Dua Mantan Kepala Dinas di Bangkalan Mendekam di Jeruji Rutan

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) DITAHAN: Pengusutan kasus tindak pidana korupsi (tipikor) pengadaan kambing etawa di Kabupaten Bangkalan akhirnya tuntas.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN -Kasus tindak pidana korupsi (tipikor) pengadaan kambing etawa menyeret dua kepala dinas ke jeruji besi. Pertama, mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Mulyanto Dahlan dan mantan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Syamsul Arifin. Hal tersebut diungkapkan Kepala Seksi (Kasi)  Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangkalan Putu Arya Wibisana, Rabu (7/7/2021).

Menurutnya, tidak ada tersangka baru dalam kasus tersebut. Saat ini, masih tengah fokus pada kasus yang belum terselesaikan. Selain itu, pengembalian uang yang menjadi kerugian negara sebesar Rp600 juta dari pengadaan kambing tersebut sudah dikembalikan ke kas negara. Saat ini, keduanya ditahan di Rutan Kelas IIB Bangkalan.

Bacaan Lainnya

Pihaknya menuturkan, terpidana yang sudah dieksekusi tidak bisa melakukan pengajuan keringanan penahanan. Sebab, sudah ingkrah. Meski demikian, mereka hanya bisa melakukan pengajuan perpindahan tahanan sesuai domisilinya. “Keduanya sampai sekarang belum ada informasi melakukan pengajuan pindah penahanan. Karena, jika sudah masuk lapas, kami hanya melakukan pengawasan,” ujarnya.

Pria asli kelahiran Bali ini menegaskan, keduanya sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Sehingga, tidak ada persidangan dan kejari sudah menyelesaikan eksekusi penahanannya. Dengan demikian, ijin pindah penahanan merupakan kewenangan Rutan Kelas IIB Bangkalan. “Mereka bisa mendapatkan keringanan jika minta grasi ke Presiden Republik Indonesia (RI),” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Bangkalan Mufakhom mengatakan, hingga saat ini keduanya belum mengajukan perpindahan penahanan. Bahkan, kondisi fisik terpidana kasus korupsi pengadaan kambing etawa baik dan tidak ada keluhan mengenai penahanannya.

“Tidak ada, ini kan konsekuensi setiap orang yang menjalani pidana baik di rutan maupun di lapas, harus mengalami hal yang sama dengan para tahanan atau narapidana yang lainnya. Selama ini saya lihat mereka baik-baik saja dan menjalani dengan sabar dan ikhlas, sepanjang pengamatan saya,” responnya. (ina/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *