oleh

Dua Kabupaten di Madura Titik Fokus Dirjen PPMD Kemendes PDTT

Kabarmadura.id/SUMENEP-Desa di dua kabupaten di Madura, masuk kawasan tertinggal, yakni Sampang dan Bangkalan. Namun Kementerian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) terus mendorong pengembangannya melalui program-programnya.

Salah satunya, Kemendes PDTT menghadirkan konsep dan progran yang bisa terus mendorong guna mempercepat dan akselerasi pemberdayaan masyarakat desa.

Namun di sisi lain, Kemendes PDTT melalui Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dirjen PPMD) tidak mengenal desa maju, desa tertinggal dan lain sebagainya. Semua desa dinilai dari realisasi programnya. Sejauh ini, terdapat 74.957 desa yang menerima dana desa dari 434 kabupaten dan dari 33 provinsi.

“Saya kira, semua desa, baik maju atau tertinggal, statusnya adalah desa, maka program-program akan kami masukkan ke desa-desa tersebut,” jelas Dirjen PPMD Taufiq Madjid saat jadi pembicara seminar nasional di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bahaudin Mudhary (STIEBA) Madura, Sabtu (17/2).

Kendati begitu, dia mengakui ada lima klasifikasi terhadap desa-desa. Antara lain, berupa klasifikasi desa sangat tertinggal, desa tertinggal, desa berkembang, desa maju dan desa mandiri.

“Dalam lima klasifikasi itu, semua desa, termasuk di Madura yang ada di empat kabupaten, semuanya mendapatkan dana desa (DD),” katanya.

Dorongan berupa kebijakan dari Kemendes PDTT untuk terus meningkatkan desa sejauh ini terus diakselerasikan. Namun untuk melangkah, akan dipetakan terlebih dahulu permasalahan yang mengakibatan berstatus menjadi desa tertinggal, menjadi desa berkembang, maju dan seterusnya.

Kemudian dipetakan pula potensi-potensi desa tersebut. Desa di Madura, dilihat dari potensi kemaritiman, pertanian, pariwisata dan lainnya. Sebab desa-desa di Madura, memiliki potensi yang luar biasa. Potensi tersebut, terkadang sama dan ada pula yang berbeda antara satu dan lainnya.

Terdapat empat program prioritas, lanjut Taufiq, pertama, berupa program unggulan kawasan pedesaan. Dari produk unggulan itu, nantinya ada klasterisasi ekonomi yang berbasis unggulan, bisa saja beberapa desa membentuk satu kawasan yang kemudian mengembangkan potensinya secara terintegrasi.

“Termasuk juga potensi pariwisata, itu bisa dijalankan, supaya dibentuk kawasan desa yang terintegrasi dalam kepariwisataan untuk mengembangkan desa,” ujarnya.

Yang kedua adalah program penyediaan air bagi desa yang memiliki pertanian. Lalu ketiga adalah mrmanfaatkan badan usaha milik desa (BUMDes). BUMDes menjadi instrumen penting untuk mendorong pengembangan ekonomi desa.

“Saat ini, sudah ada 48.000 BUMDes dari total 74.957 desa. Di Madura ini, kami harapkan BUMDesnya dimaksimalkan yang berbasis pada potensi yang ada di desa masing-masing. Kami akan bantu dari akses modalnya, manajemen, SDM-nya berupa pelatihan,” paparnya.

Kemudian progran yang keempat adalah dengan dorong sarana olahraga di desa. Hal itu dinilai bisa menyatukan masyarakat desa. Di mana memicu kohesi sosial masyarakat bisa terjaga, termasuk potensi anak muda bisa terjaga dengan adanya sarana olahraga sehingga tidak terjerumus ke dalam ke dalam pergaulan yang salah.

Soal ketepatan sasaran progres dan realisasi DD di Madura, Taufiq mengaku bahwa selama ini tidak ada persoalan.

“Kecuali memang ada beberapa desa yang bermasalah dihukum, sementara yang lain berjalan dengan baik,” katanya.

Ditambahkan, titik konsentrasi penanganan kawasan tertinggal di Madura adalah Kabupaten Bangkalan dan Sampang. Dirjen PPMD Kemendesa PDTT siap mendorong dan terus memberikan akselerasi, supaya berkembang, maju dan bahkan mandiri.

“Supaya sumber daya alam dan sumber daya buatan bisa terkelola dengan baik, itu kami bantu,” pungkasnya. (ong/waw)

Komentar

News Feed