dan masyarakat, agar  sama-sama memahami kekayaan yang dimiliki desa masing-masing,” pungkasnya. (ara/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *