Dugaan Penggelapan Koperasi PNS Pamekasan Mengerucut ke Lima Nama Pengurus

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) MENUNTUT KEADILAN: Puluhan anggota Koperasi Bhinneka Karya yang merasa dirugikan mendatangi Polres Pamekasan.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN-Bendahara Koperasi Bhinneka Karya, Bambang Irianto mewakili seluruh anggota koperasi yang dirugikan memenuhi panggilan Kepolsian Resor (Polres) Pamekasan, Rabu (8/9/2021). Pemanggilan itu untuk mendapat memberikan keterangan atas laporan dugaan penggelapan uang anggota koperasi.

Bambang datang ke Unit Idik IV Tipikor Satreskrim Polres Pamekasan membawa sejumlah dokumen barang bukti. Kepada penyidik, dia membeberkan barang bukti berupa dokumen neraca keuangan Koperasi Bhinneka Karya dari tahun ke tahun yang telah dipalsukan.

Dalam laporannya, dia dan 400 orang anggota koperasi yang dirugikan menuntut agar pengurus Koperasi Bhinneka Karya bertanggung jawab.

Setidaknya, ada lima orang pengurus yang dilaporkan; antara lain Djatim Makmun selaku ketua Koperasi Bhinneka Karya, Sabahri selaku sekretaris, Nurfai selaku bendahara, Suharto selaku TU Admin Umum dan Azis Susianto selaku pengawas.

Menurutnya, penggelapan uang tersebut telah memiliki bukti yang cukup kuat. Selain dengan dokumen neraca keuangan yang sudah dipalsukan, ratusan korban sudah mengaku dirugikan karena tidak dapat mengambil dana simpanannya.

Dijelaskan Bambang, dalam neraca keuangan yang telah dipalsukan tercatat piutang simpan pinjam (SP) per tanggal 31 Desember mencapai Rp5,4 miliar. Setelah diperiksa, piutang SP yang memiliki bukti sah hanya Rp700 juta lebih.

Bambang menyebut, pengurus telah menggelapkan uang anggota dengan cara mencatut nama anggota dalam catatan pinjaman. Bahkan, salah anggota Bernama Yusuf yang saat ini sudah meninggal dicatut meminjam uang sebesar Rp900 juta, sementara pihak keluraga membantah memiliki tunjangan pinjaman.

“Padahal dalam aturannya, pinjaman itu maksimal dua kali masing-masing Rp10 juta. Jadi kalau lebih dari itu, itu namanya penggelapan,” tegas Bambang.

Tidak hanya itu, salah satu pengurus yang dilaporkan atas nama Suharto juga membuat para anggota kesal. Pasalnya, pada tahun 2019 lalu, Suharto jelas-jelas mengakui bahwa dirinya menggunakan uang koperasi sebesar Rp71 juta lebih untuk keperluan pribadinya. Hingga saat ini belum dikembalikan.

Kabar Madura telah berkali-kali mengonfirmasi Ketua Koperasi Bhinneka Karya, Djatim Makmun, namun hasilnya nihil. (ali/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *