Dua Terdakwa Bakal Paparkan Keterangan

  • Whatsapp
(KM/DOKUMEN) MASIH KETERANGAN: Proses sidang untuk dua terdakwa kasus dugaan korupsi SMPN 2 Ketapang masih mendengarkan keterangan dari terdakwa di PN Tipikor Surabaya pada minggu depan.

Kabarmadura.id/Sampang-Tahapan sidang tindak pidana korupsi (tipikor) di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, untuk dua terdakwa inisial AR dan JR dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB), di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Ketapang masih panjang. Jum’at depan agenda sidang masih akan mendengarkan keterangan terdakwa.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Munarwi mengungkapkan, pada Jum’at lalu, agenda sidang mendengarkan keterangan ahli dari terdakwa.  Lanjut Munarwi, para ahli berpendapat jika perbuatan dua terdakwa AR dan JR itu, masuk kesalahan administrasi saja.

“Tahapan sidang untuk dua terdakwa ini masih lama, Jum’at mendatang masih acaranya mendengarkan keterangan dari dua terdakwa,” ungkapnya, Senin (16/12/2019).

Lebih lanjut dirinya membeberkan, kasus dugaan korupsi SMPN 2 Ketapang itu, menyeret tujuh orang terdakwa, lima diantaranya sudah divonis oleh PN Tipikor Surabaya, yakni terpidana Abd. Aziz selaku pemilik CV. Amor, terpidana Mastur Kiranda selaku peminjam CV. Amor Palapa, Noriman selaku pelaksanaan proyek, Didik Hariyanto dan Sofyan selaku konsultan pengawas.

Lima orang terpidana kasus korupsi SMPN 2 Ketapang tersebut, diputus dengan pidana penjara 1 tahun dan denda Rp50 juta, subsider 1 bulan. Sedangkan untuk dua terdakwa  AR dan JR masih menjalani proses sidang.

Semua terdakwa dituntut selama 1 tahun dan 6 bulan sesuai pasal 3 undang-undang (UU) Korupsi. Namun PN Tipikor menjatuhi vonis kepada lima terpidana selama 1 tahun penjara dan denda Rp50 juta, serta subsider kurungan 1 bulan.

“Tinggal dua terdakwa yang belum diputus,” terangnya.

Sementara itu, kuasa hukum dari terdakwa AR dan JR, Arman Saputra saat dikonfirmasi Kabar Madura, enggan memberikan keterangan. Pihaknya berdalih, semua keterangan nanti akan dituangkan dalam nota pembelaan, karena khawatir timbul persepsi yang berbeda.

“Nanti saja, saya tuangkan dalam pembelaan, kalau saya ngomong sekarang takut timbul persepsi yang berbeda-beda dan sebagainya,” singkatnya. (sub/pin)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *