oleh

Dulu Jokowi, Kini RBT

Refleksi 2 tahun kepemimpinan Berbaurdi Kabupaten Pamekasan

Oleh: Khairul Umam

Ketua Fraksi PKB DPRD Kab. Pamekasan

Pasca reformasi, kita menyaksikan adanya perubahan yang signifikan dalam wajah  pemerintahan daerah. Spirit desentralisasi telah membuat sejumlah kepala daerah keluar dari kebiasaan lama, melakukan terobosan-terobosan baru, menciptakan inovasi dan karya besar untuk daerahnya. Buah dari reformasi itu lahir sosok kepala daerah seperti Joko Widodo yang sukses memimpin Solo hingga melenggang menjadi Presiden RI.

Tidak hanya Jokowi, kepala daerah lain juga hadir dengan inovasi-inovasi dan spirit pembangunan yang menghentak publik. Jika di Batang, Jawa Tengah, kita terpukau dengan gaya kepemimpinan Yoyok Rio Sudibyo, di Bandung, Jawa Barat Ridwan Kamil menjadi wajah baru kepemimpinan daerah. Belum lagi Tri Rismaharini yang juga sukses mengubah wajah Surabaya dengan segudang prestasi yang diraih.

Sejalan dengan kepala-kepala daerah itu, Bupati Pamekasan Baddrut Tamam, juga hadir dengan wajah yang tak kalah memukau. Bergandeng dengan wakil bupati Raja’e, pria yang akrab disapa RBT (Ra Baddrut Tamam) ini telah mampu mengubah citra Pamekasan menjadi lebih baik di tingkat regional dan nasional. Terbukri, terobosan, inovasi, spirit baru telah menjadikan Pamekasan menjadi lebih baik, terutama dalam sektor pelayanan publik.

Baddrut Tamam dan Raja’e dilantik menjadi bupati dan wakil bupati Pamekasan pada 22 September 2018. Artinya, terhitung sejak kemarin, dua pasangan pemimpin muda ini telah dua tahun mengabdikan dirinya untuk rakyat Pamekasan. Di usia kepemimpinan yang masih terhitung belia ini pasangan muda ini sudah banyak menorehkan prestasi.

Tentu apa yang dilakukan RBT tidak harus sama peris dengan para kepala daerah lainnya di atas. Sebab tantangan yang dihadapi masing-masing kepala daerah berbeda-beda. Jokowi masyhur dengan gaya kepemimpinan yang merakyat dan sukses melakukan relokasi pedagang kaki lima (PKL) di Solo. Ridwan Kamil fokus pada tata ruang kota dan pelayanan publik karena di awal pemerintahannya memang Bandung terkenal dengan kota macet dan semrawut.

RBT juga punya tantangan tersendiri yang harus diselesaikan sesuai situasi lokal Pamekasan. Di awal pemerintahannya, dia menyadari bahwa pelayanan publik masih menyisakan problem. Keluhan pelayanan yang cenderung birokratif dan lamban dia coba cari solusinya. Kemudian muncul terobosan menjadikan gedung Islamic Center sebagai Mall Pelayanan Publik (MPP). Hasilnya, kini pelayanan publik sudah lebih cepat karena berada di satu atap.

Sektor lain yang dihadapi yakni budaya birokrasi yang kurang sehat. Jual beli jabatan, meski sulit dibuktikan, santer terdengar di pemerintahan masa lalu. RBT kemudian coba meyakinkan para bawahannya bahwa tanpa bayar pun aparatur sipil negara (ASN) bisa naik jabatan asal punya kualifikasi, kompetensi, dan inovasi dalam bekerja. Kini tak ada lagi jual beli jabatan di pemerintahan Pamekasan.

RBT sadar bahwa pemerintahan akan bagus manakala ditopang oleh kerja birokrasi yang bagus. Karena itulah, komitmen menciptakan birokrasi yang bersih dia galakkan. Dalam banyak kesempatan, mantan anggota DPRD Jawa Timur ini sering mengatakan bahwa dirinya sedang “nale’eh tabuk” guna mewujudkan pemerintahan yang bersih dan Pamekasan yang lebih maju.

Steven Cohen dan William Elmicke sebagaimana dikutip Dewi Pitrianti mengemukakan bahwa ada tiga syarat utama terbentuknya inovasi sektor publik. Yakni, budaya organisasi, kepemimpinan dan kemampuan dari birokrasi. Di sinilah, upaya menciptakan reformasi birokrasi menemukan titik relevansinya.

Di sektor ekonomi, RBT melakukan banyak hal. Melalui program Wirausaha Baru (WUB) dia melatih ribuan anak muda Pamekasan untuk menjadi pengusaha-pengusaha sukses. Targetnya, dalam lima tahun kepemimpinannya, akan lahir 10 ribu pengusaha baru dari Kota Gerbang Salam.

Untuk peningkatan kualitas pendidikan juga dilakukan banyak terobosan. Selain memberikan tunjangan kesejahteraan kepada guru ngaji dan madrasah diniyah, Pemerintah Pamekasan juga menggelontorkan beasiswa santri. Harapannya, santri yang terkendala biaya bisa mengenyam pendidikan yang lebih baik.

Pamekasan Call Care (PCC) dengan gerakan satu desa satu mobil SIGAP juga menjadi terobosan baru dalam melayani masyarakat di bidang kesehatan. Program inovatif ini telah mempermudah masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan. Bahkan beberapa daerah di Indonesia tertarik dengan program mobil SIGAP ini.

Sebuah Tantangan

Kerja RBT dan Raja’e memang belum selesai. Keduanya baru dua tahun memimpin Pamekasan. Banyak yang sudah dilakukan untuk mewujudkan Pamekasan Hebat. Tetapi masih banyak tantangan yang harus diselesaikan pada tahun ketiga kepemimpinanya.

Infrastruktur di pedesaan masih belum banyak tersentuh program Pamekasan Hebat sehingga banyak keluhan masyarakat karena akses masyarakat menjadi terhambat. Termasuk di sektor pertanian masih harus diperhatikan, baik petani garam tembakan atau lainnya. Pada sektor peternakan, karena masyarakat kita mayoritas petani dan peternak, ke depan harus ada perhatian khusus. Dengan kebijakan yang sederhana tetapi menyentuh dan terealisasi dengan baik.

Jika tantangan-tantangan itu terjawab, maka Pamekasan Hebat akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Pun pada saat yang bersamaan, kepemimpinan RBT akan menjadi role model kepala daerah di Indonesia. Jika Jokowi sukses dengan gaya merakyatnya di Kota Solo, kita berharap RBT juga bisa meraihnya dengan gaya Smart di Pamekasan. Dan keduanya akan dicatat oleh sejarah karena telah mampu menciptakan perubahan besar dalam kepemimpinan daerah.

Selamat berkhidmat dan berjuang untuk Pamekasan Hebat…!!!

Komentar

News Feed