Drop Out yang Bangkit, Perjalanan Panjang Mohammad Muchlis Solichin Raih Gelar Doktor

Pendidikan154 views

“Akhirnya saya berhenti sendiri, karena nilainya anjlok. Agak terjadi stres, tapi saya bangkit lagi.,”

KABARMADURA.ID | PAMEKASANLika-liku perjalanan pendidikan seseorang berbeda-beda. Hal itu juga dirasakan oleh Profesor Dr. H. Mohammad Muchlis Solichin, M. Ag. Dua belas tahun lamanya dia berjuang untuk meraih gelar profesor. Kini, dia dapat menikmati manis perjuangannya selama ini. Tepat pada Jumat (22/6/223), dia dikukuhkan menjadi Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Islam.

Meraih gelar profesor, bagi pria kelahiran Pamekasan, 15 Februari 1969 itu cukup berdarah-darah. Dua belas tahun dia berjuang. Pahit manis perjuangan, dia rasakan betul di setiap langkah perjalanan menuju pencapaiannya di bidang akademik.

Suami dari Asmaul Husna Khazin itu bercerita, pernah memiliki pengalaman pahit saat menempuh pendidikan, jauh sebelum menyelesaikan kuliah S1 di IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan (sekarang IAIN Madura) dan menyelesaikan S2 di UINSA Surabaya. 

Dia pernah di-drop out dari Universitas Brawijaya (UB) Malang. Saat itu, dia kuliah di sana dan mengambil jurusan Teknik Sipil. Namun jurusan tersebut rupanya tidak dia diminati, sehingga pada semester 3 dia harus keluar dari universitas yang dikenal dengan sebutan kampus biru itu.

“Akhirnya saya berhenti sendiri, karena nilainya anjlok. Agak terjadi stres, tapi saya bangkit lagi. Lalu meneruskan kuliah di IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan pada tahun 1990. Jadi saya 2 tahun lambat kuliah. Itu mungkin masa-masa yang sangat menyulitkan,” paparnya, Senin (26/6/2023).

Putra dari H. Moh. Zain dan HJ. Siti Fadilah itu tidak berlarut terhadap pengalaman buruk yang menimpanya saat di kampus sebelumnya (UB). Dia membuktikan bahwa mampu menjadi yang terbaik di kelas dari setiap semester saat dia kuliah di IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan. 

Setelah lulus dari IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan tahun 1994, di tahun yang sama, ia kemudian mengikuti seleksi pendidikan dosen dengan rentan waktu 9 bulan di Jakarta. Usai pendidikan, dia kemudian mengikuti seleksi menjadi dosen di STAIN Pamekasan (peralihan nama dari IAIN Sunan Ampel Surabaya ke STAIN Pamekasan) pada tahun 1998, pada tahun itulah karirnya sebagai dosen dimulai.

“Hanya sedikit sekali yang lulus untuk ikut pendidikan dosen. Waktu itu, se-Jatim hanya ada 2 orang, termasuk saya sendiri. Kalau se-Indonesia, hanya ada 40 orang. Setelah itu, saya melamar menjadi dosen, dan alhamdulillah diterima,” uraiannya.

Sosok bersahaja yang berdomisili di Jalan Gatot Koco, Kelurahan Kolpajung, Kecamatan Pamekasan itu, baru menuntaskan jenjang pendidikan S2 pada tahun 2001 di IAIN Sunan Ampel Surabaya setelah mendapatkan Beasiswa dari Kementerian Agama (Kemenag) RI.

Perjuangan untuk mendapatkan gelar S2 dan S3 di UIN Sunan Ampel Surabaya, dia jalani dengan penuh dinamika. Sebab, kata dia, setiap akhir pekan dia harus rela bangun pukul 02.00 WIB  (dini hari) untuk naik bus ke Surabaya. Dia mengungkapkan, kadang mendapatkan tumpangan bus, kadang tidak ada, sehingga harus ikut bus mini. 

“Kalau ikut bus mini, harus gonta-ganti bus saat perjalanan. Semuanya harus diperjuangkan untuk mencapai kesuksesan,” katanya.

Diakuinya, dari awal menjadi dosen di STAIN Pamekasan, gelar profesor bagian dari keinginannya. Namun, dia baru menyeriusinya sejak tahun 2017 lalu. Setidaknya, setiap malam selama 3 jam, dia konsisten belajar dan menggali berbagai referensi, baik secara online maupun offline agar berbagai karyanya bisa diterima dan diterbitkan di berbagai jurnal nasional maupun internasional.

“Semuanya tidak instan, jadi biasa ditolak berkali diberbagai penerbitan jurnal. Terkadang bosan, tapi diperbaharui lagi. Ya, dukungan dari civitas akademika juga, bisa menggerakan juga, terimakasih kepada yang sudah mendukung selama ini,” katanya.

Sukses Atas Dukungan Keluarga

(KM/KHOYRUL UMAM SYARIF)
TERUS BERDEDIKASI: Profesor Mohammad Muchlis Solichin ingin terus berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Pencapaian gelar profesor bagi Mohammad Muchlis Solichin tidak lepas dari sentuhan seorang wanita yang bernama Asmaul Husna Khazin. Dia tidak lain adalah istri dari Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Islam itu.

Sejak menikah dengan pria yang kerap disapa Muchlis itu, Asmaul Husna Khaazin mampu menjadi pasangan yang baik dalam mengurus berbagai kebutuhan suaminya dan menjadi ibu yang hebat bagi empat orang anaknya.

Kombinasi dorongan orang tuanya untuk terus belajar dengan rajin dan tekun, dorongan istrinya juga menjadi tambahan semangat Muchlis untuk mewujudkan berbagi impiannya, termasuk meraih gelar profesor.

Sosok yang juga sebagai ketua Yayasan Abdul Adzim Zaini Fadilah Pamekasan itu menyampaikan, dukungan keluarganya sangat penting baginya, utamanya dalam menuntaskan berbagai tugas-tugas yang diembannya. Dia mengungkapkan, jika dalam keluarga sudah harmonis, sakinah, mawaddah, warahmah, maka untuk menyelesaikan berbagai tanggung jawab dalam pekerjaan apapun akan lancar.

“Jadi bagaimana istri saya menyiapkan kebutuhan saya sehari-hari, misalnya menyiapkan sarapan, makan malam dan juga menyiapkan segalanya. Itu sangat berarti, dan istri saya paham bahwa profesi dosen itu tidak semudah yang dibayangkan orang. Jadi, harus inten membaca dan menulis. Istri saya sangat mendukung itu,” paparnya, Senin (26/6/2023).

Baca Juga:  Kepala Disdikbud Pamekasan Pastikan Realisasi DAK Non Fisik Tuntas sebelum Akhir Tahun

Muchlis mengutarakan, untuk urusan dalam rumahnya tangganya, ia saling mengisi dengan istrinya. Bahkan, di sela-sela waktu luangnya, dia mencuci pakaian anak-anak dan istrinya. Artinya, kata dia, komunikasi yang terbuka harus terjalin.

“Jadi, keluarga memang sangat dominan untuk kesuksesan seseorang. Ketika keluarga damai, maka yang lain akan ikut begitu,” ujarnya.

Dia menegaskan, setelah mendapatkan gelar profesor, dia akan terus mendedikasikan dirinya untuk bangsa dan negara. Secara khusus, terhadap dunia pendidikan Islam, di mana dia sangat serius menulis tentang perlindungan kepada guru dan pesantren. “Sebagaimana tugas dosen, mengajar, menulis, dan pengabdian masyarakat. Tiga ranah itu yang akan terus dikonsistenkan,”imbuhnya.

Curriculum Vitae

Nama :  Mohammad Muchlis Solichin

Tempat/Tgl Lahir :  Pamekasan, 15 Februari 1969

Alamat : Jl. Gatot Koco Viiii/5 Kelurahan Kolpajung Pamekasan

Nama Orang Tua :  Ayah  : Drs H. Moh. Zain

Ibu : Hj. Siti Fadilah

Istri : Asmaul Husna Khazin

Anak  

  1. Ahamd Nadif Muhlisin
  2. Tsaqif Fiqhan Muhammad
  3. Hilman Fatih Muhlisin
  4. Hanin Nayla Faizah

Pendidikan   

SDN Jungcangcang VI Tahun 1982

SMPN 1 Pamekasan Tahun 1985

SMAN I Pamekasan Tahun 1988

S1 di IAIN Sunan Ampel Fakultas Tarbiyah Pamekasan 1994

S2 di IAIN Sunan Ampel Surabaya Konsentrasi Pemikiran Islam 2001

S3 ditempuh UIN Sunan Ampel Surabaya Jurusan Dirasat Islamiyah 2011

Karir Struktural

  1. Sekretaris Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) STAIN Pamekasan 2000-2002
  2. Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) STAIN Pamekasan 2004-2008.
  3. Kepala Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan (PPMP) STAIN Pamekasan 2008-2012
  4. Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Pamekasan 2012—2016

Jabatan Fungsional

  1. Asisten Ahli 1998- 2004
  2. Lektor 2004-2-2010
  3. Lektor Kepala 2010-2023
  4. Guru Besar/Professor 2023-sekarang

Jabatan Non Formal

  1. Ketua Yayasan Al Ihsan Pamekasan 2005-2010
  2. Ketua Yayasan Insan Kamil Pamekasan 2012-2017
  3. Ketua Yayasan Abdul Adzim Zaini Fadilah Pamekasan 2020- sekarang
  4. Ketua Takmir Masjid Bustanul Jadid Gurem 2010-2017

Karya Tulis

Baca Juga:  Lima SMPN di Pamekasan Melanggar Permendikbud Ristek

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *