Edhi Setiawan Berpulang, Budayawan Kehilangan Sastrawan Madura

  • Whatsapp
BERDUKA : Edhi Setiawan (semasa hidup) bersama Ibnu Hajar di Rumah Sakit Dr. H. Moh. Anwar Sumenep Jl. Dr. Cipto No. 42 Sumenep. 

Kabarmadura.id/Sumenep-Kabar duka datang dari Sastrawan Sumenep Edhi Setiawan. Sastrawan tersohor asal Pulau Madura itu berpulang pada Rabu (16/10) sekitar pukul 10.55 WIB kemarin. Tak pelak, kepergian budayawan sekaligus seniman fotografer handal itu, membuat budayawan dan politisi merasa kehilangan figur sastrawan Madura tersebut.

Hal itu diakui oleh sastrawan sekaligus budayawan asal Kabupaten Sumenep lainnya Ibnu Hajar. Dirinya mengaku merasa sangat kehilangan sosok sastrawan keturunan Cina yang begitu cinta akan budaya lokal Sumenep itu.

“Dia sangat Madura asli, setiap seorang wartawan dan tokoh mampir ke Sumenep seakan merasa wajib untuk memetik ilmunya,” katanya, Rabu (16/10)

Ibnu Hajar menjelaskan, Edhi Setiawan tidak hanya sahabat atau teman diskusi saja. Tetapi juga seorang guru besar bagi para pegiat dan pecinta kebudayaan di Madura. Meski merupakan keturunan Cina, Edhi Setiawan dikenal lebih memihak pada nilai-nilai dan budi kearifan masyarakat di Sumenep.

Ibnu Hajar menceritakan, pada tahun 1974, Edhi Setiawan mulai berani berkecimpung di dunia kesenian dan kebudayaan Sumenep. Keilmuannya pun tidak diragukan lagi, bahkan keberadaannya sangat diperhitungkan dalam kancah kesenian dan kebudayaan di Madura.

“Itu yang membuat masyarakat bangga akan sosok beliau,” tuturnya.

Menurutnya, Edhi Setiawan memang memiliki trah keluarga berkebangsaan China. Meski lahir dan besar di tanah Sumenep 73 tahun lalu, dirinya masih tercatat sebagai keturunan ke-8 dari leluhur yang asli daratan Cina. Mereka datang ke pulau Madura sekitar abad ke-17 Masehi, dalam peralihan dinasti Ming dan Ching.

Walaupun keturunan Cina, tidak lantas membuat Edhi Setiawan enggan dan membenci kesenian serta kebudayaan lokal Madura. Dedikasinya di bidang kebudayaan bahkan mendapat perhatian dari tokoh nasional pada 29 Desember 1993. Itu dibuktikan saat dirinya mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden Suharto atas Jasa Pengabdian dan Jasa Kepeloporan berkat reportasenya terhadap budaya lokal Sumenep.

Tak hanya itu, bukti kreativitas dan kecintaan Edhi Setiawan terhadap kesenian dan kebudayaan Madura, dituangkan dalam bentuk ukiran asli Madura sekitar tahun 1980. Selanjutnya, ia juga menelusuri kesenian Topeng Dalang Madura dan kesenian lainnya.

“Itulah sebagian kelebihan sosok Edhi Setiawan. Saya ucapkan Bela sungkawa dan do a akan tetap saya lakukan dan terus mendoakan beliau ,” paparnya.

Hal senada juga disampaikan salah seorang politisi Sumenep, Abdul Hamid Ali Munir. Dirinya mengaku begitu sangat kehilangan sosok Edhi Setiawan. Sebab, selama ini almarhum sebagai salah seorang yang aktif merawat kebudayaan di Sumenep, terutama di bidang kesenian.

“Do’a kami senantiasa untuk Edhi Setiawan. Semoga tenang di alam sana,” tukasnya. (imd/pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *