Dua Siswi Dikeluarkan lantaran Kesurupan dan Sebut Gurunya Punya ilmu Hitam

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) TIDAK ADIL: Kepala SMAN 1 Batuan mengeluarkan siswanya karena saat kesurupan menyebut gurunya punya ilmu hitam.

KABARMADURA.ID, Sumenep – Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Batuan di jalan Raya Lenteng, Batuan, Sumenep, mengeluarkan dua siswinya lantaran menyebut salah satu guru mempunyai santet. Ucapan itu dilontarkan dua siswi itu saat kesurupan.

Salah wali siswi SMAN 1 Batuan Sumenep Yuyud mengatakan, ucapan siswi yang mengatakan guru mempunyai ilmu hitam, disampaikan dalam keadaan tidak sadar atau pada saat kesurupan.

“Pertama, anak saya yang kesurupan, makhluk halusnya itu bicara bahwa teman anak saya mau dijadikan tumbal selanjutnya,” ucapnya.

Karena ucapan itu disampaikan dalam keadaan kesurupan, dinilai tidak masuk akal jika siswi tersebut harus dikeluarkan.

Dua siswi yang kesurupan itu yakni MN yang merupakan warga Bangkal dan AFT yang tinggal di Jalan Raya Lenteng, Desa Batuan. Keduanya saat ini duduk di kelas MIPA 2.

Yuyud sangat tidak terima atas perlakuan kepala SMAN 1 Batuan tersebut. Sebab, menurutnya, tidak adil dalam memutuskan sesuatu.

“Jika anak saya diberhentikan, maka guru itu harus diberhentikan sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi anaknya memang kesurupan bukan sejak kecil. Tetapi pada saat sekolah di SMAN 1 Batuan Sumenep. Harapannya, anaknya cepat selamat dari asupan setan hitam itu.

“Kami terus berdo’a agar anak saya sembuh,” tukasnya.

Sementara itu, Humas SMAN 1 Sumenep Hermin Irawati mengakui bahwa sudah mengeluarkan surat yang ditujukan kepada siswi tersebut. Dalam surat dengan nomor 421.3/177/101.6.31.5/2020 tersebut, ditulis perihal pengembalian siswa dan bersifat penting serta ditandatangani oleh kepala SMAN 1 Sumenep Salehoddin.

Dalam pertimbangannya, siswa berinsial AFT tersebut menuduh seorang guru di SMAN 1 Sumenep menggunakan sihir. Sehingga terpaksa mengambil tindakan tegas berupa sanksi pengembalian siswa pada orang tua (dikeluarkan dari sekolah) teehitung mulai 10 November 2020.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep Syamsul Arifin mengaku tidak terima atas perlakuan kepala Sekolah SMAN Negeri 1 Batuan. Menurutnya, terkesan terburu-buru mengeluarkan keputusan. Atas peristiwa itu, pihaknya telah memanggil kepala SMAN 1 Batuan.

Namun karena kepala sekolahnya masih di luar kota, pemanggilan itu dihadiri beberapa pejabat SMAN 1 Sumenep, seperti wakil kepala sekolah, koordinator BK dan perwakilan guru. Pemanggilan dilakukan pada 11 November 2020 dan hadir pada 12 November 2020.

Menurutnya, keputusan kepala SMAN 1 Batuan itu harus dimusyawarahkan kembali. Bahkan dia menyarankan agar tidak dikeluarkan. Jika tetap harus dikeluarkan, tidak diberhentikan sebelum anak tersebut mendapatkan sekolah baru. Namun jika siswa dan orang tuanya meminta maaf, dimungkinkan dapat sekolah kembali di SMAN 1 Batuan.

Jika siswa dan orangtuanya ingin pindah sekolah, maka harus segera carikan solusi dan dipastikan ada sekolah baru, agar tidak menganggur.

“Sebelum terlambat, ditindaklanjuti lagi,” ujarnya.

Syamsul juga mengungkapkan bahwa surat yang dikeluarkan kepala SMAN 1 Batuan itu sepihak, atau tanpa ada koordinasi pada Cabdin Pendidikan Jatim wilayah Sumenep.

Dia beranggapan bahwa kesurupan merupakan kondisi di luar kesadaran, sehingga ucapan yang muncul tidak terkendali.

“Kami memberi kebijakan bahwa jikalau anak tersebut bisa bersekolah, dengan cara anak dan orang tuanya minta maaf. Kan tidak apa-apa. Jika nganggur, ini kan fatal nantinya,” pungkasnya. (imd/waw)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *