Droping Air Dihentikan, 12 Kecamatan Kembali Krisis Air

  • Whatsapp
KESULITAN: Warga kembali kesulitan mendapatkan air, lantan BPBD Sampang menghentikan bantuan air bersih.

Kabarmadura.id/Sampang-Warga terdampak kekeringan di 67 desa yang tersebar di 12 kecamatan di Sampang, harus ekstra untuk bisa memperoleh air bersih. Pasalnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah  (BPBD) setempat, telah menghentikan bantuan droping air bersih. Padahal, saat ini ribuan warga yang ada di  desa-desa itu tengah mengalami kering kritis.

Adapun jumlah warga di setiap desa yang terdampak kekeringan itu bervariatif, yakni sekitar 200 sampai 400 jiwa. Sementata bantuan droping yang disediakan oleh BPBD setempat hanya tiga tangki per desa dengan total pagu anggaran sekitar Rp51 juta dengan jumlah armada pengangkut air yang sangat terbatas.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah  (BPBD) Kabupaten Sampang menyebut, bantuan droping air bersih ke puluhan desa terdampak kekeringan sudah dihentikan sejak akhir Agustus lalu. Alasan minimnya anggaran bantuan yang hanya senilai Rp51 juta, menjadi kambing hitam penghentian droping air pada warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Saat dikonfirmasi, Kepala BPBD Sampang Anang Djuenaidi mengatakan, bantuan droping air untuk desa terdampak kekeringan sudah selesai. Pihaknya tidak melakukan penambahan bantuan droping, lantaran masih menunggu hasil koordinasi dengan Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Surabaya, untuk memastikan musim kemarau masih berlanjut atau sudah berakhir.

“Kami belum bisa memastikan ada penambahan bantuan droping atau tidak, masih mau koordinasi dengan BMKG, jikalau kemarau masih lama, kemungkinan bantuan droping air ditambah,” kelit Anang Djuenaidi kepada Kabar Madura, Selasa (17/9).

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, sebelum ada hasil koordinasi dengan BMKG dan memastikan kemarau masih berlanjut, sehingga warga di Kabupaten Sampang masih membutuhkan bantuan air bersih, pihaknya belum berencana untuk melakukan penambahan droping air.

Lanjut Anang (sapaan akrabnya), bantuan droping air bersih ke desa-desa kekeringan tersebut berdasarkan skala prioritas. Bantuan diutamakan untuk desa yang sangat membutuhkan dan mendesak ketersediaan air bersih untuk kebutuhan hidup, mengingat ketersedian bantuan yang disiapkan sangat terbatas.

“Saat ini kami belum bisa memastikan menambah bantuan droping air ke desa terdampak,” dalihnya.

Anang menjelaskan, bantuan droping air bersih yang dilakukan selama ini, belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau. Meskipun, setiap hari pihaknya selalu mendistribusikan air bersih sekitar 6-12 tangki ke masing-masing kecamatan, atau dua sampai empat desa yang terjangkau.

Sementara, upaya penanggulangan kekeringan jangka panjang, seperti pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan embung air, hingga kini belum merata ke semua desa rawan kekeringan, kendati bencana kekeringan di Sampang merupakan bencana rutin tahunan.

“Kami kira keberadaan SPAM, embung dan semacamnya ini belum berfungsi maksimal, karena dari tahun ke tahun bencana kekeringan belum teratasi maksimal,” ungkapnya. (sub/pin).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *