Dua Tahun Lebih Atul Terbaring karena Tak Mampu Berobat

Tak Mampu Berobat
(M. ARIF/KM.ID) BUTUH ULURAN: Anisatul Mutmainnah saat ditemui di RSUD Sumenep, Jumat (10/6/2022).

KABARMADURA.ID | SUMENEP — Namanya, Anisatul Mutmainnah. Perempuan 45 tahun itu sudah dua tahun lebih tidak bisa beraktivitas. Kedua kakinya bengkak, melepuh dan mengeluarkan nanah.

Mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Arab Saudi itu sempat berobat. Namun berhenti karena terkendala biaya.

Perempuan yang akrab disapa Atul itu tinggal di Dusun Guluk-Guluk Tengah, Desa Guluk-Guluk, Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep. Kondisi ekonomi keluarga Atul pas-pasan.

Bacaan Lainnya

Suaminya, hanya seorang petani. Untuk berobat saja, pihak keluarga tidak sanggup. Duit yang dipegang keluarga tidak cukup. Bahkan meski hanya untuk makan sehari-hari.

Biaya sekolah kedua anaknya; di bangku MTs dan MI Annuqayah, juga tersendat. Pihak keluarga berencana meminta izin untuk memberhentikan mereka dari sekolah. Lantaran, membeli buku sekolah saja kesulitan.

Keluarga Atul pun tidak bisa berpikir banyak di tengah beban-beban biaya yang harus ditanggung itu. Mereka merasa tidak menemukan jalan keluar dari banyak hal yang harus ditanggung itu. Termasuk untuk pengobatan Atul.

Ditambah, nama Atul tidak terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sehingga, bila berobat ke rumah sakit, biaya pengobatan dimungkinkan akan membengkak dan pihak keluarga tidak mungkin mampu membayar.

Atul pun bersama keluarganya hanya bisa meratapi dan diam berbaring di rumahnya. Terpaksa menikmati sakitnya. Selama dua tahun setengah.

“Beberapa bulan lalu, Atul sempat dirawat di RSUD Dr. H. Moh. Anwar Sumenep. Selama seminggu. Biaya itu pun hasil sumbangan dari saudara dan tetangga, dan lumayan membantu pengobatannya,” ujar Mahmudah, bibi Atul, saat ditemui di rumahnya, Kamis (9/6/2022).

“Ya, seperti itu kondisi ponakan saya, tidak bisa ke mana-mana, duduk saja tidak tahan lama. Hanya tiduran di kamar, itu pun harus diangkat oleh suaminya,” sambungnya dalam Bahasa Madura.

Mahmudah menambahkan, bahwa keluarga Atul, sejujurnya, untuk biaya makan saja kesulitan. Karena suami Atul, Hibban (47) hanya seorang petani dan pekerja kasar. Penghasilannya bergantung kepada musim panen dan pekerjaan lain yang tidak menentu.

“Tidak ada bantuan apa pun dari pemerintah, karena memang Atul tidak masuk daftar penerima Program Keluarga Harapan (PKH), padahal beberapa bulan sebelum kakinya parah, dia mengajukan diri kepada Pendamping PKH, tapi sampai detik ini tidak terdaftar sebagai penerima,” jelasnya.

Warga sekitar banyak berempati atas kondisi Atul. Empati itu datang salah satunya dari pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep KH. Hanif Hasan. Termasuk dari saudara dan para tetangga dekat Atul.

Empati itu berwujud baik. Pada Sabtu (4/6/2022), Atul dibawa ke RSUD Dr. H. Moh. Anwar untuk menjalani perawatan intensif. Saat itu pula, Atul dibuatkan kartu BPJS. Biaya berobatnya ditanggung pemerintah. Kecuali untuk rontgen tulang betisnya.

Setelah dirontgen, kaki Atul yang membengkak itu didiagnosa terkena infeksi. Berdasarkan keterangan medis, infeksi itu berasal dari luka di salah satu kakinya saat kecelakaan beberapa tahun lalu. Kemudian menular ke kedua kakinya.

“Kami hanya mengandalkan bantuan dari pihak sanak saudara dan tetangga, yang rela sumbangan untuk membantu pengobatan Atul, lain lagi ketika ingin membeli obat resep dokter, perlu pinjam sana sini,” katanya.

Tidak lama menjalani perawatan, Atul pulang pada Sabtu (11/6/2022). Dia memaksa pulang meski kakinya belum sembuh total.

Reporter: KM2
Redaktur: Ongky Arista UA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.